Holistik dan sabar ala petani
- Seni mengelola manusia
Editor : Lintong Simaremare
Saya bekerja di Jakarta – kota yang termasuk jalan rayanya paling macet di dunia. Setiap hari pemandangan yang saya dapat adalah kemacetan dimana-mana termasuk hiruk-pikuk yang bisa saya pantau dari lantai-10 sebuah gedung dimana saya menulis tulisan singkat ini.
Namun berbeda dengan hari-hari akhir pekan saya. Saya senang menikmati jalur pantura : daerah Cirebon, Tegal dan Pekalongan adalah tiga kota yang biasanya saya berikan perhatian khusus melayangkan mata melihat hijaunya sawah dan pepohonan di daerah sana. Saya sempat menikmati masih ada aktivitas petani di sawah daerah sana, walaupun tidak terlalu jelas karena saya hanya dapat mengamati mereka dengan memandang tembus kaca jendela sebuah kereta yang selalu saya naiki dalam perjalanan ke semarang.
Saya meyakini bahwa para petani itu telah menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip universal walaupun mereka dihadapkan dengan kebutuhan yang mendesak. Seakan-akan mereka mengetahui betul apa yang sedang dikerjakan dan untuk apa mereka mengerjakannya. Mereka bekerja dengan memahami prinsip dan menjadikan prinsip sebagai landasan kerja bagi mereka. Dan lebih penting lagi, mereka seakan-akan memastikan diri hidup nyata dengan prinsip itu hingga integritas muncul darinya berdasarkan prinsip mereka.
Prinsip yang mereka pahami adalah hukum panen – hukum yang mengajarkan proses melakukan sesuatu sampai mendapatkan hasilnya. Dari hukum panen ini, mungkin kita bisa belajar hal-hal yang luar biasa. Dalam hukum panen, tidak ada yang serba cepat dan mudah. Para petani harus terlibat dalam proses pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan agar tanamannya tetap bagus serta pengawasan agar tanamannya tidak dirusak bahkan dicuri oleh burung dan tikus. Walaupun demikian, mereka mengerti bahwa seolah-olah tidak ada yang terjadi dalam periode tertentu, namun meyakini akan mendapatkan hasil panen yang bagus pada waktunya. Semua kemajuan dan pertumbuhan mereka lakukan tahap demi tahap.
Para petani itu tahu betul bahwa segala pekerjaan adalah bersifat organis, panennya adalah hasil dari sesuatu yang hidup dan berkembang, karena itu mereka membina tanamannya dan dia membutuhkan waktu dalam setiap langkahnya. Dalam kehidupan kita juga ternyata seperti itu. Berpikir dan bertindak holistik (menyeluruh) tentang sesuatu yang kita lakukan menjadi keharusan jika kita ingin menggaransi suatu keberhasilan.
Jika kita ini diibaratkan tanaman, maka kita harus harus berada pada kondisi dan iklim yang tepat bagi pertumbuhan kita sendiri, hal itu jadi syarat utama agar kita menjadi tanaman yang sehat dan berhasil panen bagus (cat: sebenarnya kita lebih mampu dari tanaman karena kita masih mempunyai kemampuan untuk memilih kondisi dan iklim yang sesuai).
Mengurus tanaman hampir sama dengan membina dan mengelola orang-orang, kita harus memilih kelompok bibit yang baik; mengolah tanah agar gembur; memilih temperatur yang tepat untuk jenis bibit dan tanaman tertentu; mengusahakan kebutuhan sinar matahari; memberikan air dan pupuk sehingga tanaman kita menjadi subur. Namun itu semua perlu waktu. Kita tidak dapat memburunya meskipun kita sudah sangat menginginkannya. Kita harus menjadi orang yang sabar hingga waktunya.
Hukum panen adalah hukum alam. Dan anda tidak perlu ragu bahwa hukum alam berdasarkan prinsip-prinsip universal yang siapapun tidak akan bisa menyangkalnya.
A cup of TeaÒ :
Setelah semuanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip universal, maka segala sesuatupun akan indah pada waktunya!”.@Old wisdom & Lint
Bener yach pak kalo kita mempelajari hukum petani dalam menanam hingga panen memiliki proses yang sangat panjang dengan hasil yang masih tanda tanya. Kadang hasil panen baik kadang juga buruk.
Salam kenal…..
itu petani tapi saya yang diminta target terget terget / panen penen panen tanpa ………….
emangnya gue kebo apa…….