Menara dan lonceng gereja
Oleh : *Lintong Simaremare
Saya sedang teringat dengan sebuah masa kecil, tepatnya di tahun 1984 atau 26 tahun silam di Lintongnihuta – sebuah kampung tempat saya menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar. Ayah saya – P Simaremare (almarhum) selanjutnya saya sebut Among adalah seorang vorangeer (istilah dari bahasa Belanda yang diberikan untuk seorang pengurus jemaat salah satu gereja HKBP).
Salah satu tugas yang diberikannya kala itu kepada saya yang masih berumur 11 tahun adalah membunyikan lonceng gereja pada saat ada warga jemaat yang meninggal dunia. Tugas itu biasanya dia berikan kala kondisi kesehatannya tidak begitu baik terutama di usianya yg sudah 60 tahun waktu itu yang tidak selalu fit naik tangga ke ketinggian tertentu. Lonceng itu berada di puncak menara sekitar 25 meter tingginya. Hal yang menantang dalam melakukan tugas itu adalah membunyikan lonceng dari posisi berada persis di bawahnya sambil berpegangan pada tangga.
Mengingat posisi yang cukup sulit, dimana saya harus berada berdiri di salah satu anak tangga – yang terbuat dari bambu di lantai ke-tiga ketinggian 20 meter lebih, maka saya harus memastikan tubuh ini terikat dengan tangga dengan menggunakan tali atau ikat pingging dewasa yang masih punya ujung sisanya untuk diikatkan dengan salah satu tiang tangga bambu itu.
Alasan setiap orang yang bertugas memukul gong harus langsung berada di bawahnya karena bunyi yang dihasilkan harus mallus (istilah yang digunakan orang Batak untuk suara gong yang setiap bunyinya dibiarkan sampai modulasinya habis untuk setiap pukulan baru dilanjutkan dengan pukulan berikutnya), artinya lonceng tidak dibunyikan sebelum bunyi dari hasil pukulan sebelumnya habis sampai tak terdengar. Setiap pukulan rata-rata menghasilkan 15-20 detik sampai modulasinya habis.
Bunyi mallus berbeda dengan bunyi yang biasa terdengar – yang terdengar cepat, beruntun, kontinu dan cukup dibunyikan dengan mudah tanpa harus naik ke puncak menara tempat lonceng itu berada, yaitu cukup berdiri di lantai dasar dan menarik 2 tali bergantian yang terhubung dari lonceng ke lantai dasar dimana kita bisa menjangkau tali itu. Bunyi mallus hanya bisa dihasilkan sesaat setelah lonceng kita pukul lalu pemukulnya kita tahan di tengah agar tidak menyentuh sisi lonceng yang bisa mengganggu modulasi lonceng pada saat sedang berbunyi.
Lebih jauh bicara tentang bunyi mallus lonceng ini perlu saya ceritakan bahwa jumlah pukulan yang harus dilakukan adalah sebanyak umur orang yang meninggal. Misalnya kalau usia jemaat yang meninggal adalah 70 tahun maka bunyi mallus yang harus dihasilkan adalah 70 kali. Di kampung saya kebetulan banyak orang tua yang memiliki umur lebih dari 70 tahun. Orang yang meninggal dunia di kampung saya ketika itu adalah orang-orang yang sudah lanjut usia.
Bunyi mallus dengan hitungan yang banyak akan memberikan pertanda kepada orang-orang yang ada di sawah, di kebun dan di pasar desa bahwa ada orang lanjut usia yang sedang meninggal. Sedangkan kalau bunyi mallus hanya beberapa saja, maka biasanya akan mengusik keingin-tahuan lebih jauh dari orang-orang tentang siapa yang meninggal di usia muda yang diberitakan oleh bunyi mallus tersebut.
Untuk masalah jumlah bunyi mallus ini, Among pasti menghitungnya di tempatnya berada tatkala dia menyuruh salah satu dari anaknya melakukan tugas itu. Saya pernah menghadapi amarah yang begitu besar darinya karena kelebihan melakukan pukulan dari yang semestinya.
Saat malam-malam tiba di rumah, Among menyambut saya dengan bentakan dan pukulan karena telah lalai melakukan tugas. Waktu itu saya berpikir bahwa saya sedang berhadapan dengan seorang ayah yang tidak menghargai dan tidak mau tahu dengan seorang anak SD yang pergi dan pulang jalan kaki sejauh 3 kilometer, yang memukul lonceng sembari berdiri gemetaran di sebuah anak tangga di ketinggian 20 meter lebih. Akhirnya pada hari berikutnya dia menyadarkan saya bahwa tugas yang sangat penting harus dilakukan tanpa kesalahan sedikitpun.
Pada kesempatan berikutnya saya mendapat tugas itu kembali karena salah satu dari jemaat gereja kami meninggal dunia. Sebelumnya saya memastikan kepada Among tentang berapa tepatnya umur jemat yang meninggal dunia lalu saya bersiap-siap melakukan perjalanan 1,5 KM jalan kaki dari rumah ke gereja.
Sebelum keluar melewati pintu depan rumah, saya minta ijin ke dapur sebentar dan mengatakan kepada Among bahwa ada sesuatu yang saya butuhkan sebelum berangkat ke gereja. Saya berlari ke dapur menuju daerah tungku masak dan berbicara ke Inong (panggilan kami ke ibu), ”Inong, ijinkan saya bawa korek apinya untuk saya bawa ke gereja sebagai hitungan pukulan ke lonceng.” Akhirnya itulah cara terbaik yang saya tahu waktu itu dengan memanfaatkan potongan korek api yang saya selipkan di kedua bibir saya. Setiap satu pukulan maka begitu pula saya lepas batang korek api itu satu persatu.
Setelah melakukan tugas penting itu, saya pulang ke rumah dan Among menyambut saya dengan mengajak saya minum teh manis hangat sembari menikmati roti kering yang terkadang dia beli sendiri dengan ngutang di warung sebelah.
In Memoriam 3 years Among – P Simaremare, Papa, I love you so much with all your way you taught me.
A Cup of Tea:
“Tidak mudah memahami esensi kehidupan jika kita tidak mengalaminya.”

Gabe tubu do sihol tu hutanta bah.
Kisah yang selalu membawa kenangan dan menjadi ingatan bagi kita.
Kenangan yang indah, tentu ini membentuk kepribadian yang dewasa. GBU
horas…jadi mengingatkan kembali tetntang kenangan akan ompung saya J Simanjuntak, yang juga mantan parhanger di gereja hkbp lintong ni huta….walau ompung telah pergi, namun masih terlihat akan hasil karya pelayanannya kepada Tuhan khususnya desa Sigompul….sweet stories….thanks God bless