Teropong
Oleh : *Lintong Simaremare
Sejujurnya saya merasa ada konflik dalam diri saya setiap dihadapkan kepada permintaan anak saya - Kiyosaki untuk membelikannya sebuah mainan. Konflik yang terjadi seputar keinginan untuk membelikannya mainan dengan kualitas terbaik - yang harganya mahal atau cukup membelikan mainan murah sekedarnya. Pengalaman saya membuktikan bahwa hampir semua mainannya – mahal ataupun murah sudah berantakan pada hari kedua. Yah… mungkin hampir semua anak seusia 3-4 tahunan melakukan proses bembelajaran / uji rasa penasaran dengan membongkar mainannya tanpa memikirkan konsekuensi apapun. J
Pekan lalu, di suatu mal di Semarang, Kiyo kembali meminta sebuah mainan – sebuah teropong bercorak loreng yang dia katakan seperti teropong milik tentara di film yang mungkin kebetulan pernah dia perhatikan. Saya mencari akal untuk membujuknya mencari barang yang sama namun bisa dibeli dengan harga yang jauh lebih murah. Akhirnya saya bawa dia ke toko yang barang-barangnya rata-rata sepuluh ribuan. Akhirnya mainan itupun menjadi miliknya.
Kiyosaki – yang pada saat ini menggunakan celana dan kaos Army, memainkan alat itu dengan mengangkat benda itu dengan menggunakan kedua tangannya dan melekatkan kepada kedua matanya ibarat seorang serdadu yang mengintai kedatangan iringan tank menelusuri jalan sempit di lereng gunung.
Setelah beberapa saat dia sibuk memutar-mutar bulatan bergerigi diantara kedua lensanya, tiba-tiba dia berhenti dan menyerahkan teropong itu ke saya. Dia bilang, ”Pi, saya tidak mau teropong ini lagi. Tidak usah pakai teropong ini, Kiyo bisa melihat jauh kok pi”.
Awalnya saya tidak memahami apa maksud ucapannya itu, sehingga saya tertantang mencoba menggunakan benda itu. Namun setelah saya gunakan, saya tidak mendapatkan masalah apa-apa dengan alat-mainan yang dia punya itu. Lalu saya katakan, ”Kiyo.. teropong ini bagus kok, mengapa Kiyo tidak menggunakannya lagi sayang?, Coba lagi deh”. Lalu Kiyosakipun mencobanya kembali dan upss…. ternyata dia menggunakan teropongnya terbalik. Kemudian, saya mencoba meminta kembali teropongnya dan mengajari cara yang benar menggunakannya dan akhirnya kamipun tertawa lepas bersama.
Begitu juga dalam memandang hidup ini. Masalah menggunakan teropong ini adalah sama halnya dengan masalah seseorang yang memandang sesuatu yang luas menjadi kelihatan sempit dikala seseorang salah menggunakan mata hati dan pikirannya dalam memandang sesuatu. Kita tidak harus mengalami semua pengalaman kehidupan untuk bisa memandang luas segala fenomena hidup yang terjadi, namun kita dapat menggunakan fokus dan lensa pembesar mata pikiran kita dengan benar.
Pengalaman hidup kita yang terbatas bisa menjadi wawasan yang tidak terbatas jika kita membuka mata dan melepaskan pandangan kita kepada samudera kehidupan yang luas ini. Bukan justru sebaliknya kehidupan yang luas ini kita pandang menjadi sempit karena kita salah dan terbalik melihatnya (terbalik menggunakan teropong). Dengan menggunakan teropong mata hati dan pikiran kita, kita mampu melihat bintang-bintang lebih jelas ibarat peluang-peluang keberhasilan yang banyak bertebaran dimana-mana, melihat panorama masa depan yang indah di depan sana, mendekatkan impian kita untuk mampu diraih tangan sebatas pandangan kita. Satu hal lagi, kita membutuhkan orang-orang yang memperbaiki cara pandang kita karena setiap orang harus memperluas pandangannya jika ingin melihat anugerah kehidupan yang tidak terbatas.
Selamat menggunakan teropong kehidupan Anda !
A Cup of TeaÒ :
“Kita harus selalu belajar mengkritisi cara kita memandang kehidupan yang luas ini. Jangan-jangan kita hanya melihat segala sesuatunya sempit karena salah memandang.”