BFF#119-Life is fragile

September 5, 2009 - Leave a Response

Life is fragile
by: Lint Maresa (facebook)

Gempa berkekuatan 7,3 SR (skala richter) baru saja menghantam Jawa Barat pada hari ini (02/09/09). Gempa berulang yang terjadi sekitar sekitar pkl 15.00-16.00 WIB ini bukan saja terasa sangat dahsyat di Selatan Tasikmalaya yang diindikasikan sebagai pusat gempa, namun juga kota Garut dan Ciamis serta lebih jauh lagi Bandung dan Jakarta.

Kalau berbicara data banyaknya total korban, mungkin dalam waktu dekat akan kita ketahui dari institusi yang legitimate mengeluarkan data, namun kalau berbicara suasana yang terjadi saat gempa tersebut terjadi nampaknya setiap orang menyaksikannya dapat melihat suatu reaksi ketakutan yang luar biasa.

Saya bekerja di sebuah gedung di bilangan Jakarta Selatan dalam sebuah ruangan yang berada di lantai 10. Di gedung itu ada sekitar 30 perusahaan yang berkantor sebagai tenant gedung dengan masing-masing karyawan rata-rata 50 orang. Jika kita anggap 60% dari jumlah karyawan yaitu sebanyak 900 orang berlarian menuju tangga darurat dari masing-masing gedung berlantai 25 itu berduyun-duyun menuju ke bawah dengan lebar tangga 1,2 meter kira-kira seperti apa ya? Kejadian itu benar-benar saya saksikan hari ini.

Jeritan/teriakan dan doa serta nafas yang tidak teratur di tengah hentakan kaki yang terburu-buru telah menjadi pemandangan yang menggugah kesadaran hari ini. Bagi Anda yang sering merasa kuat mungkin tidak masalah, namun coba bayangkan pula hal itu dialami oleh orang-orang yang panik, wanita yang sedang hamil, orang yang obesitas, orang yang sedang kondisi badannya tidak fit dan banyak lagi kemungkinan lain dari orang yang saat lemah diantara kerumunan itu. Satu hal yang kepikir, kalau untuk menyelamatkan diri sendiri saja Anda sudah harus berupaya, bagaimana menyelamatkan orang lain?

Sekedar bayangan, gempa berskala 7,3 SR yang berhasil menggerakkan dan memecahkan 2 kotak marmer lantai persis di lantai depan meja kerja saya. Itu benar-benar telah menakutkan semua orang di gedung itu dan termasuk saya sendiri. Sampai-sampai saya tidak terpikir sama sekali untuk mem-video-kan gerakan marmer yang lepas dari lantai itu. Gerakan itu membuat beberapa detik sebelum turun tangga untuk berada pada kesadaran paling tinggi manusia seperti saya. Kesadaran itu berupa penyerahan diri kepada Sang Pencipta bahwa saya ini bukanlah apa-apa.

Beberapa detik itu membuat seorang anak manusia mampu berucap, “Ya Tuhan, jika hari ini waktunya, saya sudah siap menuju rumahmu”. Namun jiwa manusiawinya juga berkata, “Namun kalau bisa Tuhan, selamtakanlah aku dari bencana ini”.

Life is so fragile… – Hidup ini memanng begitu rapuh seperti sedang berjalan di atas seutas tali. Jika saja orang yang mengendalikan ujung tali melakukan gerakan, tidak banyak kemungkinan pemain sirkus yang berjalan di atas tali sekalipun tidak akan terjatuh. Jika saja Tuhan berkehendak, tidak akan ada diantara kita yang selamat.

Gempa hari ini telah mengingatkan kita tentang makna kesempatan hidup. Banyak catatan di wall facebook hari ini dengan pesan yang sangat rohani. Itu semua bukan kebetulan, namun itu menandakan bahwa memang setiap anak manusia akhirnya harus kembali ke pamahaman rohani yang dalam dan lebih dalam bahkan walaupun dalam kebutuhan jasmani yang paling tinggi sekalipun.

Turut berduka cita kepada saudara2ku yang anggota keluarganya harus pergi menghadap sang Khalik Langit dan Bumi karena gempa pada hari ini. Semoga Tuhan punya rencana terbaik bagi mereka dan memberi kekutan bagi anggota keluarga yang ditinggalkannya. Demikian juga kami ucapkan selamat berjuang kembali menata hal-hal (infrastuktur pribadi) yang harus rusak karena pergeseran lempeng atau gejolak di perut bumi ini.

Selain itu sebagai pesan bagi kita bersama, sekali lagi.. Life is so fragile… hidup kita sebenarnya begitu rapuh. Namun keadaan yang selalu rapuh itupun akan selalu kuat jika kita tetap bersandarkan kepada Kuasa Tuhan atas sang Pemberi hidup.

Jkt, 020909
Salam bread4friends.
~Lint Maresa

BFF#118 – Kopi bagi yang tidak memiliki kopi

Agustus 22, 2009 - Leave a Response

Kopi bagi yang tidak memiliki kopi
By: Lint Maresa (FB)

Kembali ke sebuah masa – masa kecil di kampung saya, kopi adalah komoditi yang menjadi unggulan yang membuat kecamatan Lintongnihuta terkenal sampai ke luar negeri terutama negera importir kopi Arabia. Kalau pada tulisan sebelumnya (BFF#112) saya pernah bercerita tentang bagaimana kopi – terutama kopi ateng telah menjadi tumpuan harapan sebagian besar penduduk di kampung saya untuk modal menyekolahkan anaknya di parjalangan (perantauan), namun saat ini saya ingin mengambil sisi lain bagaimana kopi telah memberikan sumbangsih uang jajan bagi anak-anak yang masih sekolah disana yang bisa diandalkan menjadi uang sekolah atau menambah tabungan.

Sebelunya saya mau cerita dulu tentang proses penggilingan kopi. Penggilingan dimaksudkan untuk memisahkan kulit kopi dari isi bijinya. Penggilingan kopi di kampung saya terdiri dari 2 tahap: tahap pertama adalah penggilingan yang dilakukan para petani sebelum menjual kopinya kepada saudagar yaitu dengan melakukan penggilingan menggunakan mesin manual dengan engkolan pedal sepeda atau dengan menggunakan lesung dan andalu (alu/antan). Sekali lagi, penggilingan dimaksudkan untuk memisalkan kulit luar (kulit merah) dari kopinya. Setelah itu maka kopi akan dijual dalam keadaan sudah tidak memiliki kulit merah namun masih diliputi oleh kulit dalam (biasanya warna kuning) dan dijual per liter pada hari senin (sebagai hari pekan-hari pasar 1 x seminggu) di kampung saya.

Penggilingan tahap kedua adalah tahap penggilingan dengan mesin yang dilakukan oleh si toke kopi [istilah yang dialamtkan ke saudagar besar kopi-Red] yang dimaksudkan untuk memisahkan kulit kuning tipis dari biji/isi kopi. Kopi memang sumber penghasilan yang baik bagi para pemilik kebun juga para saudagar, namun keluarga yang tidak memiliki tanaman kop, atau tidak berdagang atau berjual-beli kopi sebagai penghasilannya juga bisa menikmati penghasilan dari pekerjaan seputar kopi ini.
Sejak kopi sudah berada di tangan si toke kopi, maka banyak pekerjaan yang bisa dilakukan yang yang dapat menyumbangkan pendapatan bagi masyarakat di kampung saya dan hal itu dialami keluarga kami dalam waktu yang lama sebelum saya merantau ke Medan di kala itu.

Pada saat kopi dengan jumlah berton-ton kopi sudah mulai dibawa (diangkut) ke mesin penggilingan, artinya saatnya bagi kami bekerja usai makan siang sepulang sekolah. Hal pertama adalah membawa goni (karung besar) dan bersiap-siap di pipa pembuangan ampas kulit kopi, dengan sapu tangan atau handuk kecil (seperti handuk putih yang sering dipakai supir metro mini :-) ) yang menutupi hidung, berlomba dengan mengikuti kerja mesin memasukkan ampas ke dalam karung.

Satu sampai tiga karung ampas kulit kopi dapat saya kumpulkan sehari untuk dibawa ke rumah menggunakan sorong (sejenis beko). Ampas itu akan kami gunakan untuk bahan memasak agar mengirit kayu bakar. Karena dengan menggunakan ampas kopi satu ember yang dibentuk menyesuaikan cetakan tungku bulat, ditambah satu buah kayu bakar cukup memasak beras, menjarangkan air dan akhirnya memanaskan makanan ternak (babi). Jika ampas yang terkumpul lumayan banyak, bisa juga dijual 1 karung 2 karung kepada tetangga yang kebetulan kehabisan ampas kopi di rumahnya.

Pekerjaan yang kedua adalah memilih kopi setelah proses penggilingan. Memilih kopi yang saya maksud disini adalah bekerja kepada toke kopi dengan skope pekerjaan memilah-milah ampasnya – biasanya terdiri dari kopi yang busuk dan kisut atau kopi yang warnanya kecoklatan atau kopi yang luput dari luput dari penggilingan dan masih utuh dengan kulit kuningnya. Cara termudah memilih (memilah-milah) kopi adalah dengan menampi dengan menggunakan anduri (tampi) lebih dulu agar ampas kopi tersisihkan ke sisi ujung depan kemudian menuangkannya di atas tikar agar saat memilihnya/menguraikannya lebih mudah.

Upah yang kami terima dalam melakukan pekerjaan ini adalah dengan bayaran per kilogram, sedangkan kualitas pekerjaan biasanya melalui pemeriksaan sang toke kopi sebelum hasil pekerjaan ditimbang. Mungkin itu yang membuat anak-anak es-de di kampung saya mayoritas mengerti menggunakan tampi dengan mahir seperti memisahkan sisa padi dari beras yang baru ditumbuk. Pekerjaan ini adalah pekerjaan setiap hari sampai menjelang waktu makan malam.

Saat malam tiba tentunya saatnya belajar dan istirahat bagi anak-anak seusia saya es-de waktu itu. Selain itu ada semacam budaya bahwa guru adalah sosok yang ditakuti di jaman saya es-de sedangkan saya sendiri tidak ingin disuruh berdiri di atas meja sampai waktu istirahat tiba karena menjawab soal-soal dengan salah. Sedangkan kakak dan orang tua bisanya masih melanjutkan pekerjaan jika si toke kopi harus mengirimkan kopi segera ke kota.

Melihat sang toke kopi melakukan transaksi dengan saudagar besar dari kota, kami (anak-anak kecil di kampung itu) memiliki ide untuk melakukan pekerjaan lain yang dipastikan akan bisa mendapatkan uang lebih. Namun pekerjaan ini hanya pekerjaan mingguan yaitu di hari pekan (pasar). Setiap hari senin malam dan selasa subuh, maka kami anak-anak akan berbaris berjalan jongkok di balairung bekas pasar. Berjalan jongkok itu bukan tidak punya alasan, harus berjalan sambil jongkok agar bisa memetik kopi-kopi yang tercecer di tanah sebagai bekas jual beli kopi timbang ukur pakai liter yang ramai sebelumnya.
Pulang dari memetik kopi yang cercecer itu, setiap anak biasanya dapat membawa 1 liter kopi yang kalau digiling bisa menjadi setengah liter bersih tanpa ampas lagi dan kalau diproses manual lebih lanjut bisa menjadi seperempat kilo kopi yang cukup bagi konsumsi kami selama satu minggu.

Masa kecil yang penuh kenangan… mengingatnya saja aku sudah bahagia. Anda juga pasti memiliki masa-masa dengan sejarah yang membentuk Anda.

Salam bread4friends.wordpress.com
Join bread4friends group di facebook, Mari berbagi makna penting keseharian.

Lintong Simaremare

BFF#117 – ENVY & JELOUSY

Juli 16, 2009 - Leave a Response

ENVY & JELOUSY
by: lintong simaremare (Lint Maresa in facebook)

Envy & Jelousy bukan nama dua orang kaka beradik. Kalau diucapkan memang nama itu indah, tapi jangan diartikan kalau itu dua buah nama. Envy (rasa iri) dan Jelousy (rasa cemburu) adalah dua perasaan yang sering dirasakan seolah-olah sama. Namun kedua perasaan itu sama sekali berbeda jika kita menengok lebih jauh terhadap hal yang mendasarinya dalam diri kita. Lebih jauh tentang rasa iri dapat dilihat dalam webster dictionary yang menjelaskan envy itu adalah rasa tidak puas terhadap keuntungan yang dimilki orang lain. Dampaknya bisa menjadi rasa marah dan rasa tidak suka terhadap orang tersebut dan bahkan keinginan untuk menjadikan kepemilikan orang lain terhadap sesuatu berubah menjadi bagian kita sendiri — ‘gw yang harus memilikinya, bukan dia’, kira-kira begitu suara ego itu muncul.

Sedangkan Jelousy diartikan dengan kecurigaan terhadap kesuksesan orang lain, perlindungan yang berlebihan, keinginan menguasai yang berlebihan. Rasa cemburu ini layaknya sebuah tataran pengandaian. ‘Jika saya yang menjadi dia; jika saya yang memilikinya; jika saya yang ini.. yang itu’, kira-kira demikian ego kita berbicara. Rasa cemburu ini mengindikasikan ketergantungan kepada orang lain atas kebahagiaan kita. Seolah-olah membayangkan memiliki apa yang yang dimiliki orang lain yang menjadikan kita senang.

Rasa iri dan cemburu kalau tidak dimenej dengan baik akan sering membuat orang tidak bahagia. Mengapa? karena kedua rasa itu dengan sombongnya merasa orang lain mengambil sesuatu milik kita, padahal orang lain juga layak bahagia seperti keinginan kita. Bahayanya lagi… kita hanya peduli terhadap kesenangan kita sendiri dengan mengorbankan kesenangan orang lain; merasa terancam dengan kesenangan orang lain. Teringat pertanyaan bijak yang mengatakan, “Mengapa aku memadamkan lilin orang lain agar lilinku menyala paling terang?”.

Lantas bagaimana memenej kedua rasa ini? Oke.. pertama adalah mari kita kembali ke hakikat hidup sebenarnya bahwa kebahgiaan itu tidak terbatas. Artinya.. setiap manusia di bumi ini tidak akan kehabisan komoditi ‘kebahagiaan’. Anda setuju? Jika setuju kita lanjutkan. Kalau tidak sutuju.. yah Anda yang rugi :-)
Pada saat kita mengahami bahwa Tuhan tidak membatasi kebahagiaan manusia, maka jiwa kita akan berkembang besar melebihi yang bisa kita bayangkan. Kita akan membuka diri terhadap hal-hal indah yang tertutup oleh pikiran dan perasaan ego kita yang picik. Kita akan mengenal arti sebuah ‘kebersamaan’. kebersamaan dalam hal ini adalah kemampuan merasa gembira saat orang senang.

Btw tahu SMOS sebagai pilihan sikap? maaf karena saya tidak mengetahui istilah ini awalnya datang dari siapa sehingga saya tdak mencantumkan sumbernya. Ada emapat SMOS : Sedih melihat orang sedih, Sedih melihat orang senang, Senang melihat orang sedih, Senang melihat orang senang. Nah.. kita akan mampu masuk di level SMOS ke-empat yaitu Senang Melihat Orang Senang.

Merasakan kebahagiaan orang lain akan membuka jalan kebahagiaan yang lebih banyak juga mengalir bagi kita. Anda ingat teori kekayaan (dalam arti menyeluruh – kebahagiaan)? Kekayaan itu punya sifat affluere. Artinya mengalir ke; berlimpah ke (wadah yang terbuka). Dari sini kita belajar untuk menjadi wadah yang terbuka serta mengalirkan juga menuju wadah yang lain.
Kita akan memperoleh keuntungan yang luar biasa dengan merasakan kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan sukses yang dimiliki orang lain. Begitu juga orang lain yang merasakan kebahagiaan kita.

OK, its just a simple share for today.. Mungkin Anda mempunyai pemahaman yang jauh lebih tepat dari apa yang saya tuliskan. Tapi intinya adalah kita semua layaknya merasa bahagia dalam iringan perjalanan menuju negeri bahagia.

Salam hangat.

Lintong Simaremare (Lint Maresa)
from bread4friends group.
Join bread4friends group in FB, tell your friends about this bread sharing.

bread4friends telah dibaca 6476 orang melalui bread4friends group di FB dan www.bread4friends.wordpress.com

BFF#116 – KETERBATASAN

Juli 16, 2009 - Leave a Response

KETERBATASAN
by : lintong simaremare (Lint Maresa in Facebook)

Seorang yang memiliki masalah yang besar dengan seorang yang menganggap suatu masalah itu besar adalah dua hal yang berbeda. Saya membayangkan berada di masa dua keadaan dimana saya menjadi orang kerdil dan suatu ketika lagi rasanya saya menjadi orang besar.

Orang kerdil yang saya maksud adalah mengalami perjuangan dengan kemudahan, rasa nyaman, dukungan serta berada di daerah kehidupan yang biasa bagi saya. Fase ini membiarkan saya terlena dengan segalanya dan cenderung berpikir bahwa perjuangan bukan suatu hal yang berarti serta bukan yang menjadi keharusan dalam hidup. Keberhasilan layaknya sebuah hasil dari otomatisasi kehidupan.

Orang besar yang saya maksud disini adalah orang yang mengatasi masalah-masalah besar karena mereka hidup dengan berbagai macam rintangan dan oposan dalam perjalanan hidup mereka. Berhasil dengan segala keterbatasan dan minimnya dukungan. Mereka mengalami keterbatasan bahasa, berjuang di daerah dengan kultur yang berbeda, mengalami keterasingan dan perpisahan jarak dengan oarag-orang terdekatnya.

Satu hal yang saya percaya bahwa orang perantauan mempunyai peluang berhasil lebih besar daripada penduduk asli. Salah satu faktor dominan yang menyebakannya adalah keterbatasan. Saya berpendapat bahwa sampai sekarang masih layak diyakini jika keterbatasan telah meningkatkan harkat; telah menciptakan lonjakan perkembangan yang drastis dan telah membuka pikiran kreatif dan inovasi bagi setiap orang.

So, kalau saat ini anda merasa begitu terbatas dalam banyak hal… Sykurilah bahwa perjuangan hidup Anda sebenarnya jauh lebih nikmat dari orang-orang yang berkecukupan (materi dan materi). Tidak ada yang perlu disalahkan dengan keadaan Anda saat ini termasuk orang tua yang telah melahirkan dan mendidik Anda.

Tidak semua manusia diciptakan dalam keadaan dan lingkungan yang baik, namun semua manusia dimampukan untuk berjuang menuju hidup yang lebih baik. Keberhasilan sesuangguhnya dari perjuangan bukan apa yang kita peroleh, namun berapa banyak rintangan yang sudah kita lalui dan bagaimana kita melewati setiap proses perjalanan hidup kita.

Keberhasilan bukanlah tujuan. Jika Anda menganggap keberhasilan adalah tujuan maka tidak menutup kemungkinan Anda tidak akan memiliki semangat hidup lagi setelah Anda merasa berhasil. Keberhasilan adalah perjalanan dalam suatu rentang waktu. Keberhasilan Anda juga tidak bisa dibandingkan dengan keberhasilan orang lain baik dari segi apapun. Keberhasilan Anda adalah perbandingan dari aspek kebahagiaan dalam perjuangan Anda kemaren dan saat ini.

Ikuti perjalanan Anda menggunakan angkutan trayek sukacita yang dalam prosesnya tetap akan menghadapi kendala-kendala yang bisa Anda atasi. Jangan pernah berdoa agar Tuhan menghindarkan masalah dalam kehidupan Anda. Mintalah agar Anda selalu diberikan kekuatan dan kemampuan mengatasi segala kerikil dan gundukan yang menghalagi perjalanan Anda.

Have a great day,

~Lint Maresa
from bread4friends sharing
bread4friends always inpiring…

Tell one friend to join bread4friends group in FB.

BFF#115 – Cinta Kasih dan Keberhasilan

Juli 9, 2009 - Leave a Response

KASIH DAN KEBERHASILAN
By : Lint Maresa

CINTA – sebuah perasaan yang sering kita alami, adalah salah satu hal penting yang dapat terjadi pada seseorang setiap waktu. Cinta sebaiknya dijadikan landasan dalam melakukan segala hal, bukan sebuah formula atau obat yang disuntikkan melalui jarum ke orang yang kekurangan cinta.

Lebih jauh lagi, bertindak atas dasar CINTA KASIH adalah sebuah pilihan jalan hidup dan bukan pula sebuah tindakan untuk mendapatkan sesuatu atau menunjukkan sesuatu apalagi menyangkut ego kita yang sering menuntut proklamasi kehebatan dan kebaikan diri sendiri.

KESUKSESAN adalah seberapa sering kita bertindak atas dasar cinta kasih. Artinya bahwa kalau kita mendapatkan kelimpahan namun melalui proses yang tidak didasari cinta kasih maka kita tidak mendapatkan kesuksesan yang sesungguhnya.

Menjadi berhasil sedemikian sering atas dasar cinta kasih adalah hal yang membuat hidup seseorang berarti. Hidup yang berarti adalah tujuan ALLAH menciptakan kita. Tahapannya berarti bagi diri sendiri, berarti bagi orang terdekat (keluarga), berarti bagi lingkungan dan berarti bagi ALLAH.

Diri kita (bayangkan kita hanya seorang manusia dari milyaran manusia yg hidup berdiri di seluas tanah 1 meter persegi di sebuah planet diantara seabrek planet di tata surya) diberikan kemampuan untuk menjadi berarti bagi ALLAH yang memiliki segalanya. Untuk menjadi berarti maka ALLAH membekali kita dengan alat yang disebut KASIH.

Banyak orang yang ingin mempelajari CINTA KASIH sedemikian seriusnya. Tujuannya adalah menguak segala rahasia yang ada di dalamnya. Penelitian Cornell Univerity (Th 1999) mempublikasikan bahwa cinta adalah campuran dopamin, feniletilamin dan oksitosin di aliran darah yang mampu mengakibatkan sensasi yang kita sebut ‘tergila-gila yang terinduksi secara kimiawi’ yang di-generate dari pertemuan, kencan, seperti proses membesarkan anak.

Kalau saya berpendapat ya… cinta kasih itu tidak bisa kita bawa ke level formulasi pemahanan kita sebagai manusia. Selain alasan bahwa yang bisa dianalisis adalah hanya sebatas CINTA EROS, perlu disadari bahwa kecenderungan pikiran manusia tidak terlepas dari metoda reduksionisme: pemikiran yang menganggap segala sesuatu dapat diteliti dengan memisah-misahkan komponen penyusunnya. Sedangkan cinta kasih adalah anugerah yang utuh – sesuatu yang ada diberikan sebagaimana adanya dia. Tapi ya sudahlah.. kita tidak perlu memperdebatkan hasil penelitian itu, cukup appreciate saja kalau penelitian itu ditujukan untuk menyajikan cara pandang baru agar memperkaya pikiran kita.

Lantas apa yang perlu kita pahami kalau kita berindak atas dasar cinta kasih dihubungkan dengan harapan kita?
Semua tindakan termasuk bertindak atas dasar cinta kasih tidak bisa mengendalikan orang lain atau dunia. Jangan bermimpi bahwa Anda bisa membahagiakan orang lain meskipun Anda memperlakukannya dengan cinta dan kasih anda yang sesungguhnya. Apalagi anda berpikir dapat mengendalikan perasaanya. Jika demikian maka Anda pasti akan sering kecewa dan akhirnya mengalami hidup tidak bahagia.

Setiap orang tua tidak bisa mengendalikan perasaan sedih dan perasaan tidak bahagia pasangannya atau anaknya meskipun dia telah melakukan segala sesuatunya dengan dasar mencintainya. Demikian juga kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang tua kita dengan cara sering mengunjunginya, sering menelepon dia, sering membawanya traveling ke tempat-tempat indah dan menginap di hotel terbaik di satu kota. Tapi bukan berarti kita tidak perlu lagi bertindak atas dasar cinta.

Setiap perasaan manusia layaknya sebuah variabel bebas yang tidak tergantung apapun. Hanya celakanya, pada prakteknya kita suka salah kaprah dan berharap berlebihan, sehingga pada saat kita sedih dan tidak bahagia, kita mulai mencari kambing hitam untuk kita salahkan — padahal kita sendiri yang bertanggung jawab dengan kebahgiaan kita. Tatkala kita semangat kita lemah dan tidak mampu melakukan sebuah pekerjaan penting maka yang kita salahkan pembantu kita di rumah atau istri/suami yang tidak berhasil mendukung kita. Dengan gampangnya kita katakan bahwa kita kecewa dengan mereka.

Memang sangat penting memahami peran orang lain dalam kesuksesan kita, namun ingat bahwa tidak ada manusia lain yang bertanggung jawab atas kesuksesan kita. Maaf.. menunjukkan cinta kasih dan mendapat dukungan benar-benar dua hal yang berbeda, apalagi menganggap orang lain bertanggung jawab atas hidup kita. Tidak ada istilah resiprokal kausalis disitu, makanya cinta disebut tanpa syarat.

Lantas… apa hubungannya CINTA, kesuksesan dan pengaruh orang lain terhadap kita?
Hmmmm… masa’ harus dijelaskan lagi??? :)

Have a great day. GBU all

Rgrds,
Lint Maresa
from bread4friends sharing.

Join bread4friends group in FB
bread4friends always inspiring

BFF#114 – Pembantu

Juli 9, 2009 - Leave a Response

PEMBANTU
By : Lint Maresa

Pembantu.. sebuah profesi yang tidak asing kita dengar atau mungkin hampir semuanya kita pernah berhubungan dengan orang-orang yang memiliki profesi itu. Secara spesifik yang saya maksudkan adalah ‘pembantu’ yang kita kenal di rumah kita masing-masing atau di rumah saudara kita (jika ada).
Sebelumnya saya mohon maaf karena saya akan menggunakan istilah ‘pembantu’ ini dalam sharing kali ini dengan maksud agar objek yang dimaksud jelas alias tidak blur dalam diskusi yang mungkin kita kembangkan setelah ini.

Pertama, saya ingin memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi orang-orang yang dikenal melakukan tugas/profesi sebagai ‘pembantu’ di setiap rumah atau keluarga yang ada di muka bumi ini. Saya ingin menambahkan bahwa mereka semua sungguh melakukan tugas-tugas mulia dengan melupakan keakuan mereka sendiri. Untuk hal yang satu mereka mempraktekkan level ‘ilmu pengabdian’ yang paling tinggi dan kita perlu belajar banyak dari mereka.

Ok, bagi kita yang memanfaatkan/menggunakan jasa pembantu, sesungguhnya perlu mengoreksi sikap dan persepsi tentang mereka (jika ada yang salah selama ini). Mengapa saya katakan demikian? Karena mungkin tanpa kita sadari, kita sering tidak konsisten dengan fungsi mereka yang sebenarnya sebagai pembantu — yang bahkan kita fungsikan melebihi karyawan di perusahaan. Fungsi mereka adalah membantu = memberikan bantuan kepada kita atas pekerjaan-pekerjaan kita. So.. membantu adalah melengkapi = menambah atau menjadikan urusan pekerjaan kita lebih sempurna dibanding hanya kita sendiri yang melakukannya.

Namun ada kalanya kita lupa, bahwa pembantu sering kita arahkan melakukan segalanya di rumah, termasuk melakukan apa yang seharusnya bisa kita lakukan atau dilakukan anak-anak atau anggota rumah kita. Banyak keluarga di kota besar yang anaknya sudah besar namun tidak bisa mencuci bajunya sendiri atau mencuci sepatunya sendiri. Jangankan mencuci baju, merapikan bajunya sepulang sekolah atau menyusun buku sebelum berangkat ke sekolahpun ataupun membuat teh manis baginya sendiri ternyata banyak yang yang tidak bisa.

Mmm… celaka 12 neh namanya. Ini akibat dari salah persepsi tentang pembantu yang perlu kita pikirkan. Memiliki pembantu di rumah sangat baik. Selain membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain juga memberikan kesempatan atau waktu bagi kita untuk melakukan hal-hal yang lebih esensial bagi keluarga. Namun hati-hati jika dengan memiliki pembantu menjadikan didikan kemandirian menjadi tidak ada di rumah. Cara mengujinya sederhana: Apa yang terjadi di rumah saat pembantu cuti pulang atau kabur dan tidak kembali?

Ngomong-ngomong tentang kemandirian, seorang anak yang tidak dididik mandiri sudah pasti akan sulit menghadapi masa depannya sendiri terutama di masa-masa sulit. Dan kemampuan membayar orang lain bukan sebuah alasan untuk tidak mandiri atau melepaskan tanggungjawab mengurus diri sendiri dengan menggunakan tangan orang lain. Sekali lagi.. persepsi yang ingin saya share disini adalah bahwa membantu berarti melengkapi pekerjaan kita saat kita memiliki keterbatasan baik waktu maupun tenaga. So, jika masih punya kedua hal tersebut, ada baiknya berpikir kembali bagaimana kita memanfaatkan tenaga pembantu selama ini.

Ok terlepas dari bagaimana sikap kita terhadap saudara kita yang mempunyai profesi sebagai pembantu di rumah kita, mari berangkat dari fakta banyaknya anak-anak dan generasi manja di kota besar yang berpotensi melepaskan tanggungjawab.

Anyway, by the way, busway… Saya bersyukur sejak kelas lima es-de diberikan tanggungjawab mencuci dan nyetrika baju sendiri meskipun mempunyai orang tua & kakak-kakak yang bisa saja melakukannya untuk saya. Hehehe.. (Thx among, inong, sist n bro)

Bagaimana menurut Anda?

Salam,

Lint Maresa
www.bread4friends.wordpress.com
—–bread4friends always inspiring—–
Join bread4friends group in FB

BFF#113 – Pekerjaan yang membahagiakan

Juli 9, 2009 - Leave a Response

Pekerjaan yang membahagiakan
By : Lint Maresa

Kalau bicara pekerjaan.. topik ini pasti tidak asing lagi buat kita semua. Kita semua memang seharusnya bekerja, layaknya kita harus makan untuk hidup. Bagi orang yang tidak bekerja selayaknya tidak memperolah apa-apa, kecuali pemberian orang lain-itupun sangat terbatas. Sedangkan untuk menerima pemberianpun (dari Tuhan), kita harus bekerja. Bekerja dalam hal ini bukan dalam arti sempit yaitu menjalani kontrak dan digaji. Tapi lebih luas lagi: Melakukan suatu pekerjaan sebagai wujud gerakan pikiran dan tubuh untuk membuat suatu makna yang bernilai.

Agar tidak mengambang, saya ingin lebih fokus membicarakan hal ini dengan istilah “Melakukan pekerjaan sebagai profesi kita”. Mengapa banyak orang melakukan pekerjaan (memang seharusnya kita bekerja) namun tidak merasakan kebahagiaan dalam pekerjaannya? Oke, bahagia seperti apa yang saya maksudkan?, Baiklah.. Jika seseorang sering merasa bosen, marah, frustasi, takut melakukan yang diinginkannya, tidak melibatkan hatinya dalam bekerja – bekerja dengan rutinitas yang kosong, maka keadaan itu layak kita sebut ‘keadaan tidak bahagia’ dalam bekerja.

Lantas apa yang ingin kita uji dari keadaan tersebut? Suatu pekerjaan yang membahagiakan mempunyai kriteria standar yang dapat kita jadikan patokan. Kriteria itu telah teruji sepanjang zaman bahkan sejak awal penciptaan manusia untuk memenuhi bumi dan menguasai isinya. Pekerjaan dan aktivitas kita masing-masing dapat di-cluster menjadi bagian-bagian yang harus kita pertahankan atau tidak agar kita tetap bahagia.

Caranya dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar dan menjawabnya dengan jujur dalam hati kita masing-masing. Pertanyaan itu adalah:
1. Apakah perkerjaan ini mempunyai nilai bagi kehidupan saya?
2. Apakah pekerjaan ini merugikan orang lain?
3. Apakah perkerjaan ini dapat memberkati orang lain?

Jawaban pertanyaan itu akan degradatif menuju esensi hidup yang sebenarnya yaitu: Hidup punya makna; Hidup untuk menghidupi, dan diberkati untuk memberkati.

Banyak cara mencari uang atau membuat mata pencaharian, namun untuk melakukan pekerjaan yang benar adalah pilihan yang tidak mudah.

Salam

~Lint Maresa
www.bread4friends.wordpress.com
——- bread4friends always inspiring———-

Join & be the member of bread4friends group in FB… find the simple daily values

BFF#112 – Kasih dan waktu

Juli 9, 2009 - Leave a Response

Kasih dan waktu
by: Lintong Simaremare

Doktrin yang saya dapatkan sejak pertama saya belajar memaknai hidup dan sampai sekarang tetap saya yakini adalah, “Tiga hal yang harus ada selamanya dalam hidup adalah Iman, Pengharapan dan Kasih”. Ketiga hal itu baiklah saya singkat saja jadi IPK (bukan indeks prestasi komulatif sebagaimana dikenal di kampus). Turunan dari doktrin itu salah satunya adalah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Masih tentang Kasih, titik berat sekaligus prioritas atau hukum yang terutama dari IPK adalah Kasih.. yah KASIH. Mengapa? entahlah mengapa kasih menjadi paling penting diantara ketiga unsur di atas. Jika dipandang dari sifatnya, KASIH memang memiliki life time yang everlasting alias abadi atau kekal. Jika kita hanya memiliki ‘Iman’ maka iman kita berhenti pada saat kita menyelesaikan misi di dunia ini. Jika kita hanya memiliki ‘Pengharapan’ maka itupun berjalan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Lalu jika kita memiliki “KASIH’?, nah.. itu bisa kita wariskan sekaligus menjadi warisan kekal.

Coba kita ingat-ingat sejak bangun hari ini, bagaimana sikap kita berhadapan dengan orang yang pertama kita lihat saat kita terbangun, orang yang kita temukan sedang menyapu dan ngepel ruang tamu rumah kita saat kita melintas menuju kamar mandi, orang yang jasa ojeknya kita gunakan mengantarkan kita ke kantor? Bagiamana kita memperlakukan mereka semua? Apakah kita mengasihi mereka sebagaiman kita mengasihi diri sendiri?

Wujud KASIH yang paling tinggi adalah WAKTU. Mengapa? Karena ketika kita memberikan waktu, maka kita tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Berbeda dengan memberikan materi, tentunya bisa Anda dapakan lagi bahkan lebih banyak dari apa yang Anda berikan sebelumnya. Orang bijak sering berkata, “Lihat saja waktunya digunakan untuk apa?, itulah hidupnya”.

Kesibukan yang sering kita gunakan sebagai alasan untuk tidak memiliki waktu yang berkualitas, sering menjadi musuh besar dalam harmoni kehidupan kita terutama dalam misi mengasihi orang lain. Hal ini mutlak saya akui karena saya benar-benar manusia yang sengaja atau tidak sengaja sering menggunakan dalih ini. Diri ini rasanya menjadi babu pekerjaan mencari nafkah, babu rekening-rekening tagihan, babu dari pemenuhan pembayaran hutang-hutang lain, babu dari pembiayaan alat-alat, baju & sepatu dan liburan yang mahal. Menjadi babu sama dengan mengorbankan waktu. Kita sering mengorbankan waktu untuk sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan hidup. Mari saling mendoakan agar semakin mengasihi dengan memberikan waktu yang berkualitas sekecil apapun itu.

Kasih, mengasihi, memberi waktu yang baik seharusnya menjadi tujuan sekaligus ambisi besar dalam kehidupan kita. Dan kasih itu adalah TINDAKAN, sebab kehidupan (yang sifatnya bertumbuh) tanpa kasih, benar-benar tidak berharga sama sekali. Tetaplah berkarya, tetaplah memproduksi banyak hal yang dibutuhkan dunia dan mahluk hidup di dalamnya, namun jangan lupa sebagaimana yang pernah dikatakan Paulus, “Tidak peduli apa yang kukatakan, apa yang kuyakini dan apa yang kulakukan. Tanpa KASIH aku gagal.”

Selamat menguji kualitas kasih Anda dan Saya.

Salam metanoia,

~Lint Maresa
www.bread4friends.wordpress.com
bread4friends always inspiring…

Join bread4friends group.. find a simple daily values

BFF#112 KOPI ATENG dan TUGAS KELILING

Juni 22, 2009 - Leave a Response

KOPI ATENG dan TUGAS KELILING

Teringat masa itu…

Sejak lahir dan diberi nama LINTONG sampai lulus es-em-pe, saya tinggal di Sibuntuon – ibukota kecamatan Lintongnihuta – Tapanuli Utara (sekarang Humbang Hasundutan). Lintongnihuta yang jaraknya sekitar 300KM dari Medan, kini semakin heboh (istilah lain dari bergairah :-) ) dan masih tetap didongkrak oleh perkebunan rakyat yang ditanami dengan kopi, jeruk, ubi jalar, kol dan hutan pinus. Sedangkan persawahan ditanami padi lokal pola satu kali tanam. Tanah-tanah yang ditumbuhi lalang dipergunakan sebagai area makanan ternak kerbau. Kecamatan Lintongnihuta terkenal dengan kopi ateng atau lebih terpopuler disebut dengan “Lintong coffee” yang banyak diekspor keluar terutama ke China.

Orang-orang di kampung kami senang memberikan nama julukan terhadap orang-orang ataupun produk yang ada disana. Saya masih ingat ada julukan si Lapa Hoda (orang tersebut berprofesi sebagai penjagal kuda); si Par Cas (karena usaha orang itu nge-cas baterei – maklum sampai saya lulus SMP belum menikmati PLN masuk desa kami, jadi kalau mau nonton TV harus pake baterei yang dicas setiap minggunya ke pasar). Yang pasti nama julukan itu akan lebih dikenal daripada nama atau marga seseorang disana.

Begitu juga julukan untuk Lintong Coffee – komoditi yang saat ini banyak diekspor ke China. Kopi itu disebut kopi ateng si garar utang. Disebut kopi ateng karena tingginya yang tidak seberapa — hanya sekitar 1 Meter. Sedangkan si garar utang artinya adalah pembayar utang, karena umumnya orang sana berani meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan terutama keperluan anak sekolah di perantauan. Sedangkan untuk membayar hutangnya kelak direncanakan dari biji kopi itu karena umur berbuahnya relatif cepat tidak seperti kopi pada umumnya.

Teringat ke masa tahun 1985-1987 silam, cerita masa kecil yang ada hubungannya dengan kopi, ibu saya selalu memastikan kami anak-anaknya setiap subuh untuk berkeliling sekitar desa. Berkeliling membawa sebuah sekop kecil dan keranjang yang bentuknya seperti bakul jamu. Ada satu kebanggaan tersendiri kalau keranjangku penuh setelah melakukan tugas keliling. Untuk memenuhi keranjang itu, saya bersama-sama anak kampung berlomba-lomba. Tatkala di kejauhan sana ada kerbau yang mengangkat ekornya, maka siapa yang lebih dulu meneriakkan ‘i na di au’ (itu milikku), artinya dia berhak atas kotoran kerbau yang akan segera keluar dari perut kerbau itu. Kemudian dengan bangganya akan dimasukkan ke keranjang bawaannya. Demikian juga dengan kotoran babi yang pasti kami cari untuk memenuhi keranjang.

Mencari kotoran kerbau dan babi waktu itu memang tidak susah, karena di kampungku kedua jenis hewan itu masih bebas berkeliaran dan setiap pemilik tidak akan keliru mengandangkan kerbau dan babinya di sore hari. Setelah keranjang itu penuh maka kami akan berjalan sekitar 1-2 KM menuju kebun kopi dan ubi untuk mengantarkan isi keranjang itu dan menimbunnya di satu titik di kebun kami masing-masing sehingga siang harinya ibu saya akan membagi-bagikan kotoran merata ke setiap pangkal tanamannya disana.

Saatnya kembali ke rumah, berjalan, berlari sambil bernyanyi dengan membawa kembali sekop dan keranjang kosong. Mmmm… rupanya ibu sudah menyiapkan nasi di priuk, ubi rebus dan purik (air tajin) untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Jika harinya adalah Senin (satu-satunya hari ada pasar di kampung saya), rasanya pengen pulang dan berlari agar cepat sampai di rumah. Mengapa tidak? karena biasanya ibu membeli daging dan ikan laut atau lele untuk mengganti menu ikan asin yang sudah monoton selama 6 hari sebelumnya. Dan pulang dari pasar ibu akan membawa kacang dan popcorn (ala buatan kampung) untuk cemilan kami bercanda di rumah.

Upss… saatnya ganti pakaian, karena akan ikut ibu kembali ke pasar. Di gerbang pasar kami berpisah mengambil arah yang berbeda karena ibu akan menjajakan jualannya- beberapa kaleng biji kopi, sedangkan aku akan mulai berkeliling di dalam pasar mengasong sabun batangan cap telepon dan es lilin di termos. Untungnya lumayan buat jajan dan ditabungkan ke ibu untuk dipake buat beli buku tulis yang akan segera habis dan pensil kalau sudah pendek.

INDAH bukan? :-)

BFF#111 – Interview tentang CERMIN

Juni 17, 2009 - Leave a Response

Interview tentang CERMIN
by : Lint Maresa

Cermin memang menolak setan. Setidaknya keyakinan itu yang mendasari mengapa cermin banyak dipasang di atas pintu tokoterview tentang /rumah saudara kita dari etnis tionghoa. Tertarik ingin tau lebih jauh, akhirnya daku melakukan penelusuran lebih jauh melalui interview dengan orang di kelompok mereka.

Pembicaraannya kami kira-kira begini:

A (Aku) : Koh, mengapa banyak saudara-saudara kita yang memasang cermin di depan rumah, khusunya area di dekat pintu?
D (Dia) : Oh.. itu memang disengaja agar setan enggan masuk ke rumah atau ke toko kita.

A : Enggan? maksudnya? Tetap bisa masuk dong?
D : Memang bisa masuk kalau tetap maksa.

A: Tetap maksa? Bukankah cermin itu diyakini bisa menolak atau menghadang setan yang berniat masuk?
D (Sembari tersenyum membuka mulut menjawab pertanyaan polosku) : Bayangkan seseorang yang sedang berada di depan pintu dan melihat cermin itu. Sebelum masuk ke rumah, dia akan melihat wajahnya; Dia kan melihat penampilannya; Dia akan menyaksikan bentuknya sendiri. Jika dia melihat wajahnya yang mesem, murung, bringas, tidak bersahabat dan hal lain yang jelek menurut dia sendiri, maka kemungkinan besar dia akan mengubah diri menjadi lebih manis, lebih baik, lebih bersahaja. Artinya semua setan – yaitu segala kejelekan yang dia bawa akan berhenti sampai di pintu itu dan tidak akan ikut masuk ke rumah. Ingat dek, setiap orang punya potensi untuk membawa setan dalam dirinya masing-masing.

A (dengan mimik Takjub): Sekarang saya memahaminya koh… suatu pencerahan yang luar biasa artinya. Tze ze..

Salam,
bread4friends !
always inspiring