Nugget
Editor : Lintong Simaremare
Sebagaimana biasanya, akhir pekan kemaren saya kembali lagi pulang ke rumah – Semarang. Kebetulan sampai saat ini saya masih melakukan laju mingguan atau dua mingguan dari Jakarta ke Semarang untuk bertemu dengan istri dan anak-anak kami sekaligus bertemu dengan orang-orang yang kami cintai disana.
Akhir minggu kemaren memang agak istimewa bagi saya. Kebetulan di belakang kediaman kami ada tiga kolam ikan yang di dalamnya banyak sekali lele yang besar-besar. Bahkan ada yang berbobot sampai 1 kg. Luar biasa besar untuk ukuran lele. Orang mungkin mengatakannya lele dumbo atau apalah.
Menikmati kebersamaan dengan Kiyosaki (anak saya yang pertama), kami lalui dengan memancing ikan lele itu, dan dalam satu jam saja memancing dengan kail tanpa umpan kami telah mendapatkan 22 ekor lele yang besar-besar.
Pembuatan kolam lele ini sebenarnya dilatar belakangi atas penggunaan lahan yang cukup luas di di belakang kediaman kami. Hasil kolam lele ini sudah dinikmati cukup lama oleh banyak orang disana, terutama anak-anak panti asuhan putra dimana keluarga kami diberikan kepercayaan untuk mengelola sejumlah 45 orang yang berlokasi di areal depan dekat kolam lele. Bagi anak-anak panti tersebut, selain makan pisang, mangga dan jagung hasil halaman belakang, makan lele digoreng atau dimasak woku* atau tude** sudah biasa karena mereka sudah menikmatinya sejak beberapa tahun lalu.
Dan lele itu tidak pernah kami jual, namun hanya peruntukkan untuk mereka.Terbayang nanti jika makan, melihat santapan lele yang besar-besar, walaupun sudah dipotong menjadi dua bagian rasanya memang cukup membuat sebagian orang merasa ‘eneg’ sebelum memakannya. Tidak terkecuali juga sebagian anak panti yang ada disitu.
Maka sehabis mancing dengan Kiyosaki dan anak-anak panti, idepun segera muncul. Saya mulai dengan memilah lele-lele yang super jumbo alias yang tergolong kelompok paling besar.
Setelah semua jeroan*** dipisah untuk diarsik****, daging lele dari kedua sisinya diambil dan disatukan ke dalam satu wadah untuk selanjutnya digiling menjadi lumat. Kemudian saya jadikan adonan dan dicampur dengan tepung dan bumbu. Kemudian saya bentuk bulat-bulat kecil seperti wingko babat dan disirami tepung dan kemudian digoreng. Lele yang lebih kecil digoreng seperti biasa.
Sedangkan kepala serta tulang lele yang dagingnya sudah diambil bisa dibuatkan sop lele yang kuah sop-nya juga akan enak untuk dinikmati bersama.
Dalam makan siang bersama anak-anak, semua anak yang tidak menyaksikan pembuatannya terkecoh dengan lauk menú baru dan mereka makan begitu lahap. Yah… mereka harusnya tahu sedang makan ‘Nugget Lele’ dari kolam yang selalu mereka lihat setiap hari. Pagi ini kejadian itu kembali terulang.
Dalam sarapan dengan teman-teman kos pagi tadi, sayang sekali saya tidak membawa menú baruku – nugget lele yang banyak, karena kawan-kawan ternyata begitu menyukainya.
Anda mungkin perla mencoba sesuatu yang baru dari sesuatu yang biasa-biasa saja!
*woku, **tude = Cara memasak ikan yang umumnya dikenal orang Manado.
***jeroan = bagian dalam = istilah yang lazim digunakan orang Jawa
***arsik = Satu cara memasak ikan mas yang umumnya dikenal orang Batak.
A cup of TeaÒ :
Hal biasa bisa istimewa jika disajikan dengan cara yang berbeda!”.@Lint