Editor : Lintong Simaremare
Dugem adalah istilah gaul yang berasal dari singkatan dua kata: ‘dunia gemerlap’. Istilah ini menjadi sangat terkenal di Jakarta dan kota besar lain di Indonesia seiring dengan kebutuhan para eksmud (executive muda) untuk menyeimbangkan diri dari tumpukan emosi dan rutinitas pekerjaan seminggu di kantor dan bisnis yang dikelolanya sendiri.
Sebenarnya selain dugem ini, banyak juga komunitas ‘pelepas penat’ yang melakukan hobby lain sebagai penyaluran emosinya. Baik hobby olah raga indoor dan outbound, diantaranya dengan olah raga berburu, rafting, offroad adventure, driving, paint ball, bilyard maupun hobby bernyanyi dengan ber-karaoke di akhir pekan. Namun hobby olah raga dan bernyanyi agak berbeda dengan dugem jika dicermati dari kelanjutan-kelanjutan aktivitas yang biasanya mengikutinya.
Berdugem-ria dengan menikmati suasana diskotik, cafe, bar atau lounge yang menghadirkan musik dengan bit yang kuat, cepat dengan volume yang keras yang merangsang badan ikut ‘shake n movin’ (berdisko) dan sekedar bergoyang senam malam, minum merayakan keberhasilan seminggu. Dugem telah menjadi program rutin banyak orang bahkan mereka telah mengalokasikan dana khusus untuk hal yang mereka sebut ‘memanjakan diri megimbangi penat’ itu.
Nah… kalau hanya sebatas itu, saya pikir masih wajar saja dilakukan. Paling tidak hal itu adalah salah satu wadah mengekspressikan diri atau memberikan penghargaan terhadap diri sendiri tanpa batasan formal dan tanpa embel-embel jabatan atau pangkat yang sering terjadi dalam suasana dan rutinitas kantor dan bisnis.
Namun yang menjadi masalah adalah pada saat sesorang terbawa dan tidak bisa mengendalikan diri dengan banyak hal – yang biasanya menjadi paket lanjutan, yang disadari atau tidak, pasti akan ditawarkan oleh dugem untuk dinikmati selanjutnya.
Jika kita pelajari lebih jauh, orang yang akhirnya ‘rusak’ karena dugem itu akan melalui tahapan mulai dari derajat cobaan rendah sampai paling tinggi – sampai mengorbankan materi – bahkan bangkrut atau bahkan merusak kualitas hidupnya sendiri.
Pada awalnya seorang diajak atau mencoba-coba sendiri masuk ke area dugem ingin mengetahui tawaran tren entertein yang rasanya selalu mengusik rasa penasaran ini. Memasuki ruang dengan kelap-kelip lampu, disambut dengan musik electro & progresif dan dance floor yang dipenuhi orang-orang yang dengan bebasnya menampilkan gaya dan ekspresinya masing masing.
Melihat orang-orang dengan mudahnya mengeluarkan kocek ratusan ribu sampai juta-an membeli minuman untuk diminum sendiri atau untuk menjamu teman hanya untuk sekitar tiga jam adalah pemandangan kedua.
Dalam hal ini tentunya orang-orang yang berdugem ria disini belum tentu berasal dari orang yang mapan secara finansial, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengalami kondisi keuangan yang tidak stabil, hanya saja mau memaksakan diri menggunakan uangnya untuk dugem dibanding kebutuhan lain yang lebih penting.
Arena dugem selalu dihiasi oleh ratusan merk minuman beralkohol tinggi (bisa mencapai 45 %) yang ditata rapi dengan gelas-gelas unik di bawah sinar lampu. Arena biasanya tidak luput dari pemandangan begitu banyak orang-orang yang mulai tidak terkendali oleh dirinya sendiri: Ada pasangan-pasangan (pasangannya atau baru berkenalan saat itu juga) yang dengan tidak segan-segan bercumbu dimabuk nafsu.
Selanjutnya Jika Anda wanita – apalagi yang berperawakan cukup menarik, tidak menutup kemungkinan Anda akan ditawari minuman dan diminta berkenalan oleh para pria yang ujung-ujung pembicaraannya akan mengarah kepada keinginan berkencan. Tidak sedikit pria yang tidak segan-segan pada awal kenalan menawarkan ajakan ke tempat lain yang lebih menawarkan privasi seperti minum di kamar hotel atau menepi ke tempat yang lebih nyaman baginya untuk ‘hal-hal seputar esek-esek. Sehingga tidak diragukan bahwa istilah ‘one nite stand’ (tidur setelah perkenalan singkat) pun muncullah dari dugem.
Untuk pria yang ‘cukup licik’ dalam hal ini, dia tidak segan-segan baginya untuk melakukan sindikat dengan meminta bartender atau server memasukkan obat perangsang atau sejenisnya ke minuman yang akan diberikan ke wanita-kenalan barunya.
Dalam dugem ada level kenikmatan yang bisa dialami. Tingkatan itu semakin tinggi tentunya semakin menawarkan hal-hal terlarang. Para penikmat dugem akan sulit bertahan lama pada level yang sama dan cenderung ada keinginan mengalami level yang lebih tinggi. Artinya seseorang yang awalnya hanya menikmati musik, semakin lama dan semakin sering berdugem ria, dia tanpa sadar naik level ibarat naik kelas ke penikmat minuman beralkohol agar tetap bisa menikmati musik yang lebih mengasyikkan.
Setelah menikmati minuman beralkohol, dia akan naik level lagi dengan menikmati flirting (menggoda lawan jenis) dan mencari kesempatan berdisko dengan pasangan yang secara fisik ‘agak’ menarik baginya. Level atau jalur lain selanjutnya adalah mulai menikmati drug alias ‘obat’ yang membuat dirinya ‘ON’ di tempat yang hingar bingar itu.
Semuanya ini menjadi ‘peluang bisnis’ bagi para pemilik/pengusaha tempat dugem. Selain menawarkan DJ terkenal dan paket minuman khusus, Cafe yang dikelolanyapun mulai menawarkan ’sexy dancer session’ bahkan ‘full streaptease’ atau ‘topless dance performance’.
Sedangkan bagi pengunjung pria pencari uang di tempat dugem, mereka akan berprofesi sebagai pengedar ‘obat ON’ tadi. Berbeda lagi dengan wanita pencari uang di tempat dugem, mereka akan mencari mangsa dengan menggoda dan merespon pria yang mengajaknya tidur dengan mengisyaratkan tarif tubuh mereka.
Keberadaan ‘wanita-wanita’ tadi menjadi sesuatu yang diharapkan oleh sebagian besar pemilik/pengusaha tempat dugem. Sehingga tidak jarang pengusaha memanfaatkan para ‘wanita-PR’ mengundang teman-teman prianya dengan memaksimalkan sms broadcasting agak bisa lebih mudah menjangkau banyak pria.
Karena mayoritas para lelaki tulen yang datang kesana lebih menikmati jika banyak wanita di dalamnya, maka tidak sedikit pengusaha tempat dugem membuat dua hari khusus sebagai hari ‘ladies nite’ atau gratis masuk plus ‘one shot free drink’ bagi para wanita.
Jika Anda menyadari bahwa dugem memang sangat erat hubungannya dengan minuman beralkohol, wanita (bagi pria) dan pria (bagi wanita), drug – obat adiktif, serta musik penggoyang badan, maka memasuki arena dugem ini seharusnya melengkapi diri dengan pertahanan diri yang kuat agar dugem itu tidak merusak diri Anda.
Apa yang ditawarkan oleh dugem ini baik langsung maupun terselubung hendaknya Anda pahami sebagai orang tua agar mengerti membekali dan membentengi anak-anak kesayangan Anda. Karena tidak menutup kemungkinan suatu saat anak-anak Anda memasuki area itu baik atas keinginan sendiri maupun diajak oleh teman-temannya, sedangkan secara mental dia belum/tidak mampu menolak godaan yang ditawarkan dugem.
Fakta telah menunjukkan begitu banyaknya orang yang akhirnya harus masuk penjara karena drug, bahkan tidak memandang tingkat intelektual. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang telah melalui setiap level yang ditawarkan dugem yang akhirnya masuk ke level tertinggi yaitu level kenikmatan semu dengan menikmati drug – seperti yang dialami beberapa artis Indonesia dan Hollywood. Drug sering menjadi pilihan terakhir karena setiap level sebelumnya tidak lagi menawarkan hal yang istimewa sebagainya awalnya mereka menikmatinya. Pendeknya, hari demi hari ingin dinikmati dengan kenikmatan yang berbeda.
Dengan maksud edukasi tanpa mendiskriditkan industri entertein, semoga tulisan ini bisa memberikan warning dan pencerahan bagi kita semua agar kita bisa memberikan batasan yang jelas dan mengkritisi titik temu tentang apa yang sesungguhnya ingin dinikmati orang yang kita sayangi dan apa yang ditawarkan dunia dugem.
A Cup of TeaÒ:
Hati-hati dengan kesenangan yang Anda rasakan, bisa jadi itu adalah kenikmatan semu yang mendatangkan kesusahan nyata.