-
Cari itu!
-
Entri Terkini
- BFF#148 – Hakikat MEMBERI
- BFF#147 – RELATIONSHIP MANAGEMENT BASED ON DALIHAN NA TOLU
- BFF#146 – Hukuman Mati
- BFF#145 – Malaikat di depan gerobak sampah
- BFF#144 – Pengadilan hati
- BFF#143 – Ketika Tuhan menciptakan wanita
- BFF#142 – Kebaikan
- BFF#141 – Ikan Bijak
- BFF#140 – Cap Go Meh, sebuah kekayaan bernilai budaya
- BFF#139 – Pengunduran diri Husni Mubarak, lebih dari suksesi pemerintahan
-
Tautan
BFF#148 – Hakikat MEMBERI
Hakikat MEMBERI
Oleh : Lintong Simaremare | FB : Bread for Friends
Pada hari pertama pelatihan para calon pemimpin di sebuah komunitas, penyelia meminta para peserta membawa ‘bekal’ sendiri dari rumahnya masing-masing untuk digunakan sebagai makanan santap siang di saat pelatihan. Dengan semangat bangun subuh maka para peserta menyiapkan bekalnya sedemikian rupa terutama dengan gizi yang cukup dan rasa yang layak dan membawanya dengan senang hati ke tempat pelatihan.
Saat istirahat makan siang, layaknya seperta pelatihan para tentara, peserta pelatihan kepemimpinan itupun diminta berbaris sambil memegang bekal masing-masing lalu doa untuk makan siangpun dilakukan. Setelah doa selesai diucapkan, penyelia meminta seluruh peserta bertukar bekal dan memastikan tidak ada satupun diantara peserta yang akan menyantap bekal yang dibawanya sendiri.
Selanjutnya…, (Para sahabat bisa menduga apa yang terjadi di saat makan siang itu berlangsung.)
Terlepas dari apa yang para sahabat bayangkan, mari kita lihat beberapa hal dalam kasus sederhana ini:
1. Ada peserta yang tidak bisa menerima mengapa makanan enak yang telah dipersiapkan bagi dirinya sendiri harus diserahkan ke orang lain tanpa pemberitahuan lebih dulu dari penyelia.
2. Beberapa perserta dengan terpaksa melaksanakan instruksi penyelia dengan rasa dongkol dan marah terselubung.
3. Beberapa peserta ingin belajar lebih jauh tentang maksud dari tindakan yang dengan rela atau terpaksa harus mereka laksanakan dan belum menemukan maknanya.
4. Beberapa diantara mereka menganggap mendapat keuntungan dengan pertukaran makanan itu sebab mendapatkan yang lebih enak dari yang mereka bawa sendiri.
5. Beberapa peserta menganggap itu sebauh permainan yang layak dinikmati.
Intinya banyak diantara mereka yang menyesali, namun banyak yang merasa bersyukur atas pelajaran penting ini.
Demikian juga untuk hari kedua, mereka masih diminta penyelia untuk membawa makanan dari rumahnya masing-masing.
Seperti hari pertama, pada hari kedua, penyelia meminta peserta duduk berbaris untuk persiapan makan siang dan siap dengan bekal yang mereka bawa. Namun sebelumnya penyelia meminta agar peserta memilih pasangannya masing-masing untuk duduk berhadap-hadapan dan setiap bekal berada di hadapan mereka.
Lalu penyelia memimpin doa makan siang dan kemudian meminta agar seluruh peserta tidak menukarkan makanannya namun menikmati makanan yang mereka bawa masing-masing. Setiap pasangan diijinkan untuk saling berbagi dengan pasangan di hadapannya.
Sambil para peserta menikmati makan siangnya, penyelia mengamati kualitas makan siang hari kedua yang lebih buruk dari makan siang hari pertama. Menu-menu yang tidak lengkap serta lauk yang seadanya. Ternyata hanya sedikit diantara mereka yang meningkatkan kualitas makanan dari hari pertama dan mayoritas menyiapkan makanan itu seadanya. Sangat jarang pula yang kedua orang (sepasang) yang berhadapan memiliki makanan yang relatif sama kualitasnya.
Apa yang dapat kita pelajari dari ujian kepemimpinan ini?
1. Banyak orang hanya mengupayakan hal terbaik jika hasilnya untuk diri sendiri dan mengupayakan hal yang biasa saja jika dia tahu hal itu untuk diberikannya kepada orang lain.
2. Banyak orang yang mengkaitkan urusan memberi dan menerima adalah masalah untung dan rugi.
Quote:
“Sedikit orang yang memahami bahwa memberi yang terbaik adalah menyelaraskan diri dengan cara kerja alam yang selalu memberi yang terbaik bagi kehidupan.”
“Orang yang memberi hal terbaik adalah orang yang memahami hakikat manusia yang saling terhubung.”
“Orang yang terbiasa memberi, tidak akan ketakutan dalam melepaskan. Memberi adalah latihan yang berarti di saat kita harus siap untuk kehilangan nyawa kita sendiri.”
“Tindakan memberi yang terbaik adalah ‘mengalirkan yang terbaik’ dan menjaga pipa berkat berfungsi dengan baik”.
Semoga bermanfaat.
*Lintong Simaremare saat ini sebagai karyawan TELKOM Indonesia aktif sebagai penulis bebrapa buku inspirasi. Bukunya yang menjadi best seller (book of the year 2011 – versi GalangPress) adalah Bread for Friends telah tampil dan direkomendasikan KickAndyShow.
Celotehannya dapat dibaca di:
FB : Bread for Friends
Personal Webblog : www.bread4friends.wordpress.com
Mediablog : www.kompasiana.com/bread4friends
videolink channel : www.youtube.com/user/lintongsimaremare
Note: Artikel ini bebas dishare tanpa ijin dari penulis.
Posted in Umum
BFF#147 – RELATIONSHIP MANAGEMENT BASED ON DALIHAN NA TOLU
RELATIONSHIP MANAGEMENT BASED ON DALIHAN NA TOLU
~ Sebuah pendekatan pengelolaan hubungan bisnis yang diangkat dari filosofi hidup Batak ~
*Oleh : Lintong Simaremare | pengamat nilai-nilai sosial
“Horas ma di hamu sude raja ni hula-hula nami, dison nunga rade be hami sude boru muna.“ (“Welcome king of hula hula, We humbly great & ready to serve you.“).
Dalam adat Batak, kira-kira seperti itulah ucapan yang dikumandangkan seorang juru bicara pihak boru yang menyambut hula-hula yang sudah berada di depan tangga si baganding tua-nya (rumahnya).
Adat Batak, dalam bentuk apapun dan di daerah manapun, serta dengan tujuan apapun tidak terlepas dari dalihan na tolu. Dalihan na tolu adalah sebuah falsafah hidup yang membawa suatu pesan yang menginginkan agar suatu hubungan dilakukan dalam kemitraan yang harmonis - yaitu suatu hubungan yang saling memahami antara satu elemen dengan elemen lain dalam kehidupan sosial.
Salah satu bentuk hubungan harmonis yang didinginkan adalah hubungan antara seseorang dengan orang yang mempunyai kepentingan dengannya, contohnya hubungan dengan keluarga istri, hubungan dengan keluarga menantu serta hubungan dengan saudara-saudara semarga.
Jauh sebelum dikenal istilah triangle marketing yang berbicara tentang hubungan antara perusahaan dengan kastamer, hubungan perusahaan dengan karyawan dan hubungan karyawan dengan kastamer, telah sejak sekitar 400 tahun lalu (asumsi: saat ini keturunan marga Batak sudah mencapai 20 nomor dengan masing-masing selisih umur antara orang tua dan anaknya sekitar 20 tahun), adat Batak mengenal dalihan na tolu sebagai falsafah hidup sekaligus sebagai fundamen keseluruhan kegiatan adat.
APA ITU DALIHAN NA TOLU ?
Dalihan na tolu adalah suatu filosofi yang diambil dari gambaran tolu dalihan (tumpuan yang tiga - tiga batu penyangga) yaitu berupa tiga tumpuan yang seimbang yang diletakkan di atas pemukaan yang datar dan ditata sedemikian rupa sehingga jika ditarik garis yang menghubungkan ketiga titik tersebut akan membentuk segitiga sama sisi dengan sudut apit masing-masing 120 derajat.
Ketiga batu tersebut dimaksudkan sebagai penyangga yang akan difungsikan sebagai tungku dengan menggunakan susunan kayu bakar diantara masing-masing batu.
Dalihan na tolu secara harfiah berarti tiga tungku. Hal ini bisa dianalogikan dengan tiga tungku-masak di dapur tempat menjarangkan periuk. Maka adat Batakpun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group), (2) pihak yang menerima istri (wife receving party), (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20).
Letak yang ditata sedemikian rupa dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan, dengan tujuan agar wadah memasak berupa kuali atau periuk yang disanggah di atas tiga batu tersebut tidak akan jatuh saat proses penjerangan/memasak dilakukan.
Berdasarkan penataan dalihan (tumpuan) di permukaan datar, maka dalihan na tolu dapat diartikan tolu sahundulan (tiga elemen duduk bersama) dalam ”keseimbangan‘ dan ”kesatuan‘. Dapat dibayangkan jika satu bangtu tidakberfungsi maka tidak akan terjadi posisi wadah yang tepat dan kokoh di atas tungku. Keseimbangan yang dimaksud adalah bahwa fungsi dari ketiga elemen tidak berat sebelah, sedangkan kesatuan yang dimaksud adalah bahwa ketiga elemen tidak terpisahkan dalam artian harus ketiganya berfungsi bersamaan.
Sedangkan dalam konteks adat, salah satu contoh, jika salah satu elemen tidak sepakat dan bekerjasama dalam suatu melaksanakan suatu acara, maka sebuah perhelatan adat tidak layak dilakukan atau tidak bisa dipertanggungjawabkan atau hasilnya justru akan menjadi pembicaraan negatif di masyarakat (family bad image).
Dalihan na tolu sebagai fundamental keseluruhan adat Batak mengajarkan bagaimana hubungan yang seimbang dalam marhula-hula (marga istri, marga ibu, marga ibu dari ibu, marga ibu dari ayah serta marga mertua laki-laki dari putra kita), mardongan-tubu atau biasa juga disebut dongan sabutuha (marga yang sama dengan kita) dan hubungan marboru (marga menantu laki-laki).
Hal lain yang tidak kalah menarik dari dalihan na tolu bahwa ketiga elemen – baik hula-hula, dongan tubu maupun boru hanya sebuah posisi yang sementara, dimana seseorang bisa diposisikan sebagai hula-hula, dongan tubu atau boru tergantung pesta adat – perhelatan yang dihadapinya.
Posisi sementara yang dimaksud di atas adalah misalnya seseorang bisa menjadi hula-hula dalam satu perhelatan tetapi di acara yang lain posisinya bisa menjadi boru atau dongan tubu. Seseorang menjadi hula-hula jika yang mengadakan perhelatan adalah marga dari menantu laki-lakinya. Dia akan menjadi boru jika yang mengadakan perhelatan adalah marga dari ibunya.
Sedangkan posisinya akan jadi dongan tubu jika yang mengadakan perhelatan adalah saudara semarga dengan dia. Sehingga dapat diartikan, Batak, sebagaimana dalam adatnya tidak mengenal seseorang dengan strata yang abadi – namun menganggap setiap posisi seseorang sangat dependen terhadap situasi.
Lebih jelasnya, ketiga posisi dalam dalihan na tolu disebut bukan abadi atau bukan juga kasta karena setiap orang Batak pada gilirannya akan mengalami ketiga posisi tersebut tergantung perhelatan yang dihadapinya dan kepentingannya sebagaimana disebut di atas.
Dalam sebuah acara adat, seorang dirut perusahaan kelas duniapun harus siap bekerja di dapur untuk melayani keluarga pihak istri yang level posisi hula-hulanya walaupun kebetulan orang tersebut hanya seorang staf dalam perusahaan yang kebetulan dipimpin si dirut tadi. Itulah realitas kehidupan sosial orang Batak yang sesungguhnya. Dalihan na tolu adalah falsafah hidup yang mengajarkan demokrasi dengan mengedepankan nilai-nilai universal dan sampai saat ini masih satu-satunya fundamen yang mendasari segala adat dalam suku Batak.
Posisi seseorang sifat dan waktunya sementara – bukan kasta, sebab dalam dalihan na tolu mengajarkan setiap orang memahami posisinya yang sangat temporer dalam setiap keadaan, ada saatnya dituntut untuk mampu menjadi pihak yang dilayani, pihak yang melayani dan pihak yang mendukung pelayanan sesuai dengan posisisinya yang tergantung pada perhelatan yang dihadapinya.
SIFAT HUBUNGAN ANTAR ELEMEN
Sifat hubungan yang diminta dalam menghadapi ketiga elemen menurut dalihan na tolu berpegang pada tiga kaidah yang dipakai tergantung pada elemen yang dihadapinya. Ketiga sifat itu adalah berupa cara yang berbeda-beda yang penggunaannya disesuaikan tergantung siapa yang dihadapi.
Jika caranya berbeda beda, maka ada tiga cara yang harus digunakan: somba marhula -hula (sifat menghormati hula-hula) dengan tujuan mendapat doa restu atas keselamatan dan kesejahteraan, elek marboru (sifat mengayomi boru) dengan tujuan khusus mendapatkan berkat atas dukungan boru, dan manat mardongan tubu (sifat berhati-hati dan menghargai dongan tubu) dengan tujuan menghindari perseteruan dalam sebuah kerjasama.
Filosofi untuk menghadapi tiga elemen dalam dalihan na tolu ini relevan dengan bagaimana membangun hubungan dengan tiga elemen sebagaimana yang dipesankan dalam ilmu dasar bisnis yang disebut triangle of marketing.
Triangle marketing (segitiga yang ditarik melalui tiga titik) : kastamer, karyawan dan manajemen mengajarkan bagaimana seharusnya hubungan antara perusahaan dengan kastamer, hubungan antara perusahaan dengan karyawan dan hubungan karyawan dengan kastamer dijalankan. Triangle marketing menginginkan ketiga hubungan tersebut berdampak positif terhadap pengelolaan perusahaan yang dimulai dari pengelolaan hubungan yang baik antar Perusahaan, Kastamer dan Karyawan.
Menurut penulis, dalam hal ini penulis juga berlatar belakang pendidikan marketing dan sebagai seorang magister dalam marketing strategik, pesan dalam dalihan na tolu lebih luas dan lebih dalam dari pengajaran triangle marketing. Jika diteliti lebih jauh tentang pesan dalihan na tolu, setiap orang yang semakin memahaminya, khususnya orang Batak akan semakin diperkaya oleh adanya ilmu dalihan na tolu - sebuah ilmu kuno yang mungkin sudah ada sebelum abad ke-17 dan sangat layak dipertimbangkan untuk digunakan dalam mengelola perusahaan modern abad 21 saat ini.
Hal lain yang menarik adalah bahwa dalihan na tolu bukan berbicara hubungan searah tetapi hubungan timbal balik antar setiap elemen di dalamnya dengan segala tindakan antisipatif dan reaktif yang timbul dalam setiap kegiatan yang dilakukan bersama.
Relevansi dalihan na tolu dalam pengelolaan hubungan perusahaan Hubungan dengan hula-hula dapat diibaratkan sebagai hubungan perusahan dengan pihak-pihak tertentu baik itu internal maupun eksternal.
IMPLEMENTASI ILMU DALIHAN NATOLU DALAM BISNIS
Bentuk implementasi dalihan na tolu dalam manajemen modern saat ini sangat relevan dengan cara mempersepsikan satu elemen dalam hubungan bisnis sebagai sebagai hula-hula yaitu raja, boru, atau dongan tubu. Jika manajemen atau karyawan menganggap kastamer adalah hula-hula (raja), maka sifat yang muncul barang tentu adalah rasa hormat dan melayani dengan setulus hati.
Jika manajemen menganggap karyawan adalah boru yang dalam konteks adat Batak bahwa boru membantu menyukseskan segala misi hula-hula, maka sifat yang muncul dari manajemen ke karyawan otomatis adalah menyayangi, memperhatikan dan mengayomi karyawannya. Sedangkan jika manajemen menganggap karyawan atau karyawan menganggap karyawan lain sebagai dongan tubu, maka sifat yang muncul adalah saling menjaga perasaan dan menghargai mitra kerja. (RS; 2007, Milis UkkSU)
KONSEKUENSI PELANGGARAN DALIHAN NA TOLU
Dalihan na tolu bukan aturan sekedar aturan yang dibuat oleh raja-raja Batak zaman dulu tanpa konsep yang jelas dan mendasar. Sampai sekarang, nyata betul konsekuensi jika falsafah tersebut tidak dijalankan. Sebagai bukti, jika seseorang melakukan kesalahan karena tidak somba kepada hula-hulanya, maka wajib hukumnya boru meminta maaf dengan melakukan tindakan konsolidatif berupa suatu acara khusus.
Seseorang (pihak boru) akan menemui hula-hulanya dengan membawa makanan tertentu sebagai lambang yang mempunyai makna khusus dengan cara penyajian khusus sebagai bentuk rasa hormatnya. (Catatan: Dulu menggunakan daging babi yang utuh pada masa Batak masih belum mengenal agama sampai masa homogenitas penganut agama Kristen. Saat ini telah disesuaikan agar tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan tertentu).
Tidak berbeda dengan hula-hula yang melakukan tindakan konsolidatif menunjukkan sifat elek (mengayomi) dengan menyuguhkan dekke (ikan) sebagai lauk untuk disuguhkan bagi boru-nya.
Demikian juga dengan seseorang yang mengalami konflik serius karena tidak manat menghadapi dongan tubunya, maka forum dongan tubu yang terdiri dari saudara semarganya akan mendamaikannya, atau jika tidak maka tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan persaudaraan tidak akan harmonis sehingga akan mengganggu segala perhelatan yang mungkin dilakukan di kemudian hari.
Tindakan recovery terhadap atas perselisihan baik antara hula-hula dengan boru, maupun antar dongan tubu tersebut dipastikan akan menyelesaikan segala perkara yang pernah ada sekaligus dianggap bahwa semua perselisihan sudah selesai dan diterima masing-masing pihak dengan status ‘beres‘. Secara adat maka pihak yang telah mendapatkan ‘permintaan maaf’ tadi tidak akan bisa mempersoalkan kesalahan yang telah terjadi sebab secara adat telah dilunasi.
Menurut penulis, hal ini adalah ajaran yang luar biasa tentang penyelesaian perselisihan. Adat Batak ini mencerminkan pemahaman bahwa tidak ada masalah atau perselisihan yang tidak bisa diselesaikan.
Dengan menggunakan falsafah dalihan na tolu dalam mengelola hubungan bisnis saat ini, maka jika perusahaan mempunyai kesalahan terhadap hula-hula (kastamernya), misalnya pada saat perusahaan tidak memenuhi service level agreement yang dijanjikannya maka dalam rangka memperbaiki hubungan dengan kastamernya, sebaiknya manajemen atau karyawan mengunjungi kastamernya untuk meminta maaf sekaligus memberikan sesuatu yang sifatnya kompensatif agar terjadi apa yang disebut dengan winning back the customer heart (memenangkan kembali hati kastamer).
Demikian juga jika seorang karyawan melakukan kesalahan terhadap manajemen, maka sepantasnyalah si karyawan meminta maaf dan memberikan hasil pekerjaan yang lebih baik lagi ke depannya serta manajemen membuka diri dengan menyambut dan memberikan petunjuk yang bisa jadi acuan perbaikan kinerja berikutnya bagi karyawannya.
Sedangkan jika terjadi konflik antar sesama karyawan, maka sepantasnya ada keterlibatan karyawan lain untuk mendamaikan agar sesama karyawan dapat seiring sejalan.
IMPLEMENTASI TIGA SIFAT HUBUNGAN DALIHAN NA TOLU DALAM BISNIS
Tiga sifat hubungan dalam dalihan na tolu sebagaimana yang telah berulang- ulang dijelaskan sebelumnya adalah somba; elek dan manat. Ketiga kata tersebut ternyata mempunyai karakter yang sangat dalam dan luas. Ibarat istilah teknologi perangkat lunak, maka ketiga kata tersebut ibarat tiga file yang masih format zip dan sesungguhnya makna di dalamnya akan kelihatan jelas dan luas jika di-ekstrak (diuraikan) satu persatu.
Secara singkat akan dibahas makna di setiap sifat hubungan tersebut dan bagaimana memanfaatkannya sebagai ilmu dalam mengelola suatu hubungan bisnis.
Pertama, kata ‘somba‘ mengandung makna ‘rasa hormat‘ yang tinggi yang didasari atas kesadaran bahwa seseorang wajib dihormati karena dia adalah orang yang mempunyai otoritas ‘pemberi restu‘ ; ‘pemberi ijin‘ maupun ‘pembuka pintu berkah‘ bagi orang yang menghormatinya. Implementasinya dalam hubungan adat Batak sedemikian seriusnya seseorang menghadap hula-hula dengan mempersembahkan sesuatu yang terbaik. Mulai dari cara berbicara dengan menggunakan bahasa yang paling sopan (Catatan: Batak mengenal tingkatan bahasa), menyiapkan tempat duduk yang lebih terhormat saat duduk bersama, dan memohon restu secara khusus atas segala sesuatu yang direncanakan.
Rasa hormat yang dimaksud juga sangat terlihat bagaimana orang Batak selalu mengusahakan kunjungan ke hula-hulanya pada momen istimewa seperti halnya tahun baru atau hari keagamaan. Bahkan pada saat seorang orang Batak sudah mencapai kesejahteraan dan kehormatan tertinggi sekalipun (telah menikahkan semua anak-anaknya), dia akan meminta pengesahan adat berupa hak mendapat ulos dengan derajat tertinggi dari hula-hulanya. Namun untuk memperoleh ulos tersebut, maka wajib hukumnya membuat suatu acara untuk menunjukkan rasa hormatnya dengan menjamu dan menghadiahi sebagian dari kesejahteraan (hartanya) kepada hula-hulanya. Jika acara itu belum dilaksanakan sampai akhir hayat seseorang, maka keturunannya dianggap mempunyai hutang dan keturunannya akan melaksanakannya untuk orangtuanya.
Bentuk implementasi somba tersebut sangat baik digunakan dalam menghadapi kastamer. Sebuah perusahaan perlu merumuskan bagaimana melakukan komunikasi yang menempatkan kastamer dalam posisi yang lebih tinggi; bagaimana membuat customer room yang nyaman; meminta dukungan dan restu kastamer atas suatu program perusahaan; merumuskan bentuk penghargaan ke kastamer dan bahkan mengalokasikan sebagian dari keuntungan untuk bisa dinikmati oleh kastamer. Sedangkan pengesahan kesuksesan seharusnya datang dari kastamer, bukan atas pengakuan perusahaan tersebut.
Kedua, kata ‘elek‘ mengandung makna persuasif dalam memimpin atau mengarahkan seseorang untuk ikut membantu mensukseskan misi suatu pihak dalam adat Batak. Karena pada prinsipnya seorang orang Batak menyadari sepenuhnya bahwa dia membutuhkan bantuan dari pihak lain (dalam hal ini boru) secara khusus, terutama saat pelaksanaan suatu kegiatan.
Sebagai contoh dalam menghadapi hula-hulanya, seseorang akan mengajak, membujuk, mengayomi borunya agar membantu mempersiapkan segala sesuatunya agar pada saat menghadap hula-hula maka segala-sesuatunya berjalan lancar dan tidak mengecewakan bahkan harus membuat hati hula-hulanya senang.
Bentuk implementasi elek tersebut dalam manajemen perusahaan adalah dengan ditunjukkannya cara-cara pengelolaan sumber daya manusia sebagai capital dan bukan sekedar aset perusahaan. Mulai dari memberikan pengayoman dalam melaksanakan berbagai hal, mendukung kreativitas positif yang muncul sampai menunjukkan penghargaan atas prestasi yang telah ditunjukkannya.
Selain itu termaktub juga bahwa manajemen yang lebih condong dilakukan tidak sekedar memberi komando tetapi dititik beratkan kepada peran pemimpin dalam mengajak karyawannya memberi hasil terbaik. Perlakuan itu akan membuat karyawan merasa memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan yang prima.
Ketiga, kata ‘manat‘ mengandung makna berhati-hati dalam melangkah, hal itu terutama dialamatkan kepada orang-orang terdekat (saudara) kita. Dalihan na tolu mengisaratkan bahwa kekurang hati-hatian bisa mengakibatkan perseteruan sehingga hubungan persaudaraan bisa hancur dan berantakan.
Implementasi kata manat dapat dilihat bagaimana kelompok orang Batak selalu membuat urun rembug lebih dulu dengan semua saudara-saudaranya untuk mendapat kata sepakat dalam merencanakan sesuatu yang menyangkut adat.
Sedangkan bentuk implementasi manat tersebut dalam manajemen perusahaan adalah bagaimana menunjukkan sikap menghargai sesama karyawan maupun sesama manajemen. Sikap saling menghargai satu unit dengan unit lain dalam suatu proses internal sangat diharapkan untuk mendapatkan soliditas kerja saat ini. Tentunya setiap unit dimaksud menyadari sepenuhnya apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Dapat dibayangkan bagaimana mudahnya melaksanakan suatu program perusahaan jika masing-masing unit internal dalam suatu perusahaan memberikan kontribusi sesuai dengan tanggung jawabnya sejak dari awal.
SIMPULAN
Dalihan na tolu adalah falsafah hidup orang Batak yang sangat relevan diterapkan dalam hubungan bermasyarakat bahkan di zaman sekarang ini. Dalihan na tolu mengajarkan sifat-sifat hormat, pengayoman dan saling menghargai antar beberapa elemen dalam suatu hubungan sosial.
Ketiga sifat hubungan dalam dalihan na tolu dimaksudkan bersama-sama memperoleh kehormatan, kesejahteraan dukungan dan berkat serta menghindari perseteruan.
Pesan-pesan berupa makna yang terkandung dalam dalihan na tolu tersebut dapat ditiru untuk dikonversikan dalam mengelola hubungan perusahaan zaman modern terutama hubungan perusahaan dengan kastamer, hubungan manajemen dengan karyawan maupun hubungan kerja antar karyawan.
_________
*Lintong Paluhutan Simaremare, S.T.(Tel), M.M.(Mark)
Lintong bekerja sebagai praktisi di PT TELKOM INDONESIA, Tbk. Selain menjadi karyawan dan penulis buku laris bread for friends (terbitan GalangPress) dan buku pieces of keys aat work (terbitan Kanisius), Lintong berkarya sebagai pengusaha peduli sosial yang pernah mendapat penghargaaan Wira Bhakti Nugraha. Dalam menjalankan usahanya, dia banyak mempelajari sifat suatu hubungan melalui interaksi dalam membangun bisnis di Jakarta, Semarang
Info/diskusi lebih lanjut hub:
Mail, blog, web dan jejaring sosial:
Personal Facebook: lintongs@gmail.com
Bread for friends fan page Facebook : bread for friends
Twitter: bread4indonesia
Bloglink: www.bread4friends.wordpress.com
Videolink: http://www.youtube.com/user/lintongsimaremare
Posted in Umum
BFF#146 – Hukuman Mati
HUKUMAN MATI
Sebelum saya berikan pendapat tentang topik yang hangat akhir-akhir ini tentang hukuman mati, ada baiknya kita melihat fata bahwa negara yang tidak menerapkan hukuman mati lebih banyak dari yang tidak menerapkan humuman mati (Data akuratnya dapat dirujuk ke Amnesty Internasional). Hal ini tentunya dapat menyimpulkan bahwa mayoritas manusia menolak hukuman ini sebagai pilihan.
Berbagai opini dan beberapa diantaranya menjadi perdebatan dalam forum bukan saja pertarungan antara keyakinan yang diusung oleh kitab suci berbagai agama, namun juga didasari cara pandang individu dan pengalaman seseorang atas kejadian yang dialaminya, namun juga relevansinya dengan konteks dimana hukuman mati tersebut akan diberlakukan. (Meminjam istilah seorang sahabat saya penulis – Makaarim)
Maka agar tidak terlalu jauh dengan pengaruh bagaimana saya berpendapat, maka saya pikir saya harus merujuk kepada makna hidup sebenarnya bahwa tidak ada satu manusiapun yang punya hak melakukan putusnya terminasi kehidupan (baca: mematikan seseorang – memisahkan nafas dari seseorang) Justru di sisi lain seorang manusia dapat mendukung perpanjangan hidup sesuai kemampuannya. Hal inilah yang menjadi pola pikir dasar teknologi kedokteran sehingga membedakan mengapa dulu orang sakit lepra saja banyak yang meninggal sedangkan sekarang tidak.
Dalam konteks mengapa seseorang menuntut agar seorang yang bersalah (kasus menghilangkan nyawa dll) dihukum dengan menghilangnya nyawanya juga (hukuman mati), saya pikir didasari oleh ‘keadilan manusiawi’ yang dipahaminya.
Jika kita tarik ke ranah yang lebih dekat ke kehidupan kita sendiri, mampukah kita mengorbankan nyawa kita agar nyawa anak kita terselamatkan? Saya pikir seorang ayah akan mampu (semoga). Lantas apakah itu masuk akal jika kita bawa kepada justifikasi ‘keadilan dunia’ yang kita pahami? Tentu tidak, menurut saya.
Jadi, saya pikir mengupayakan kematian orang adalah ‘tindakan orang yang mengingkari keberadaan Tuhan – pencipta hidup’ dalam dirinya, dan hukuman mati hanyalah bentuk shortcut para ‘pemikir’ yang ‘habis pikir’ dalam mengatasinya.
Demikian, mhn maaf jika perspektif ini kurang dapat diterima.
Salam,
Lintong Simaremare | penulis buku best seller bread for friends | pengamat nilai-nilai sosial
Posted in Umum
BFF#145 – Malaikat di depan gerobak sampah
Trs terang aq sedih tatkala kehidupan dilevelkan dgn sebuah pekerjaan atau profesi. Seorang kondektur bukan berarti tdk lbh bahagia dr seorang direktur perusahaan.
Malah bisa jg dia lbh sejahtera di rmh dibanding pejabat negara. Terkadang kt mentertawai pemahaman yg dangkal dan mengambil kesimpulan yg salah bahwa profesi adalah level kehidupan. Misalnya kita sebut, “Dasar tukang parkir.” Sy menyebutnya 2X melakukan kesalahan itu namanya.
Guru spritual saya salah satunya adalah tkg sampah yg setiap minggu kami pasti bertemu pagi-pagi di depan rumah. Dia kusebut sbg org yg berhasil dalam hidup.
O yah, guru saya itu pernah berkata bhw dia sll berdoa agar Tuhan memberi kesempatan baginya utk menjadi org terkenal dan berguna bagi banyak org. Aq pikir dia dikenal oleh seluruh warga di daerah kami dan tanpa dia bisa aq pastikan selama seminggu kami akan uring-uringan karena bau tak sedap.
Doa dia jelas dan profesi yg Tuhan percayakan baginya mulia.
Saya menyebutnya, “Malaikat di depan gerobak sampah”.
*Lintong | penulis buku laris bread for friends
Posted in Umum
BFF#144 – Pengadilan hati
PENGADILAN HATI
Dalam sebuah pengadilan hati, berkatalah malaikat penuntut kepada seorang manusia bumi – seorang istri, “Apakah suamimu membahagianmu?”. Lalu dijawabnya, “TIDAK”.
Pertanyaan yang sama kemudian diberikan kepada suaminya, lalu dijawabnya lebih tegas, “Sama sekali TIDAK, malaikat penuntut !”.
Berikutnya malaikat pembela mengambil kesempatan bertanya, “Coba lupakan orang lain sejenak dari pikiranmu, atau lupakan dunia ini, Apakah engkau bahagia?”.
Lalu spontan kedua manusia itu menjawab serentak, “Ba.. ba.. bahagia”.
Sejenak hening, lalu hakim malaikat berbicara, “Memang seharusnya demikian, bahwa kebahagiaanmu bukan karena orang lain tetapi karena engkau mampu mengerti ada Tuhan dalam hatimu”.
Lalu dilanjutkannya, “Pulanglah.. Berhentilah menuntut orang lain membahagiakanmu, karena kalian diturunkan ke bumi bukan untuk mencari kebahagiaan, tetapi justru membagi-bagikan kebahagiaan yang sudah kami penuhi dari sini sebelum menurunkanmu”.
*by Lintong / Inspirator – Penulis buku laris bread for friends – cerita inspiratif untuk hidup progresif.
Posted in Umum
BFF#143 – Ketika Tuhan menciptakan wanita
Ketika Tuhan menciptakan wanita.
Malaikat datang & bertanya “ Mengapa begitu lama Tuhan?”
Tuhan menjawab, “Sudahkah kamu lht semua detil yang Aku ciptakan untuknya?”
“Kedua tangan ini harus bisa selalu dibersihkan, setidaknya terdiri dari 200 bagian yg bisa digerakkan dan berfungsi baik agar dpt mengolah berbagai jenis makanan untuk orang-orang yang dikasihinya.”
Mampu memberikan kenyamanan bagi anak2nya…
Punya pelukan yang menyembuhkan rasa sakit hati dan keterpurukan…
Dan semuanya cukup dilakukan dengan kedua tangan ini…
Malaikat takjub, “Hanya dengan dua tangan ini…?”
“Tetapi Tuhan, Engkau membuatnya begitu halus dan lembut”
“Ya.. Aku membuatnya begitu lembut. Tapi kamu belum bisa bayangkan kekuatan yg Aku berikan di dalam kelembutannya agar ia bisa mengatasi banyak hal yang luar biasa.”
“Apakah dia bisa berpikir?” tanya malaikat
Tuhan menjawab “Tidak hanya berpikir, dia juga mampu bernegosiasi dan mengutarakan pendapatnya.”
Malaikat itu menyentuh dagunya..
“Tuhan, Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh, seolah banyak sekali beban untuknya.”
“Itu bukan kerapuhan, itu air mata.”. “Aku berikan kepadanya supaya dia bisa mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan rasa bangga.”
“Engkau memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMu ini sungguh menakjubkan!”
“Ya..Harus! Wanita ini mempunyai kekuatan utk mempesona laki-laki…”
“Dia dpt mengatasi beban hidup, mampu menyimpan kebahagiaan & pendapatnya sendiri…”
“Mampu tersenyum bahkan ketika hatinya menjerit…”
“Mampu tertawa saat hatinya menangis…”
“Dia bisa berkorban demi orang-orang yg dikasihinya…”
“Dia bisa melawan ketidakadilan…”
“Dia bersorak saat melihat kawannya bahagia…”
“Hatinya terluka saat melihat kesedihan…”
“Dia tahu sebuah ciuman&pelukan dapat menyembuhkan luka…”
“CINTANYA TANPA SYARAT!”
Semuanya nampaknya kelebihan yang luar biasa, Malaikat sangat kagum, lalu bertanya, “Lalu apa kekurangannya Tuhan?”
Tuhan menjwb ”Hanya satu hal..”
“Dia terkadang lupa BETAPA BERHARGANYA DIA…”
By: Lintong (Bread for Friends) / diinterpretasikan tahun 2005.
Tulisan ini sdh dibaca jutaan orang di internet dan diterjemahkan bebas ke banyak bahasa.
Posted in Umum
BFF#142 – Kebaikan
~Kebaikan
Inspirasi dari penulis buku bread for friends.
Kebaikan itu tanpa rasa,
Sekaligus tanpa tendensi.
Kebaikan itu polos tanpa warna
dan tdk berbangga diri karena tanpa mahkota.
Kebaikan itu ada bukan untuk dipakai agar seseorang dianggap baik.
Kebaikan itu adalah kebaikan.
Dia selalu berdiri sendiri,
Dalam dunia yang punya hati, kebaikan akan tetap bergerak, tanpa menyetujui dan minta disetujui.
Lalu bgm sikap seorang pembaik yg tdk diterima org lain?
Kebaikan itu tetap baik dimanapun dan bagi siapapun.
Kalaupun kebaikan dipersepsi lain, masalahnya bukan kebaikannya yg perlu dipertanyakan, namun justru cara memandangnya yg perlu dikoreksi.
Menyikapi hal kebaikan tdk diterima sebagian org, maka dibutuhkan kesabaran dan pendekatan yg lbh, serta komunikasi dan saling berbagi makna spt yg kt lakukan saat ini berkampanye kebaikan.
Masih ttg kebaikan, kata teman saya, “Kebaikan adalah sesuatu yg dilakukan dgn tulus dan bukan sesuatu utk ditampilkan agar terlihat, sprti semut hitam berjalan di atas batu hitam di malam gelap”.
Saya pikir kalau ada sekelompok orang berniat dan bertindak kebaikan
berarti mereka sedang berada pada perahu dan pelayaran yang sama.
Mengarungi samudera menuju ujung yang tidak terlihat dengan kasat mata.
Hanya mata hati dan jiwa mereka yang mampu menjangkaunya.
Semoga bermanfaat
*Bergabung dgn bread for friends di FB untuk mendapatkan inspirasi lainnya.
Posted in Umum
BFF#141 – Ikan Bijak
IKAN BIJAK
-inspirasi dari penulis buku laris ‘bread for friends’-
Seekor ikan ditakdirkan memiliki sepasang mata yg letaknya di dua sisi yang berbeda.
Saat kedua mata itu melihat bersamaan, maka satu mata akan melihat pemandangan yang benar2 berbeda dgn apa yg dilihat oleh mata yg lain.
Seekor ikan yg bijak tidak akan memihak pandangan mata mana yg benar dan mata mana yg salah, namun akan membawa kedua mata itu utk diletakkan di depan bersamaan sbgm mata manusia.
Jika kita asumsikan ikan tdk berpikir spt manusia, maka ‘diletakkan bersamaan’ dlm hal ini artinya secara naluriah ikan menyamakan pandangan secepat mungkin.
Menghilangkan perbedaan pendapatnya ttg ‘memandang sesuatu’; menyamakan pendapatnya bahwa yg dilihat berbeda adalah ‘lingkungan kehidupan yg sama’.
Ikan bijak itu.., dalam istilah manusia dsebut ‘mengalami pencerahan’. Pencerahan itu pula yg sll dibutuhkan dalam bergerak maju, menghindari bahaya, dan menjalani hdp kesehariaannya.
Seperti bermeditasi, maka berlatih selalu mengalami pencerahan setiap saat akan memampukan kita mempunyai perspektif yg sama ttg hidup, yg kt butuhkan sepanjang waktu, yaitu: Kedamaian batin ttg segala sesuatu yg kt saksikan dan alami shg nyata benar bhw HIDUP INI INDAH utk dijalani.
Selamat berbahagia sobats.
*bread for friends
(Bergabung dengan bread for friends di FB utk mndptkan banyak inspirasi dari penulis buku bread for friends).
Posted in Umum
BFF#140 – Cap Go Meh, sebuah kekayaan bernilai budaya
Cap Go Meh, sebuah kekayaan bernilai budaya
Oleh : Lintong Simaremare*
Hari ke-15 tahun baru Cina disebut dengan Cap Go Meh [dialek Hokkian]. Cap Go Meh adalah salah satu perayaan budaya yang terbesar di Negara-negara yang penduduknya terdapat komunitas Tionghoa di luar Cina. Perayaan budaya ini tidak tersembunyi lagi namun telah diijinkan pemerintah untuk memberikan ruang terhadap keaneka ragaman budaya Indonesia sejak Gus Dur sebagai presiden.
Cap Go Meh yang secara diartikan sebagai hari ke-15 bulan pertama Imlek (tahun baru Cina). Pada hari ke-15 dianggap sebagai bulan penuh yang pertama dalam Tahun Baru tersebut. Untuk Indoensia maka Cap Go Meh akan dirayakan pada puncaknya tanggal 17 Februari 2011 malam hari (Cap Go Meh tahun 2562).
Perayaan Cap Go Meh di berbagai daerah
Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, perayaan Cap Go Meh biasanya ditandai dengan banyak kegiatan yang mengundang minat muda-mudi dan wisatawan di banyak negara. Imlek yang pada puncaknya adalah perayaan Cap Go Meh ini identik dengan lampion dan lampu-lampu berwarna merah sebagaimana yang sering kita temukan di restoran Cina di Indonesia sejak tanggal 3 Februari lalu.
Di Malaysia, perayaan Cap Go Meh dimanfaatkan sebagian besar muda-mudi Tionghoa sebagai waktu sembahyang memohon pendamping. Hal itu ditandai dengan melemparkan jeruk ke laut layaknya adegan ‘make a wish’ memohon sesuatu saat bintang jatuh.
Komunitas Tionghoa Taiwan adalah penduduk yang sangat serius dalam melakukan persiapan perayaan Cap Go Meh. Tahun ini di Taiwan dapat ditemukan pesta kembang api dan festifal lampion yang sudah dilakukan sejak hari pertama tahun 2562 Cina.
Di Indonesia – khususnya di singkawang yang dikenal dengan kota seribu kuil, perayaan Cap Goh Meh biasanya ditandai dengan arak-arakan para tatung menuju vihara atau klenteng. Tatung sendiri adalah dukun atau loya yang dipercaya bisa membersihkan kota dan membekali diri dari segala marabahaya. Pembersihan kota ini dianggap sebagai upaya mempersiapkan diri yang berarti juga merupakan harapan tahun rezeki berlimpah, urusan lancar di tahun yang baru.
Perayaan Cap Go Meh di singkawang – Kalbar, setiap tahunnya pasti dimeriahkan oleh ratusan tatung. Tatung selalu dinanti-natikan warga dan wisatawan dalam setiap perayaan Cap Go Meh.
Para Tatung akan berkumpul untuk melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan. Perjalanan para Tatung dengan menggunakan kostum warna warni ditandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang, biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga. Semakin bisa naik ke atas maka artinya semakin kuat juga ilmu tatung tersebut.
Para Tatung tidak hanya berasal dari kalangan Tionghoa, namun juga dari suku lain seperti Dayak atau Jawa, meski Cap Go Meh adalah perayaan masyarakat Tionghoa. Ini adalah pertanda kentalnya pembauran yang seharusnya menjadi contoh di seluruh daerah heterogen di Indonesia.
Sedangkan perayaan Cap go Meh di Makassar, sudah menjadi kalender rutin. Pada hari perayaan Cap Go Meh, daerah pecinaan kota Makassar akan ditutup untuk kendaraan sejak pukul 10.00 WITA pagi, namun prosesi perarakan Cap Go Meh atau yang biasa disebut Karnival Budaya Nusantara akan dimulai pukul 14.00 WITA dengan dilepaskannya puluhan ekor burung oleh Walikotamadya Makassar. Pelepasan burung diartikan sebagai lambing upaya mengembalikan mahluk pada kebebasannya, pada habitatnya.
Setelah itu, Perarakan Cap Go Meh telah dimulai diawali dengan rombongan Bhineka Tunggal Ika yang antara lain terdiri atas berbagai tokoh agama dan masyarakat serta juga diikuti oleh para Dara dan Daeng Makassar, lalu Kelenteng Kwang Kong, masyarakat Kajang dari Bulukumba, Vihara Dharma Loka, kelompok adat Aluk Tudolo dari Tana Toraja, Kelenteng Xian Ma, kelompok adat Kabupaten Bone, Kelenteng Pan Ku Ong dari Galesong Kabupaten Takalar, Vihara Dharma Agung, Komunitas Bissu dari Segeri, Kabupaten Pangkep, Mapanbumi, Kelompok Adat Mappasili Pallawa serta Vihara Girinaga. Di barisan terakhir ditutup oleh Yayasan Budha Tzu Chi yang antara lain membersihkan sampah yang memenuhi sepanjang jalan yang dilalui rombongan prosesi tersebut.
Hampir setiap klenteng mengarak dewa dan dewi. Seperti Klenteng Kwan Kong yang mengarak Dewa Kwan Kong sebagai dewa perang dan dewi Kwan Im sebagai pembawa cinta kasih. Vihara Dharma Loka mengarak Dewa Cho Sua Kong atau dewa pengobatan, dan Klenteng Xian Ma yang membawa Dewi Xian Ma. Karnival ini berakhir sekitar pukul 16.30 WITA.
Sebagai akhir dari perayaan Tahun Baru Imlek di Makssar, pada hari yang sama pukul 19.00 diadakannya Pasar Malam yang menyediakan kurang lebih 50 stan yang menyediakan dan menjual berbagai macam makanan, minuman, hingga produk-produk-produk seperti kembang api, asuransi, dll.
Kemudian ada juga kegiatan yang dilakukan sepanjang jalan Sulawesi, mulai dari perempatan jalan Sangir hingga ke ujung Jalan Ahmad Yani, ditutup untuk kendaraan sehingga para pejalan kaki leluasa, baik untuk melakukan ibadah persembahan kepada para Dewa di Klenteng-Klenteng yang ada di sepanjang jalan tersebut (Kelenteng Locia – di perempatan Jalan Serui dan Sulawesi, Kelenteng Xian Ma – di pertigaan jalan Bali dan Sulawesi serta Kelenteng Kwang Kong) maupun sekedar untuk menikmati malam penutupan Tahun Baru Imlek tersebut. Tidak hanya itu, tetapi juga ada tiga panggung hiburan yang disiapkan yang diisi dengan aneka hiburan, baik tarian maupun aneka musik lainnya. Acara ini berakhir pukul 24.00.
Selamat Imlek 2562 bagi para saudaraku etnis Tionghoa.
Selamat merayakan Cap Go meh, semoga setiap tahun menjadi tahun berkat bagi kita semuanya.
Lintong Simaremare,
*Penulis buku Bread for Friends & pemerhati nilai-nilai sosial kemanusiaan
Sumber tulisan: berbagai liputan, referensi online dan wawancara.
Posted in Umum
BFF#139 – Pengunduran diri Husni Mubarak, lebih dari suksesi pemerintahan
Pengunduran diri Husni Mubarak, lebih dari suksesi pemerintahan
Oleh : Lintong Simaremare – Penulis buku Bread for Friends / Pengamat nilai-nilai sosial kemanusiaan.
Note: Tulisan ini telah dimuat di detikcom tanggal 17 Feb 2011.
Gerakan yang ditandai dengan demostrasi ‘sejuta’ rakyat Mesir di alun-alun Tahrir Square Cairo Mesir selama 18 hari telah berakhir. Demostrasi yang dimulai dengan seruan reformasi hak azasi dan demokrasi atas kepemimpinan diktator presiden Husni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun penuh sejak tahun 1981 tersebut telah membuahkan hasil yang menggembirakan rakyat Mesir dengan pengunduran diri Husni Mubarak tanggal 11 Februari 2011.
Sehari sebelumnya (10/02) Husni berusaha memberikan janji baru pemerintahannya tentang sebuah komitmen perubahan di negeri berpenduduk 81 juta jiwa itu, namun rakyat Mesir nampaknya sudah tidak percaya lagi dengan presidennya yang telah mengendalikan Mesir setelah tewasnya Anwar al-Sadat 30 tahun silam.
Dalam hubungannya dengan dinamisasi sosial, ada beberapa hal menarik yang dapat kita jadikan pelajaran dari peristiwa demokrasi di negerinya Cleopatra dan berdirinya pyramid yang sangat terkenal itu. Antara lain:
Pertama, Gerakan massa saat ini sudah semakin mudah diorganisir dan mendapat pengaruh yang cepat dari belahan dunia lain seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya gerakan massa yang sebelumnya terjadi di Tunisia menggulingkan presidennya. Selain itu dapat pula kita saksikan gerakan yang mulai merembet ke Yaman dan Iran serta ada potensi ke Negara lain terutama Negara tetangga setelah keberhasilan rakyat Mesir menggulingkan presidennya.
Boleh dikatakan bahwa masyarakat dunia yang lebih berpengaruh saat ini adalah masyarakat online. Hal itu lebih diperkuat lagi dengan kecepatan pemberitaan media audio visual. Kecenderungan manusia online lebih dinamis dibanding manusia offline. Sedangkan upaya dalam melakukan internalisasi dan ekternalisasi kegiatannyapun, manusia online jauh lebih efektif dibanding manusia offline. Itu pula yang membuat betapa mencengangkannya bagi dunia bahwa begitu banyak kesuksesan gerakan-gerakan dengan memanfaatkan jejaring sosial yang merambat kemana-mana. Hal itu telah dibuktikan Obama sejak menjadi sebagai senator sampai menduduki kursi nomor satu di Amerika Serikat.
Kedua, Rakyat Mesir yang bergerak diwakili oleh penduduk Cairo (tidak lebih dari 10 % dari penduduk Mesir) berhasil mengangkat issue penting dunia yang disebut dengan reformasi hak azasi dan demokrasi. Para demonstran menuntut mundurnya presiden yang dianggap tidak peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan: Mementingkan kesejahteraan diri sendiri; Tidak menerima perbedaan pendapat dan selalu melemahkan serta berupaya melenyapkan oposisi.
Pergerakan yang dilakukan di alun-alun Tahrir Square di kota Cairo – kota termasyur yang ditemukan tahun 969 ini, selain adanya beberpa kepentingan dunia di mesir, otomatis mendapat perhatian dunia dan menjadi sorotan seluruh media selama 3 pekan. Alhasil banyak pemimpin dunia bahkan presiden AS serta sekjen PBB meminta agar Husni Mubarak memperhatikan keinginan rakyatnya untuk pengunduran dirinya.
Walaupun tidak sama persis dengan latar belakang kejadian demonstrasi mahasiswa di Indonesia yang berhasil menggulingkan presiden Soeharto yang dikenal sebagai bapak pembangunan itu, namun kepemimpinan yang terlalu lama memang cenderung menciptakan status quo pemerintahan yang berimplikasi kepada gersangnya perubahan yang dilakukan kepada rakyat banyak. Dan lebih berbahayanya lagi, sangat dimungkinkan terjadi jaringan kenyamanan pemerintah berkuasa yang terlanjur berakar ke semua lini. Alhasil akan mudahlah terjadi kediktatoran dan kesewenang-wenangan pimpinan tertinggi.
Apapun namanya perjuangan mereka, namun Rakyat Mesir telah berhasil membuka mata dunia bahwa saat ini adalah era kepemimpinan berdasarkan kemauan rakyat. Dan bagi pemimpin yang tidak peka terhadap keinginan rakyatnya tentunya harus siap-siap untuk lengser dari haegomoninya atau jika tidak harus berhadapan dengan kuatnya oposisi yang selalu bergabung dengan mayoritas rakyat yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan dalam sebuah era tertentu.
Selain itu, peminpin yang secara mayoritas dipilih oleh rakyatnya pada awalnya, maka dalam perjalanannya harus membuktikan kapabilitas kepemimpinannya. Sebab rakyat semakin cerdas disebabkan semakin mudah mengakses informasi yang bermanfaat maka dengan mudah pula mengawasi kinerja pemimpin – pemimpin yang telah dipilihnya dan tidak segan-segan pula mengkritisi pemimpin dengan berbagai cara yang semakin terbuka.
Sisi lain yang perlu dijadikan pelajaran adalah bahwa sangat disayangkan segala kenyamanan dan kekuasaan selama 30 tahun akhirnya menjadi sebuah kebanggaan yang tak berarti bagi banyak orang pada akhirnya. Hal itu masih baik dibanding sebuah upaya rakyatnya yang mungkin untuk menuntut hal-hal yang lebih ekstim seperti penarikan kekayaan dari pemimpinnya yang dianggap korup selama masa kepemimpinannya.
Saat ini semakin nyata bahwa kepemimpinan itu adalah ujian. Ketika kepemimpinan itu menyejahterakan rakyat banyak, maka pemimpn akan merasakan kenikmatan di masa-masa purna baktinya, namun ketika kepemimpinan itu dijadikan sebuah kesempatan untuk menarik manfaat pribadi, maka pengadilan rakyat-pun tidak akan terhindarkan olehnya.
Demo Tahrir Square yang menghasilkan pengunduruan diri Husni Mubarak, lebih dari sebuah suksesi pemerintahan, namun sebuah kerinduan akan perubahan.
Orang bijak berkata, “Keberhasilan kepemimpinanmu dilihat bukan dari apa yang engkau dapatkan namun dari warisan terbaik yang engkau tinggalkan.”
Demikian, semoga bermanfaat.
Lintong Simaremare
*penulis berdomisili di Semarang – Jawa tengah / e-mail/facebook : lintongs@gmail.com
Posted in Umum