BFF#112 KOPI ATENG dan TUGAS KELILING

KOPI ATENG dan TUGAS KELILING

Teringat masa itu…

Sejak lahir dan diberi nama LINTONG sampai lulus es-em-pe, saya tinggal di Sibuntuon – ibukota kecamatan Lintongnihuta – Tapanuli Utara (sekarang Humbang Hasundutan). Lintongnihuta yang jaraknya sekitar 300KM dari Medan, kini semakin heboh (istilah lain dari bergairah :-) ) dan masih tetap didongkrak oleh perkebunan rakyat yang ditanami dengan kopi, jeruk, ubi jalar, kol dan hutan pinus. Sedangkan persawahan ditanami padi lokal pola satu kali tanam. Tanah-tanah yang ditumbuhi lalang dipergunakan sebagai area makanan ternak kerbau. Kecamatan Lintongnihuta terkenal dengan kopi ateng atau lebih terpopuler disebut dengan “Lintong coffee” yang banyak diekspor keluar terutama ke China.

Orang-orang di kampung kami senang memberikan nama julukan terhadap orang-orang ataupun produk yang ada disana. Saya masih ingat ada julukan si Lapa Hoda (orang tersebut berprofesi sebagai penjagal kuda); si Par Cas (karena usaha orang itu nge-cas baterei – maklum sampai saya lulus SMP belum menikmati PLN masuk desa kami, jadi kalau mau nonton TV harus pake baterei yang dicas setiap minggunya ke pasar). Yang pasti nama julukan itu akan lebih dikenal daripada nama atau marga seseorang disana.

Begitu juga julukan untuk Lintong Coffee – komoditi yang saat ini banyak diekspor ke China. Kopi itu disebut kopi ateng si garar utang. Disebut kopi ateng karena tingginya yang tidak seberapa — hanya sekitar 1 Meter. Sedangkan si garar utang artinya adalah pembayar utang, karena umumnya orang sana berani meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan terutama keperluan anak sekolah di perantauan. Sedangkan untuk membayar hutangnya kelak direncanakan dari biji kopi itu karena umur berbuahnya relatif cepat tidak seperti kopi pada umumnya.

Teringat ke masa tahun 1985-1987 silam, cerita masa kecil yang ada hubungannya dengan kopi, ibu saya selalu memastikan kami anak-anaknya setiap subuh untuk berkeliling sekitar desa. Berkeliling membawa sebuah sekop kecil dan keranjang yang bentuknya seperti bakul jamu. Ada satu kebanggaan tersendiri kalau keranjangku penuh setelah melakukan tugas keliling. Untuk memenuhi keranjang itu, saya bersama-sama anak kampung berlomba-lomba. Tatkala di kejauhan sana ada kerbau yang mengangkat ekornya, maka siapa yang lebih dulu meneriakkan ‘i na di au’ (itu milikku), artinya dia berhak atas kotoran kerbau yang akan segera keluar dari perut kerbau itu. Kemudian dengan bangganya akan dimasukkan ke keranjang bawaannya. Demikian juga dengan kotoran babi yang pasti kami cari untuk memenuhi keranjang.

Mencari kotoran kerbau dan babi waktu itu memang tidak susah, karena di kampungku kedua jenis hewan itu masih bebas berkeliaran dan setiap pemilik tidak akan keliru mengandangkan kerbau dan babinya di sore hari. Setelah keranjang itu penuh maka kami akan berjalan sekitar 1-2 KM menuju kebun kopi dan ubi untuk mengantarkan isi keranjang itu dan menimbunnya di satu titik di kebun kami masing-masing sehingga siang harinya ibu saya akan membagi-bagikan kotoran merata ke setiap pangkal tanamannya disana.

Saatnya kembali ke rumah, berjalan, berlari sambil bernyanyi dengan membawa kembali sekop dan keranjang kosong. Mmmm… rupanya ibu sudah menyiapkan nasi di priuk, ubi rebus dan purik (air tajin) untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Jika harinya adalah Senin (satu-satunya hari ada pasar di kampung saya), rasanya pengen pulang dan berlari agar cepat sampai di rumah. Mengapa tidak? karena biasanya ibu membeli daging dan ikan laut atau lele untuk mengganti menu ikan asin yang sudah monoton selama 6 hari sebelumnya. Dan pulang dari pasar ibu akan membawa kacang dan popcorn (ala buatan kampung) untuk cemilan kami bercanda di rumah.

Upss… saatnya ganti pakaian, karena akan ikut ibu kembali ke pasar. Di gerbang pasar kami berpisah mengambil arah yang berbeda karena ibu akan menjajakan jualannya- beberapa kaleng biji kopi, sedangkan aku akan mulai berkeliling di dalam pasar mengasong sabun batangan cap telepon dan es lilin di termos. Untungnya lumayan buat jajan dan ditabungkan ke ibu untuk dipake buat beli buku tulis yang akan segera habis dan pensil kalau sudah pendek.

INDAH bukan? :-)

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan