Semuanya indah, sungguh indah menjadikanku berarti.
~Sebuah masa tentang seorang anak bernama Lintong Simaremare.
Pada hari Rabu, tanggal 14 Februari 1973 seorang bayi laki-laki bermata sipit dilahirkan oleh seorang ibu yang luar biasa di Pasar Baru, kecamatan Lintongnihuta. Anak itu adalah anak ke 12 yang dilahirkan oleh seorang ibu mulia, Maulina Sinambela dengan cara normal yang didampingi seorang suami bernama St. Pilian Simaremare (Alm). Anak itu adalah anak pertama yang dilahirkan di Pasar Baru, dimana sebelumnya kedua orangtuanya tinggal di desa Parulohan dan pindah ke Pasar Baru. Hal itu pulalah yang membuat anak bayi mungil itu diberi nama Lintong dengan mengambil nama tempat kelahirannya.
Pada masa tahun 1973 – 1985, anak ini belajar dan dididik dengan keterbatasan yang amat sangat disamping upaya orangtuanya untuk membiayai kakak-kakaknya yang sedang menempuh studi di Medan.
Jelas sekali dalam ingatannya bahwa makan dengan menggunakan daging sebagai lauk hanya bisa dilakukan sekali seminggu, tepatnya setiap hari minggu setelah tiba di rumah menyelesaiakn tugas dalam acara gereja mingguan. Daging yang satu potong itupun akan dibagi untuk kakak-kakaknya, ibunya, dan ayahnya. Ayahnya dengan fasihnya menggunakan jari-jarinya dapat memotong-motong daging itu menjadi lebih kecil-kecil lalu membaginya ke piring-piring kaleng dan piring plastik yang tidak seragam yang berada di atas meja untuk sejumlah kami yang akan makan bersama. Hal itupun berlangsung seperti sebuah kebiasaan, bahkan pada saat dia memiliki dua orang adik yang lahir di Pasar Baru, makan bersama dengan sepotong daging dan semangkok sayur daun ubi masih tetap terjaga. (Miss you Papa )
Ayah selalu memberi kami hiburan yaitu jalan-jalan naik motor Honda CB 100 berlima dengannya dan singgah di warung kopi sekedar menikmati sepotong roti dan teh manis setiap minggu setelah selesai cukur rambut di tukang cukur langganannya. (You are Great Papa, miss you more, RIP ya Pa)
Setelah menamatkan sekolahnya dari SD Negeri 2 Sibuntuon, maka pada tahun 1985, selama satu semester, Lintong mengikuti studi di SMP St Yoseph Lintongnihuta dan pada waktu itu bapak Pakpahan adalah kepala sekolah disana. Namun karena keinginan Lintong yang begitu tinggi dan selalu diutarakannya untuk sekolah di kota, Lintong, anak SMP yang bercita-cita berangkat ke Eropha ketika melihat foto Buthora Situmorang, seorang biduan terkenal asal tanah Batak berfoto di makam Mozart di Austria itu akhirnya dipindahkan oleh kakaknya ke SMP Katolik Tri Sakti Medan pada semester 2. Walaupun Lintong adalah termasuk siswa unggulan di kampungnya Lintongnihuta, namun dia harus menerima kenyataan bahwa untuk semester 2 harus menerima 3 nilai merah dan masuk dalam urutan nilai ke 29 dari 40 siswa di kelasnya. Diam-diam Lintong merasa kesedihan yang teramat sangat, namun kesedihan itu tidak diberitahukan kepada kaka-kakaknya. Satu hal yang dia syukuri bahwa dia naik kelas ke kelas II di SMP yang termasuk vavorit di Medan itu. Karena rasa takut, malu dan marah yang bercampur aduk, Lintong membuat sebuah janji pribadi bahwa semester berikutnya tidak ada lagi nilai merah di rapornya.
Apa yang dia lakukan adalah meningkatkan waktu belajar di rumah dan banyak bertanya kepada guru di sekolahnya ketika dia tidak mengerti tentang sebuah pelajaran yang sedang diterimanaya. Sembari menyadari bahwa dirinya tidak lancar dalam istilah-istilah komunikasi berbahasa Indonesia, (Red : Kecuali bahasa Batak) dalam hatinya dia berkata, “Mendingan aku diketawain karena bertanya daripada malu karena nilai ujianku rendah.” Maka secara berangsur semester I dan semester II kelas 2 bisa dilaluinya dengan semakin meningkat dan membaik dan akhirnya lulus dengan nilai baik dari SMP tersebut serta melanjutkan ke SMA Katolik Tri Sakti.
Apa yang menjadi upaya dan kerja kerasnya mulai menghasilkan, sebab terbukti selama 3 tahun berturut turut, Lintong-pun menjadi juara umum dan dipercayakan sebagai ketua OSIS SMA itu sejak kelas II hingga dia lulus. Kembali ke cerita waktu di kampung, Lintong merasa perlu dana lebih untuk membeli buku bacaan dan alat tulis dengan tidak mengandalkan kemampuan orang tuanya, maka sejak kelas 6 SD sampai satu semester SMP, Lintong berjualan es lilin sehabis sekolah. Setiap pekan (onan/pasar), Lintong berkeliling menjajakan es lilin yang dia tata berdiri di termos es dan menjualnya dengan harga Rp. 25,- untuk mendapatkan keuntungan Rp. 5,- per biji. Teringat waktu itu, ketika hari begitu panas, namun ingin menikmati es, maka dia harus kuasa menunggu terjual 4 es dan menguntungkan Rp. 20,- sebagai pembayaran untuk es yang akan dia makan.
Jika saat itu musim hujan maka Lintong tidak berjualan es tetapi berjualan sabung batangan. Sabun batangan cap telepon adalah sabun yang cukup digemari di kampungnya, maka untuk meningkatkan minat pembeli, Lintong memberikan bonus 2 peniti untuk setiap pembelian dua sabun sehingga bisa dipastikan sabunnya akan lebih laku dibanding teman-temannya yang lain.
Setelah Lintong di Medan mengikuti semseter II SMP, Kakak-kakaknya tidak mengijinkannya melakukan pekerjaan seperti yang dilakukannya di waktu tinggal di Lintongnihuta. Apa yang dilakukan kakaknya adalah mengatur waktu les sehabis jam sekolah setiap hari senin – jumat dan memberikan tanggungjawab untuk mulai belajar instalasi listrik sehingga Lintong sudah mampu melakukan instalasi listrik di dalam termasuk di loteng (Red : atas plafon) rumah ketika dia kelas 2 SMP berkat ajaran kakaknya lulusan Elektro Politeknik USU Medan. Modal kemampuan menginstal jaringan listrik inilah yang Lintong gunakan sebagai modal kemampuan bekerja di proyek-proyek acara panggung sewaktu sekolah SMA.
Belajar dan mengikuti kursus setiap hari menjadi kebiasaan bagi Lintong sejak SMP sampai lulus SMA. Alhasil Lintong-pun berhasil kuliah di Politeknik Elektro USU Medan lalu meninggalkannya satu tahun berikutnya setelah mendapat beasiswa dari TELKOM untuk kuliah di STTTelkom (saat ini namanya ITTelkom) di Bandung dan setelah lulus sejak tahun 1998 sampai sekarang menjadi karyawan TELKOM.
Mengingat masa kuliah, Kebutuhan Lintong sebenarnya tidak tercukupi kuliah di Bandung. Beasiswa uang saku yang diterimanya sekitar Rp. 125.000,- ditambah uang saku dari kakaknya sekitar Rp. 100.000,- per bulan. Keseluruhan dana itu sudah habis pada pertengahan bulan untuk membayar kos, membeli perangkat mandi (sabun, odol) dan makan di warung murah dekat kostnya. Lintong akhirnya bekerja sambil kulaih. Hal yang dilakukannya adalah menyewa sepeda motor temannya untuk menjajakan rental VCD keliling ke desa-desa seputar kampusnya dan dalam beberapa waktu mengajar bimbingan belajar yang dibuatnya bersama temannya. Untuk bimbingan belajar ini sendiri adalah kenangan tersendiri sebab tempat bimbel tidak secara khusus disiapkan namun memanfaatkan tempat kos sehingga pada saat siang, kasur harus disingkirkan lebih dulu agar ruang lebih luas untuk ditempati beberapa bangku yang sebagian juga mereka pinjamn dari bapak kos. Selain itu Lintong juga aktif ikut dalam multi level marketing dan berjualan banyak barang dengan tujuan dapat menambah uang untuk kebutuhannya. Kondisi yang cukup berat ini yang membuatnya menjadi pecinta buku dan bahkan menjadi keranjingan membaca buku-buku dan motivasi dari orang-orang sukses termasuk rutin membaca buku-buku loakan di pinggir jalan Banceu Bandung.
Saat itu Lintong membuat sebuah komitmen tidak akan pulang ke kampung sebelum berhasil. Sehinga Lintong tidak pernah pulang kampung sejak tahun 1993 sampai tahun 1998.
Singkat ceritanya, tahun 1998 adalah awal Lintong memasuki dunia profesional dan menjadi salah satu karyawan TELKOM yang ditempatkan di Purwokerto. Disana Lintong dengan biaya sendiri kuliah akhir pekan di Universitas Jendral Sudirman mengikuti program S2 – Magister Management sembari bekerja pada jam kerja normal di Kantor TELKOM. Lintong juga memiliki beberapa acara di Radio FM untuk rubrik tertentu seperti Marketing Talk dan English Corner dalam live talkshow on air.
Selain kuliah dan bekerja, Lintong juga sebagai ketua serikat karyawan yang beranggotakan sekitar 300 orang karyawan TELKOM se karesidenan Banyumas yang waktu itu berhasil menggagalkan penjualan TELKOM Jawa tengah ke Indosat. Melalui banyak kegiatannya itu pula Lintong mendapat anugerah wira bhakti nugraha dari menteri koperasi Indonesia dan dipanggil ke Jakarta tahun 2001. Disamping itu Lintong waktu itu terpilih sebagai duta wisata karesidenan Banyumas.
Lintong yang lulus S2 dengan IP 3,87 dari Unsoed itu semasa kerja di Purwokerto menggunakan sepeda onthel karena belum mampu membeli kendaraan sebab gajinya sebagian besar harus dia sisihkan untuk kuliahnya dan juga untuk kuliah adiknya yang saat itu sedang kuliah dan sekarang menjadi dokter di Medan disamping tanggung jawabnya untuk sumbangan keluarga dan sosial yang kadang kala sangat dibutuhkan.
Prestasi pekerjaannya dan sepak terjangnya di Purwokerto membuat Lintong beberapa kali tampil di TV nasional dalam talkshow terutama SCTV dan MetroTV dan koran nasional, termasuk secara intens melakukan diskusi dengan para elit politik waktu itu seperti Gusdur sebagai Presiden, Megawati sebagai Wapres, Akbar Tanjung sebagai ketua DPR, para Pangdam dan para kepala daerah setingkat Gubernur dan Bupati. Semasa di Purwokerto, dia dua kali diberangkatkan ke Luar negeri dan menikmati tugas ke Singapore yang dibiayai oleh perusahaan. Lalu perusahaan memindahkannya ke Semarang tahun 2002. Prestasi di Semarang juga membuat perusahaan mengirimkannya mengikuti beberapa pendidikan lain ke luar negeri terutama dalam pendidikan khusus ke Italy. Singkat ceritanya, apa yang Lintong impikan di waktu SMP, dia dapat setelah 25 tahun kemudian. Dia hampir tidak percaya berfoto dan bergaya di atas makam Mozart di Austria dengan gaya yang dilakukan Buthora Situmorang, yang dilihatnya di sebuah koran 25 tahun sebelumnya. Selain pendidikan ke beberapa negara di Eropha, yaitu Austria, Italy, Belanda, Jerman, Perancis, Swiss, Lintongpun menikmati pendidikan di beberapa kota di Australia dan Asia.
Setelah bekerja di Semarang, Lintong mendapat tugas baru bekerja di Telkom Jakarta selama 6 tahun, dan setelah itu Lintong meminta pindah agar dekat dengan keluarganya (anak dan istri di Semarang) dan saat ini bekerja lagi di semarang. Sembari bekerja, Lintong mencoba kreatifitas baru sebagai penulis buku. Tahun 2011 buku pertamanya menjadi buku inspirasinya laris di Indonesia berjudul Bread for Friends dan tampil di KickAndyShow (Metro TV) tanggal 3 dan 5 Juni 2011 dan buku keduanyapun menadapat tempat di hati rakyat Indonesia berjudul Pieces of keys at work. Buku Bread for Friends adalah buku yang selama dua tahun ditolak oleh puluhan penerbit dan tidak dihiraukan oleh puluhan penerbit namun menjadi buku best seller 2 bulan setelah diterbitkan.
Lintong merencanakan buku ketiganya berjudul Wisdom on the wall yang saat ini sudah selesai ditulia akan dibuat dalam bentuk e-book dan dipublish gratis untuk sejuta pembaca Indonesia dalam bulan Februari 2012 sebagai persembahan di hari ulang tahunnya.
Cita-citanya saat ini adalah mendirikan beberapa panti asuhan dan membuat yayasan yang akan berkolaborasi dengan banyak orang yang ingin memajukan cara berpikir positif anak bangsa melalui penulisan buku dan social media evangelist.
Mottonya adalah : Hidup yang digerakkan oleh Tuhan akan hidup untuk memuliakan Tuhan dengan cara memberkati karena menyadari telah diberkati lebih dulu.
Lebih jauh tentang inspirasinya dapat dibaca melalui beberapa channel:
Twitter @LintongQuotes dan @bread4indonesia
Blog : www.breadforfriends.wordpress.com
Blog : www.kompasiana.com/bread4friends
FB page : www.facebook.com/breadforfriends
FB Personal : www.facebook.com/bread4friends
VideoChannel : www.youtube.com/user/lintongsimaremare
RadioChannel : www.iradeo.com/breadforfriends
Contact Mail : lintongs@gmail.com
Di akhir tulisan ini, kami mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang bijak telah tersampaikan dalam tulisan ini. Tulisan ini dibuat semata-mata untuk memberikan inspirasi, minimal sebuah perspektif tentang makna sebuah perjalanan yang mungkin saja berarti bagi kita, bagi keponakan kita atau bagi anak kita tentang apa yang disebut dengan ‘Perjuangan’. Semuanya itu indah, sehingga kami berani mengungkapkannya. Jika artikel sederhana ini bermanfaat, silahkan dibagikan ke orang-orang yang kita cintai.
Semoga apa yang dirimu rencanakan menjadi bagian dari rencana TUHAN untukmu dan misimu,sunnguh Mulia hati mu Lintong simaremare…,Diberkatilah dirimu bersama semua cita2,impian,dan rancangan rencana besarmu,Dimuliakanlah ALLAH atas semua RahmadNYA yang telah memilih dirimu untuk menciptakan manusia2 bijak yang cerdas lewat karya2 tulisan tanganmu,Lintongnihuta adalah tempatku dilahirkan dan dibesarkan sampai tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas,Jayalah Karyamu dan Harum lah nama mu,engkau yang selalu rendah hati……:)