BFF#110 – Pengakuan

PENGAKUAN

By : Lint Maresa

Pengakuan sangatlah penting asal jangan diartikan sebagai upaya memuaskan ego atau membuktikan bahwa manusia cenderung ego sentris. Pengakuan adalah upaya menempatkan pihak lain secara proporsional di ordinat yang tepat atas pencapaian-pencapaiannya. Jangankan pihak lain, kitapun selalu ingin diakui atas berbagai hal yang kita capai sebagai bukti eksistensi dan terlaksananya tanggungjawab pribadi kita untuk memberikan yang terbaik sebagai karya kita di bumi ini. Pengakuan juga sebagai ajang membentuk kedewasaan atau kematangan berpikir dan kematangan mengelola hati dalam menghadapai orang lain.

Baru-baru ini, suatu prestasi gemilang diraih oleh sebuah team sepakbola yang sama sekali tidak diunggulkan sebelumnya dalam menghadapai lawannya. Sebuah team sepak bola terbaik di dunia takluk – bahkan bertekuk lutut atau kalah mutlak atas lawannya. Kejadian itu berupa pertandingan final Liga Champions antara Manchester United FC (MU) dan Barcelona FC (Barca)  yang menghasilkan score 2-0 hingga mengantarkan piala yang prestisius itu ke tangan Barca.

Hampir semua pihak terkejut, mulai dari pengamat sepak bola, para manajer club bola, para fans kedua team, bahkan para paranormal terperanjak dengan hasil mutlak yang mengalahkan sang juara bertahan tanpa kesulitan. Sejujurnya saya mengangkat contoh ini bukan karena saya  memahami betul tentang bagaimana permainan dan bisnis sepak bola, karena sejak kelas satu esempe saya sudah mengalihkan olah raga saya dari sepak bola menjadi renang yang tetap menjadi olah raga faforit saya sejak saya mengalami patah tangan di pergelangan kiri yang membutuhkan peawatan khusus 2 bulan karena dimana saya adalah penyerang dalam pertandingan antar kecamatan waktu itu. :-)

Namun pertandingan final MU vs Barca itu menurut saya sangat baik kita pelajari dari sudut psikologi menyangkut mental dan sikap orang-orang menyangkut hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya.

Dari sisi mengakui kekalahan, kita bisa belajar dari Michael Carrick – gelandang MU. Dia mengatakan, “Kami memulainya dengan sangat baik dan membuat beberapa peluang…, namaun merka adalah sebuah team yang memiliki pemain-pemain bagus, mereka pantas menang, kami tidak bisa mendebatnya.”

Senada dengan M Carrick, Salah satu pemain mahal  – sang striker Wayne Rooney mengatakan, “Ini adalah kekecewaan besar bagi kami tapi Barcelona adalah team yang lebih baik.”

Sedangkan disisi menyikapi kemenangan, kita bisa belajar dari Gerrard Pique – sang Bek Barcelona. Dia dengan tegas mengatakan, “Sebelumnya saya mohon maaf kepada para sahabat saya – pemain pemain MU, Saya melakukan kewajiban saya untuk berusaha meraih mimpi. Gelar ini sangat spesial karena saya mengukir sejarah bersama tim impian masa kecil dan kami layak memenanginya.

Demikian juga dengan pernyataan Striker Barcelona – Thierry Henry, “…lima menit terasa seperti waktu terlama dalah hidupku. Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi saat itu kami bertanding melawan team terbaik di muka bumi.” 

Pertandingan ini telah mengajarkan kita tentang bagaimana mengakui kekalahan dan menyikapi kemenangan. Pengakuan dan sikap para pemain tersebut kalau kita sadari adalah unsur penting dari kedewasaan dan kematangan yang dapat kita praktekkan dalam perjuangan hidup yang selalu mengiringi kita dalam keseharian. Kita sering menganggap harus memiliki segala supremasi karena menyadari bahwa kita adalah orang hebat yang mampu melakukan banyak hal;  Kita sering merasa mampu membeli segalanya karena memiliki banyak uang; Kita sering menganggap bahwa posisi terbaik selalu harus menjadi milik kita; Kita tidak mudah memandang bahwa pihak lain juga belajar menjadi seperti kita pernah merasakan arti sebuah prestasi. Semuanya itu tentunya akan berbeda jika kita memiliki kesadaran bahwa yang kita miliki hanyalah kemampuan melakukan yang terbaik dari diri kita, bukan kemampuan mengalahkan.

Kemampuan melakukan yang terbaik dan kemampuan mengalahkan sama sekali berbeda. Kemampuan melakukan yang terbaik adalah tanggung jawab setiap pribadi kita sekaligus merupakan tindakan mulia atas jati diri kita menjadi berarti. Sedangkan kemampuan mengalahkan akan cenderung masuk ke pusat ego kita yang disebut dengan tindakan egosentris yang tidak akan membuat dunia dan penciptanya tersenyum.

Jika kita memenangkan pertandingan karena telah mempersembahkan hal terbaik dari diri kita, maka kemenangan itu adalah bonus yang menambah kebahagiaan kita. Sedangkan jika kita harus kalah dalam satu pertandingan maka sebenarnya suka cita kita sudah penuh dan kita tetap termasuk sebagai pemenang.

Salam,

www.bread4friends.wordpress.com

Bread4friends inspires you from every simple things in daily life.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan