BFF#112 KOPI ATENG dan TUGAS KELILING

Juni 22, 2009 - Leave a Response

KOPI ATENG dan TUGAS KELILING

Teringat masa itu…

Sejak lahir dan diberi nama LINTONG sampai lulus es-em-pe, saya tinggal di Sibuntuon – ibukota kecamatan Lintongnihuta – Tapanuli Utara (sekarang Humbang Hasundutan). Lintongnihuta yang jaraknya sekitar 300KM dari Medan, kini semakin heboh (istilah lain dari bergairah :-) ) dan masih tetap didongkrak oleh perkebunan rakyat yang ditanami dengan kopi, jeruk, ubi jalar, kol dan hutan pinus. Sedangkan persawahan ditanami padi lokal pola satu kali tanam. Tanah-tanah yang ditumbuhi lalang dipergunakan sebagai area makanan ternak kerbau. Kecamatan Lintongnihuta terkenal dengan kopi ateng atau lebih terpopuler disebut dengan “Lintong coffee” yang banyak diekspor keluar terutama ke China.

Orang-orang di kampung kami senang memberikan nama julukan terhadap orang-orang ataupun produk yang ada disana. Saya masih ingat ada julukan si Lapa Hoda (orang tersebut berprofesi sebagai penjagal kuda); si Par Cas (karena usaha orang itu nge-cas baterei – maklum sampai saya lulus SMP belum menikmati PLN masuk desa kami, jadi kalau mau nonton TV harus pake baterei yang dicas setiap minggunya ke pasar). Yang pasti nama julukan itu akan lebih dikenal daripada nama atau marga seseorang disana.

Begitu juga julukan untuk Lintong Coffee – komoditi yang saat ini banyak diekspor ke China. Kopi itu disebut kopi ateng si garar utang. Disebut kopi ateng karena tingginya yang tidak seberapa — hanya sekitar 1 Meter. Sedangkan si garar utang artinya adalah pembayar utang, karena umumnya orang sana berani meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan terutama keperluan anak sekolah di perantauan. Sedangkan untuk membayar hutangnya kelak direncanakan dari biji kopi itu karena umur berbuahnya relatif cepat tidak seperti kopi pada umumnya.

Teringat ke masa tahun 1985-1987 silam, cerita masa kecil yang ada hubungannya dengan kopi, ibu saya selalu memastikan kami anak-anaknya setiap subuh untuk berkeliling sekitar desa. Berkeliling membawa sebuah sekop kecil dan keranjang yang bentuknya seperti bakul jamu. Ada satu kebanggaan tersendiri kalau keranjangku penuh setelah melakukan tugas keliling. Untuk memenuhi keranjang itu, saya bersama-sama anak kampung berlomba-lomba. Tatkala di kejauhan sana ada kerbau yang mengangkat ekornya, maka siapa yang lebih dulu meneriakkan ‘i na di au’ (itu milikku), artinya dia berhak atas kotoran kerbau yang akan segera keluar dari perut kerbau itu. Kemudian dengan bangganya akan dimasukkan ke keranjang bawaannya. Demikian juga dengan kotoran babi yang pasti kami cari untuk memenuhi keranjang.

Mencari kotoran kerbau dan babi waktu itu memang tidak susah, karena di kampungku kedua jenis hewan itu masih bebas berkeliaran dan setiap pemilik tidak akan keliru mengandangkan kerbau dan babinya di sore hari. Setelah keranjang itu penuh maka kami akan berjalan sekitar 1-2 KM menuju kebun kopi dan ubi untuk mengantarkan isi keranjang itu dan menimbunnya di satu titik di kebun kami masing-masing sehingga siang harinya ibu saya akan membagi-bagikan kotoran merata ke setiap pangkal tanamannya disana.

Saatnya kembali ke rumah, berjalan, berlari sambil bernyanyi dengan membawa kembali sekop dan keranjang kosong. Mmmm… rupanya ibu sudah menyiapkan nasi di priuk, ubi rebus dan purik (air tajin) untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Jika harinya adalah Senin (satu-satunya hari ada pasar di kampung saya), rasanya pengen pulang dan berlari agar cepat sampai di rumah. Mengapa tidak? karena biasanya ibu membeli daging dan ikan laut atau lele untuk mengganti menu ikan asin yang sudah monoton selama 6 hari sebelumnya. Dan pulang dari pasar ibu akan membawa kacang dan popcorn (ala buatan kampung) untuk cemilan kami bercanda di rumah.

Upss… saatnya ganti pakaian, karena akan ikut ibu kembali ke pasar. Di gerbang pasar kami berpisah mengambil arah yang berbeda karena ibu akan menjajakan jualannya- beberapa kaleng biji kopi, sedangkan aku akan mulai berkeliling di dalam pasar mengasong sabun batangan cap telepon dan es lilin di termos. Untungnya lumayan buat jajan dan ditabungkan ke ibu untuk dipake buat beli buku tulis yang akan segera habis dan pensil kalau sudah pendek.

INDAH bukan? :-)

BFF#111 – Interview tentang CERMIN

Juni 17, 2009 - Leave a Response

Interview tentang CERMIN
by : Lint Maresa

Cermin memang menolak setan. Setidaknya keyakinan itu yang mendasari mengapa cermin banyak dipasang di atas pintu tokoterview tentang /rumah saudara kita dari etnis tionghoa. Tertarik ingin tau lebih jauh, akhirnya daku melakukan penelusuran lebih jauh melalui interview dengan orang di kelompok mereka.

Pembicaraannya kami kira-kira begini:

A (Aku) : Koh, mengapa banyak saudara-saudara kita yang memasang cermin di depan rumah, khusunya area di dekat pintu?
D (Dia) : Oh.. itu memang disengaja agar setan enggan masuk ke rumah atau ke toko kita.

A : Enggan? maksudnya? Tetap bisa masuk dong?
D : Memang bisa masuk kalau tetap maksa.

A: Tetap maksa? Bukankah cermin itu diyakini bisa menolak atau menghadang setan yang berniat masuk?
D (Sembari tersenyum membuka mulut menjawab pertanyaan polosku) : Bayangkan seseorang yang sedang berada di depan pintu dan melihat cermin itu. Sebelum masuk ke rumah, dia akan melihat wajahnya; Dia kan melihat penampilannya; Dia akan menyaksikan bentuknya sendiri. Jika dia melihat wajahnya yang mesem, murung, bringas, tidak bersahabat dan hal lain yang jelek menurut dia sendiri, maka kemungkinan besar dia akan mengubah diri menjadi lebih manis, lebih baik, lebih bersahaja. Artinya semua setan – yaitu segala kejelekan yang dia bawa akan berhenti sampai di pintu itu dan tidak akan ikut masuk ke rumah. Ingat dek, setiap orang punya potensi untuk membawa setan dalam dirinya masing-masing.

A (dengan mimik Takjub): Sekarang saya memahaminya koh… suatu pencerahan yang luar biasa artinya. Tze ze..

Salam,
bread4friends !
always inspiring

BFF#110 – Pengakuan

Mei 30, 2009 - Leave a Response

PENGAKUAN

By : Lint Maresa

Pengakuan sangatlah penting asal jangan diartikan sebagai upaya memuaskan ego atau membuktikan bahwa manusia cenderung ego sentris. Pengakuan adalah upaya menempatkan pihak lain secara proporsional di ordinat yang tepat atas pencapaian-pencapaiannya. Jangankan pihak lain, kitapun selalu ingin diakui atas berbagai hal yang kita capai sebagai bukti eksistensi dan terlaksananya tanggungjawab pribadi kita untuk memberikan yang terbaik sebagai karya kita di bumi ini. Pengakuan juga sebagai ajang membentuk kedewasaan atau kematangan berpikir dan kematangan mengelola hati dalam menghadapai orang lain.

Baru-baru ini, suatu prestasi gemilang diraih oleh sebuah team sepakbola yang sama sekali tidak diunggulkan sebelumnya dalam menghadapai lawannya. Sebuah team sepak bola terbaik di dunia takluk – bahkan bertekuk lutut atau kalah mutlak atas lawannya. Kejadian itu berupa pertandingan final Liga Champions antara Manchester United FC (MU) dan Barcelona FC (Barca)  yang menghasilkan score 2-0 hingga mengantarkan piala yang prestisius itu ke tangan Barca.

Hampir semua pihak terkejut, mulai dari pengamat sepak bola, para manajer club bola, para fans kedua team, bahkan para paranormal terperanjak dengan hasil mutlak yang mengalahkan sang juara bertahan tanpa kesulitan. Sejujurnya saya mengangkat contoh ini bukan karena saya  memahami betul tentang bagaimana permainan dan bisnis sepak bola, karena sejak kelas satu esempe saya sudah mengalihkan olah raga saya dari sepak bola menjadi renang yang tetap menjadi olah raga faforit saya sejak saya mengalami patah tangan di pergelangan kiri yang membutuhkan peawatan khusus 2 bulan karena dimana saya adalah penyerang dalam pertandingan antar kecamatan waktu itu. :-)

Namun pertandingan final MU vs Barca itu menurut saya sangat baik kita pelajari dari sudut psikologi menyangkut mental dan sikap orang-orang menyangkut hal-hal yang sangat penting dalam hidupnya.

Dari sisi mengakui kekalahan, kita bisa belajar dari Michael Carrick – gelandang MU. Dia mengatakan, “Kami memulainya dengan sangat baik dan membuat beberapa peluang…, namaun merka adalah sebuah team yang memiliki pemain-pemain bagus, mereka pantas menang, kami tidak bisa mendebatnya.”

Senada dengan M Carrick, Salah satu pemain mahal  – sang striker Wayne Rooney mengatakan, “Ini adalah kekecewaan besar bagi kami tapi Barcelona adalah team yang lebih baik.”

Sedangkan disisi menyikapi kemenangan, kita bisa belajar dari Gerrard Pique – sang Bek Barcelona. Dia dengan tegas mengatakan, “Sebelumnya saya mohon maaf kepada para sahabat saya – pemain pemain MU, Saya melakukan kewajiban saya untuk berusaha meraih mimpi. Gelar ini sangat spesial karena saya mengukir sejarah bersama tim impian masa kecil dan kami layak memenanginya.

Demikian juga dengan pernyataan Striker Barcelona – Thierry Henry, “…lima menit terasa seperti waktu terlama dalah hidupku. Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi saat itu kami bertanding melawan team terbaik di muka bumi.” 

Pertandingan ini telah mengajarkan kita tentang bagaimana mengakui kekalahan dan menyikapi kemenangan. Pengakuan dan sikap para pemain tersebut kalau kita sadari adalah unsur penting dari kedewasaan dan kematangan yang dapat kita praktekkan dalam perjuangan hidup yang selalu mengiringi kita dalam keseharian. Kita sering menganggap harus memiliki segala supremasi karena menyadari bahwa kita adalah orang hebat yang mampu melakukan banyak hal;  Kita sering merasa mampu membeli segalanya karena memiliki banyak uang; Kita sering menganggap bahwa posisi terbaik selalu harus menjadi milik kita; Kita tidak mudah memandang bahwa pihak lain juga belajar menjadi seperti kita pernah merasakan arti sebuah prestasi. Semuanya itu tentunya akan berbeda jika kita memiliki kesadaran bahwa yang kita miliki hanyalah kemampuan melakukan yang terbaik dari diri kita, bukan kemampuan mengalahkan.

Kemampuan melakukan yang terbaik dan kemampuan mengalahkan sama sekali berbeda. Kemampuan melakukan yang terbaik adalah tanggung jawab setiap pribadi kita sekaligus merupakan tindakan mulia atas jati diri kita menjadi berarti. Sedangkan kemampuan mengalahkan akan cenderung masuk ke pusat ego kita yang disebut dengan tindakan egosentris yang tidak akan membuat dunia dan penciptanya tersenyum.

Jika kita memenangkan pertandingan karena telah mempersembahkan hal terbaik dari diri kita, maka kemenangan itu adalah bonus yang menambah kebahagiaan kita. Sedangkan jika kita harus kalah dalam satu pertandingan maka sebenarnya suka cita kita sudah penuh dan kita tetap termasuk sebagai pemenang.

Salam,

www.bread4friends.wordpress.com

Bread4friends inspires you from every simple things in daily life.

BFF#109 – UNTUK APA ?

Mei 26, 2009 - Leave a Response

UNTUK APA?

Entah mengapa dan karena apa suatu saat saya benar-benar bertanya untuk apa seseorang dilahirkan dan diberi waktu hidup di bumi ini dalam suatu rentang waktu?   Sederet jawaban yang bisa saja muncul barangkali adalah untuk memperkuat persekutuan manusia menguasai bumi dan segala isinya; memenuhi bumi dengan berkawin dan beranak cucu; atau suatu akibat fenomena biologis yang sudah tidak terbendung tanpa alasan atau tanpa rencana besar yang melatarbelakanginya?

Banyak pendapat yang isinya adalah nasihat dan petunjuk mendapatkan kelimpahan dari kehidupan ini dengan seabrek ide explorasi dengan mengatas namakan hak  manusia untuk sejahtera. Mungkin tidak salah kali yah..? Tapi kalau konsep : mendapatkan sesuatu, menambah kelimpahan, memanfaatkan sumber daya dll tidak diimbangi dengan konsep pelayanan bisa bahaya ya.

Terus terang…., saya mulai ragu bahwa kita ini sebenarnya diciptakan bukan untuk tujuan hidup untuk ‘mendapatkan banyak hal’ karena banyak hal yang kita dapat jelas tidak menjamin kita bahagia. So, ada agenda besar yang mendasari keberadaan Anda dan Saya di bumi ini. 

Kira kira apa itu? Yuk.. kita temukan sendiri masing-masing  jawabannya.

Rgrds,

~Lint

BFF#108 – TEROPONG

April 4, 2009 - Leave a Response

Teropong

Oleh : *Lintong Simaremare 

 

Sejujurnya saya merasa ada konflik dalam diri saya setiap dihadapkan kepada permintaan anak saya  - Kiyosaki untuk membelikannya sebuah mainan. Konflik yang terjadi seputar keinginan untuk membelikannya mainan dengan kualitas terbaik - yang harganya mahal atau cukup membelikan mainan murah sekedarnya. Pengalaman saya membuktikan bahwa hampir semua mainannya – mahal ataupun murah sudah berantakan pada hari kedua. Yah… mungkin hampir semua anak seusia 3-4 tahunan melakukan proses bembelajaran / uji rasa penasaran dengan membongkar mainannya tanpa memikirkan konsekuensi apapun. J

 

 

Pekan lalu, di suatu mal di Semarang, Kiyo kembali meminta sebuah mainan – sebuah teropong bercorak loreng yang dia katakan seperti teropong milik tentara di film yang mungkin kebetulan pernah dia perhatikan. Saya mencari akal untuk membujuknya mencari barang yang sama namun bisa dibeli dengan harga yang jauh lebih murah. Akhirnya saya bawa dia ke toko yang barang-barangnya rata-rata sepuluh ribuan. Akhirnya mainan itupun menjadi miliknya. 

 

 

Kiyosaki – yang pada saat ini menggunakan celana dan kaos Army, memainkan alat itu dengan mengangkat benda itu dengan menggunakan kedua tangannya dan melekatkan kepada kedua matanya ibarat seorang serdadu yang mengintai kedatangan iringan tank menelusuri jalan sempit di lereng gunung.

Setelah beberapa saat dia sibuk memutar-mutar bulatan bergerigi diantara kedua lensanya, tiba-tiba dia berhenti dan menyerahkan teropong itu ke saya. Dia bilang, ”Pi, saya tidak mau teropong ini lagi. Tidak usah pakai teropong ini, Kiyo bisa melihat jauh kok pi”.

 

Awalnya saya tidak memahami apa maksud ucapannya itu, sehingga saya tertantang mencoba menggunakan benda itu. Namun setelah saya gunakan, saya tidak mendapatkan masalah apa-apa dengan alat-mainan yang dia punya itu. Lalu saya katakan, ”Kiyo.. teropong ini bagus kok, mengapa Kiyo tidak menggunakannya lagi sayang?, Coba lagi deh”. Lalu Kiyosakipun mencobanya kembali dan upss…. ternyata dia menggunakan teropongnya terbalik. Kemudian, saya mencoba meminta kembali teropongnya dan mengajari cara yang benar menggunakannya dan akhirnya kamipun tertawa lepas bersama.

 

Begitu juga dalam memandang hidup ini. Masalah menggunakan teropong ini adalah sama halnya dengan masalah seseorang yang memandang sesuatu yang luas menjadi kelihatan sempit dikala seseorang salah menggunakan mata hati dan pikirannya dalam memandang sesuatu. Kita tidak harus mengalami semua pengalaman kehidupan untuk bisa memandang luas segala fenomena hidup yang terjadi, namun kita dapat menggunakan fokus dan lensa pembesar mata pikiran kita dengan benar. 

 

 

Pengalaman hidup kita yang terbatas bisa menjadi wawasan yang tidak terbatas jika kita membuka mata dan melepaskan pandangan kita kepada samudera kehidupan yang luas ini. Bukan justru sebaliknya kehidupan yang luas ini kita pandang menjadi sempit karena kita salah dan terbalik melihatnya (terbalik menggunakan teropong). Dengan menggunakan teropong mata hati dan pikiran kita, kita mampu melihat bintang-bintang lebih jelas ibarat peluang-peluang keberhasilan yang banyak bertebaran dimana-mana, melihat panorama masa depan yang indah di depan sana, mendekatkan impian kita untuk mampu diraih tangan sebatas pandangan kita. Satu hal lagi, kita membutuhkan orang-orang yang memperbaiki cara pandang kita karena setiap orang harus memperluas pandangannya jika ingin melihat anugerah kehidupan yang tidak terbatas.

 

 Selamat menggunakan teropong kehidupan Anda !

  

A Cup of TeaÒ :

Kita harus selalu belajar mengkritisi cara kita memandang kehidupan yang luas ini. Jangan-jangan kita hanya melihat segala sesuatunya sempit karena salah memandang.”

 

BFF#107 – Daku kini…., saat nanti

Januari 28, 2009 - One Response

Daku kini…., saat nanti

Oleh : *Lintong Simaremare 

Sebuah torehan orang tua untuk  anaknya yang akan diberikannya suatu saat nanti…

Saat ini, badanku sudah renta, bukan lagi badanku yang dulu – badan kuat  ayah kebanggaanmu, yang bahu dan lehernya menjadi tumpuanmu. Maklumilah diriku, tetaplah bersabar menghadapi  semakin banyak ketidakmampuanku.

Saat ini, engkau mulai menyaksikan sesuatu yang kotor di hadapanmu karenaku. Bahkan, baru saja air liurku terjatuh tercecer di lantai dan  telah mengotori sepatumu. Maklumilah diriku, ingatlah saat engkau mengajakku bermain di pagi hari, muntah dan mengotori pakaian kerjaku.

Saat ini, daku sering mengulang-ulang terus ucapanku hingga membosankanmu. Bersabarlah, ingatlah di masa engkau meminta daku membaca setiap cerita dongeng yang kuulang-ulang untuk mengantar tidur dan mimpi indahmu.

Saat ini, daku membutuhkanmu untuk melap dan membersihkan  tubuhku. Lakukanlah dengan senang hati, ingatlah bagaimana susahnya membujukmu berhenti bermain agar daku bisa memandikanmu.

Saat ini, daku telah melakukan kesalahan dengan mengenakan bajuku terpasang terbalik di badanku, bahkan sempat terlihat oleh tamumu saat daku melintas dari ruang tamu. Perbaikilah, ingatlah setiap ingin bermain di luar rumah, engkau berkali-kali memasang terbalik sepatumu dan daku selalu memperbaikinya untukmu.

Saat ini, daku sering bingung dan tidak lagi dapat menjangkau pembicaraanmu. Janganlah merendahkanku. Ingatlah cara-cara yang kulakukan untuk menjawab setiap pertanyaan ‘mengapa…?’ yang selalu engkau ajukan saat itu.

Saat ini, kita berjalan bersama, namun daku tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan langkahmu. Tetaplah di sampingku, beriringanlah denganku dan ulurkanlah tanganmu. Ingatlah bagaimana engkau belajar berjalan saat itu.

Saat ini, daku sering lupa berbagai peringatanmu, bahkan menggunakan sendok garpu di tanganku. Janganlah bosan mengingatkanku atau mungkin melakukannya untukku. Ingatlah masa kecilmu belajar tentang sendok, garpu, piring dan gelas untuk makanmu.

Saat ini, daku sering mengajakmu duduk bercerita di perapian belakang rumah dekat kandang ayam kita, namun daku tidak mudah lagi mencerna setiap maksud pembicaraanmu, apalagi tentang sekolahmu. Janganlah bosan, perlu engkau tahu sebenarnya topik pembicaraanmu bukan lagi hal yang penting bagiku, asal engkau ada di sisiku, itulah kerinduanku.

Saat ini, kursi roda pembelianmu rusak karena daku salah menggunakannya, harusnya kugunakan rem malah menabrak pot bunga kesayangan istrimu hingga pecah. Janganlah marah, ingatlah waktu dulu suatu malam engkau menangis memintaku membelikan sepeda yang engkau tunjukkan di siang hari tadi. Di pagi hari daku bergegas membelikan sepeda yang mahal itu, namun di siang hari sepeda itu sudah bercerai-berai dan rongsok di  halaman rumah kita.

Saat ini, mungkin daku seolah-olah tidak menghargai usahamu yang membelikanku makanan kesukaanku, karena tidak lebih dari dua sendok makanan yang melewati tenggorokanku. Bersabarlah, ingatlah ketika daku menyuapimu makan, dan engkau setiap kali mencoba memuntahkan makanan sebelum masuk ke perutmu.

Saat ini, bukan lagi seperti dulu daku selalu ada mengajarimu. Daku menua dengan segala kekurangan fisik dan pikiranku. Janganlah bersedih. Tetaplah bersuka cita seperti suka citaku di masa kecilmu. Bagaimanapun masa kecilmu telah menjadi inspirasi dan kekuatan serta hal yang menghiburkan bagiku. Satu hal yang engkau harus tahu… jiwaku tetap seperti dulu, selalu bersorak-sorai ber hip-hip hura ketika bersamamu.

Nanti, jika daku pergi menghadap sang Yang Maha Kuasa, daku akan merepotkanmu lagi dengan segala urusan yang berhubungan denganku dan engkau akan menumpahkan air matamu. Jangan terlalu menangisiku, namun ikhlaskanlah kepergianku dan genapilah sukacitaku. Lakukanlah segala sesuatu untuk pemberangkatanku dengan senang hati. Ingatlah bahwa daku sudah ada gantinya di dunia ini – dirimu – anakku.

Seorang anak tidak pernah memilih untuk dilahirkan, dan orang tua tidak memilih untuk mengalami masa tua-renta. Namun semua itu adalah masa-masa indah buatku, dan semoga juga selalu indah bagimu.

Tulisan ini dibuat untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin mengingat masa kecilnya, yang akan mengalami kebersamaan dalam masa tua orangtuanya.  Setiap orang tua menanamkan arti cinta agar kita mengerti mencintai.

 

A Cup of TeaÒ :

“Merawat masa kecil dan mengurus masa tua adalah dua fase yang sama, dimana kedua fase itu membutuhkan kasih tanpa syarat dari orangtua maupun anak. “

 

BFF#106 – [D][U][G][E][M]

Nopember 19, 2008 - Leave a Response
[D][U][G][E][M]

Editor : Lintong Simaremare

Dugem adalah istilah gaul yang berasal dari singkatan dua kata: ‘dunia gemerlap’. Istilah ini menjadi sangat terkenal di Jakarta dan kota besar lain di Indonesia seiring dengan kebutuhan para eksmud (executive muda) untuk menyeimbangkan diri dari tumpukan emosi dan rutinitas pekerjaan seminggu di kantor dan bisnis yang dikelolanya sendiri.

 

Sebenarnya selain dugem ini, banyak juga komunitas ‘pelepas penat’ yang melakukan hobby lain sebagai penyaluran emosinya. Baik hobby olah raga indoor dan outbound, diantaranya dengan olah raga berburu, rafting, offroad adventure, driving, paint ball, bilyard maupun hobby bernyanyi dengan ber-karaoke di akhir pekan. Namun hobby olah raga dan bernyanyi agak berbeda dengan dugem jika dicermati dari kelanjutan-kelanjutan  aktivitas yang biasanya mengikutinya.

 

Berdugem-ria dengan menikmati suasana diskotik, cafe, bar atau lounge yang menghadirkan musik dengan bit yang kuat, cepat dengan volume yang keras yang merangsang badan ikut ‘shake n movin’ (berdisko) dan sekedar bergoyang senam malam, minum merayakan keberhasilan seminggu. Dugem telah menjadi program rutin banyak orang bahkan mereka telah mengalokasikan dana khusus untuk hal yang mereka sebut ‘memanjakan diri megimbangi penat’ itu.

 

Nah… kalau hanya sebatas itu, saya pikir masih wajar saja dilakukan. Paling tidak hal itu adalah salah satu wadah mengekspressikan diri atau memberikan penghargaan terhadap diri sendiri tanpa batasan formal dan tanpa embel-embel jabatan atau pangkat yang sering terjadi dalam suasana dan rutinitas kantor dan bisnis.

 

Namun yang menjadi masalah adalah pada saat sesorang terbawa dan tidak bisa mengendalikan diri dengan banyak hal – yang biasanya menjadi paket lanjutan, yang disadari atau tidak, pasti akan ditawarkan oleh dugem untuk dinikmati selanjutnya.

 

Jika kita pelajari lebih jauh, orang yang akhirnya ‘rusak’ karena dugem itu akan melalui tahapan mulai dari derajat cobaan rendah sampai paling tinggi – sampai mengorbankan materi – bahkan bangkrut atau bahkan merusak kualitas hidupnya sendiri.

 

Pada awalnya seorang diajak atau mencoba-coba sendiri masuk ke area dugem ingin mengetahui tawaran tren entertein yang rasanya selalu mengusik rasa penasaran ini. Memasuki ruang dengan kelap-kelip lampu, disambut dengan musik electro & progresif dan dance floor yang dipenuhi orang-orang yang dengan bebasnya menampilkan gaya dan ekspresinya masing masing.

 

Melihat orang-orang dengan mudahnya mengeluarkan kocek ratusan ribu sampai juta-an membeli minuman untuk diminum sendiri atau untuk menjamu teman hanya untuk sekitar tiga jam adalah pemandangan kedua.

 

Dalam hal ini tentunya orang-orang yang berdugem ria disini belum tentu berasal dari orang yang mapan secara finansial, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengalami kondisi keuangan yang tidak stabil, hanya saja mau memaksakan diri menggunakan uangnya untuk dugem dibanding kebutuhan lain yang lebih penting.

 

Arena dugem selalu dihiasi oleh ratusan merk minuman beralkohol tinggi (bisa mencapai 45 %) yang ditata rapi dengan gelas-gelas unik di bawah sinar lampu. Arena biasanya tidak luput dari pemandangan begitu banyak orang-orang yang mulai tidak terkendali oleh dirinya sendiri: Ada pasangan-pasangan (pasangannya atau baru berkenalan saat itu juga) yang dengan tidak segan-segan bercumbu dimabuk nafsu.

 

Selanjutnya Jika Anda wanita – apalagi yang berperawakan cukup menarik, tidak menutup kemungkinan Anda akan ditawari minuman dan diminta berkenalan oleh para pria yang ujung-ujung pembicaraannya akan mengarah kepada keinginan berkencan. Tidak sedikit pria yang tidak segan-segan pada awal kenalan menawarkan ajakan ke tempat lain yang lebih menawarkan privasi seperti minum di kamar hotel atau menepi ke tempat yang lebih nyaman baginya untuk ‘hal-hal seputar esek-esek. Sehingga tidak diragukan bahwa istilah ‘one nite stand’ (tidur setelah perkenalan singkat) pun muncullah dari dugem.

 

Untuk pria yang ‘cukup licik’ dalam hal ini, dia tidak segan-segan baginya untuk melakukan sindikat dengan meminta bartender atau server memasukkan obat perangsang atau sejenisnya ke minuman yang akan diberikan ke wanita-kenalan barunya.

 

Dalam dugem ada level kenikmatan yang bisa dialami. Tingkatan itu semakin tinggi tentunya semakin menawarkan hal-hal terlarang. Para penikmat dugem akan sulit bertahan lama pada level yang sama dan cenderung ada keinginan mengalami level yang lebih tinggi. Artinya seseorang yang awalnya hanya menikmati musik, semakin lama dan semakin sering berdugem ria, dia tanpa sadar naik level ibarat naik kelas ke penikmat minuman beralkohol agar tetap bisa menikmati musik yang lebih mengasyikkan.

 

Setelah menikmati minuman beralkohol, dia akan naik level lagi dengan menikmati flirting (menggoda lawan jenis) dan mencari kesempatan berdisko dengan pasangan yang secara fisik ‘agak’ menarik baginya. Level atau jalur lain selanjutnya adalah mulai menikmati drug alias ‘obat’ yang membuat dirinya ‘ON’ di tempat yang hingar bingar itu.

Semuanya ini menjadi ‘peluang bisnis’ bagi para pemilik/pengusaha tempat dugem. Selain menawarkan DJ terkenal dan paket minuman khusus, Cafe yang dikelolanyapun mulai menawarkan ’sexy dancer session’  bahkan ‘full streaptease’ atau ‘topless dance performance’.

 

Sedangkan bagi pengunjung pria pencari uang di tempat dugem, mereka akan berprofesi sebagai pengedar ‘obat ON’ tadi. Berbeda lagi dengan wanita pencari uang di tempat dugem, mereka akan mencari mangsa dengan menggoda dan merespon pria yang mengajaknya tidur dengan mengisyaratkan tarif tubuh mereka.  

 

Keberadaan ‘wanita-wanita’ tadi menjadi sesuatu yang diharapkan oleh sebagian besar pemilik/pengusaha tempat dugem. Sehingga tidak jarang pengusaha memanfaatkan para ‘wanita-PR’ mengundang teman-teman prianya dengan memaksimalkan sms broadcasting agak bisa lebih mudah menjangkau banyak pria.

 

Karena mayoritas para lelaki  tulen yang datang kesana lebih menikmati jika banyak wanita di dalamnya, maka tidak sedikit pengusaha tempat dugem  membuat dua hari khusus sebagai hari ‘ladies nite’ atau gratis masuk plus ‘one shot free drink’ bagi para wanita.

 

Jika Anda menyadari bahwa dugem memang sangat erat hubungannya dengan minuman beralkohol, wanita (bagi pria) dan pria (bagi wanita), drug – obat adiktif, serta musik penggoyang badan, maka memasuki arena dugem ini seharusnya melengkapi diri dengan pertahanan diri yang kuat agar dugem itu tidak merusak diri Anda.

 

Apa yang ditawarkan oleh dugem ini baik langsung maupun terselubung hendaknya Anda pahami sebagai orang tua agar mengerti membekali dan membentengi anak-anak kesayangan Anda. Karena tidak menutup kemungkinan suatu saat anak-anak Anda memasuki area itu baik atas keinginan sendiri maupun diajak oleh teman-temannya, sedangkan secara mental dia belum/tidak mampu menolak godaan yang ditawarkan dugem.

 

Fakta telah menunjukkan begitu banyaknya orang yang akhirnya harus masuk penjara karena drug, bahkan tidak memandang tingkat intelektual. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang telah melalui setiap level yang ditawarkan dugem yang akhirnya masuk ke level tertinggi yaitu level kenikmatan semu dengan menikmati drug – seperti yang dialami beberapa artis Indonesia dan Hollywood. Drug sering menjadi pilihan terakhir karena setiap level sebelumnya tidak lagi menawarkan hal yang istimewa sebagainya awalnya mereka menikmatinya. Pendeknya, hari demi hari ingin dinikmati dengan kenikmatan yang berbeda. 

 

Dengan maksud edukasi tanpa mendiskriditkan industri entertein, semoga tulisan ini bisa memberikan warning dan pencerahan bagi kita semua agar kita bisa memberikan batasan yang jelas dan mengkritisi titik temu tentang apa yang sesungguhnya ingin dinikmati orang yang kita sayangi dan apa yang ditawarkan dunia dugem.

A Cup of TeaÒ:

Hati-hati dengan kesenangan yang Anda rasakan, bisa jadi itu adalah kenikmatan semu yang mendatangkan kesusahan nyata.

BFF#105 – Holistik dan sabar ala petani

April 23, 2008 - 2 Responses

Holistik dan sabar ala petani

- Seni mengelola manusia

Editor : Lintong Simaremare  

 

Saya bekerja di Jakartakota yang termasuk jalan rayanya paling macet di dunia. Setiap hari pemandangan yang saya dapat adalah kemacetan dimana-mana termasuk hiruk-pikuk yang bisa saya pantau dari lantai-10 sebuah gedung dimana saya menulis tulisan singkat ini.

 

Namun berbeda dengan hari-hari akhir pekan saya. Saya senang menikmati jalur pantura : daerah Cirebon, Tegal dan Pekalongan adalah tiga kota yang biasanya saya berikan perhatian khusus melayangkan mata melihat hijaunya sawah dan pepohonan di daerah sana. Saya sempat menikmati masih ada aktivitas petani di  sawah daerah sana, walaupun tidak terlalu jelas karena saya hanya dapat mengamati mereka dengan memandang tembus kaca jendela sebuah kereta yang selalu saya naiki dalam perjalanan ke semarang.

 

 

Saya meyakini bahwa para petani itu telah menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip universal walaupun mereka dihadapkan dengan kebutuhan yang mendesak. Seakan-akan mereka mengetahui betul apa yang sedang dikerjakan dan untuk apa mereka mengerjakannya. Mereka bekerja dengan memahami prinsip dan menjadikan prinsip sebagai landasan kerja bagi mereka. Dan lebih penting lagi, mereka seakan-akan memastikan diri hidup nyata dengan prinsip itu hingga integritas muncul darinya berdasarkan prinsip mereka.

 

 

Prinsip yang mereka pahami adalah hukum panen – hukum yang mengajarkan proses melakukan sesuatu sampai mendapatkan hasilnya. Dari hukum panen ini, mungkin kita bisa belajar hal-hal yang luar biasa. Dalam hukum panen, tidak ada yang serba cepat dan mudah. Para petani harus terlibat dalam proses pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan agar  tanamannya tetap bagus serta pengawasan agar tanamannya tidak dirusak bahkan dicuri oleh burung dan tikus. Walaupun demikian, mereka mengerti bahwa seolah-olah tidak ada yang terjadi dalam periode tertentu, namun meyakini akan mendapatkan hasil panen yang bagus pada waktunya. Semua kemajuan dan pertumbuhan mereka lakukan tahap demi tahap.

 

 

Para petani itu tahu betul bahwa segala pekerjaan adalah bersifat organis, panennya adalah hasil dari sesuatu yang hidup dan berkembang, karena itu mereka membina tanamannya dan dia membutuhkan waktu dalam setiap langkahnya. Dalam kehidupan kita juga ternyata seperti itu. Berpikir dan bertindak holistik (menyeluruh) tentang sesuatu yang kita lakukan menjadi keharusan jika kita ingin menggaransi suatu keberhasilan.

 

 

Jika kita ini diibaratkan tanaman, maka kita harus harus berada pada kondisi dan iklim yang tepat bagi pertumbuhan kita sendiri, hal itu jadi syarat utama agar kita menjadi tanaman yang sehat dan berhasil panen bagus (cat: sebenarnya kita lebih mampu dari tanaman karena kita masih mempunyai kemampuan untuk memilih kondisi dan iklim yang sesuai).

 

 

Mengurus tanaman hampir sama dengan membina dan mengelola orang-orang, kita harus memilih kelompok bibit yang baik; mengolah tanah agar gembur; memilih temperatur yang tepat untuk jenis bibit dan tanaman tertentu; mengusahakan kebutuhan sinar matahari; memberikan air dan pupuk sehingga tanaman kita menjadi subur. Namun itu semua perlu waktu. Kita tidak dapat memburunya meskipun kita sudah sangat menginginkannya. Kita harus menjadi orang yang sabar hingga waktunya.

 

Hukum panen adalah hukum alam. Dan anda tidak perlu ragu bahwa hukum alam berdasarkan prinsip-prinsip universal yang siapapun tidak akan bisa menyangkalnya.

 

cup of TeaÒ :

Setelah semuanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip universal, maka segala sesuatupun akan indah pada waktunya!”.@Old wisdom & Lint

BFF#104 – Nugget

April 21, 2008 - Leave a Response

Nugget

Editor : Lintong Simaremare  

 

Sebagaimana biasanya, akhir pekan kemaren saya kembali lagi pulang ke rumah – Semarang. Kebetulan sampai saat ini saya masih melakukan laju mingguan atau dua mingguan dari Jakarta ke Semarang untuk bertemu dengan istri dan anak-anak kami sekaligus bertemu dengan orang-orang yang kami cintai disana.

 

Akhir minggu kemaren memang agak istimewa bagi saya. Kebetulan di belakang kediaman kami ada tiga kolam ikan yang di dalamnya banyak sekali lele yang besar-besar. Bahkan ada yang berbobot sampai 1 kg. Luar biasa besar untuk ukuran lele. Orang mungkin mengatakannya lele dumbo atau apalah.

 

Menikmati kebersamaan dengan Kiyosaki (anak saya yang pertama), kami lalui dengan memancing ikan lele itu, dan dalam satu jam saja memancing dengan kail tanpa umpan kami telah mendapatkan 22 ekor lele yang besar-besar.

 

Pembuatan kolam lele ini sebenarnya dilatar belakangi atas penggunaan lahan yang cukup luas di di belakang kediaman kami. Hasil kolam lele ini sudah dinikmati cukup lama oleh banyak orang disana, terutama anak-anak panti asuhan putra dimana keluarga kami diberikan kepercayaan untuk mengelola sejumlah 45 orang yang berlokasi di areal depan dekat kolam lele. Bagi anak-anak panti tersebut, selain makan pisang, mangga dan jagung hasil halaman belakang, makan lele digoreng atau dimasak woku* atau tude** sudah biasa karena mereka sudah menikmatinya sejak beberapa tahun lalu.

Dan lele itu tidak pernah kami jual, namun hanya peruntukkan untuk mereka.Terbayang nanti jika makan, melihat santapan lele yang besar-besar, walaupun sudah dipotong menjadi dua bagian rasanya memang cukup membuat sebagian orang merasa ‘eneg’ sebelum memakannya. Tidak terkecuali juga sebagian anak panti yang ada disitu.

 

Maka sehabis mancing dengan Kiyosaki dan anak-anak panti, idepun segera muncul. Saya mulai dengan memilah lele-lele yang super jumbo alias yang tergolong kelompok paling besar.

 

Setelah semua jeroan*** dipisah untuk diarsik****, daging lele dari kedua sisinya diambil dan disatukan ke dalam satu wadah untuk selanjutnya digiling menjadi lumat. Kemudian saya jadikan adonan dan dicampur dengan tepung dan bumbu. Kemudian saya bentuk bulat-bulat kecil seperti wingko babat dan disirami tepung dan kemudian digoreng. Lele yang lebih kecil digoreng seperti biasa.

 

Sedangkan kepala serta tulang lele yang dagingnya sudah diambil bisa dibuatkan sop lele yang kuah sop-nya juga akan enak untuk dinikmati bersama.  

Dalam makan siang bersama anak-anak, semua anak yang tidak menyaksikan pembuatannya terkecoh dengan lauk menú baru dan mereka makan begitu lahap. Yah… mereka harusnya tahu sedang makan ‘Nugget Lele’ dari kolam yang selalu mereka lihat setiap hari. Pagi ini kejadian itu kembali terulang.

 

Dalam sarapan dengan teman-teman kos pagi tadi, sayang sekali saya tidak membawa menú baruku – nugget lele yang banyak, karena kawan-kawan ternyata begitu menyukainya.

Anda mungkin perla mencoba sesuatu yang baru dari sesuatu yang biasa-biasa saja!

 

*woku, **tude = Cara memasak ikan yang umumnya dikenal orang Manado.

***jeroan = bagian dalam = istilah yang lazim digunakan orang Jawa

***arsik = Satu cara memasak ikan mas yang umumnya dikenal orang Batak.

cup of TeaÒ :

Hal biasa bisa istimewa jika disajikan dengan cara yang berbeda!”.@Lint

 

 

 

BFF#103 – Mengapa Bukan SAYA ?

April 21, 2008 - Leave a Response

Mengapa bukan SAYA ?

Editor : Lintong Simaremare  

 

“Hidup itu harus pintar-pintar”. Demikian nasihat yang sering dikatakan orang tua kita saat melepas anaknya yang akan memasuki dunia ‘nyata’. Nasihat itu sering ditafsirkan macam-macam oleh kita-kita ini jika menyangkut nasib atau sesuatu yang bisa kita peroleh atau yang ingin kita dapatkan.

 

 

Satu hal yang paling sering kita lihat adalah banyaknya orang-orang yang cenderung berlari – berlari ke rasa aman yang diciptakan program kesejahteraan dari pemerintah atau perusahaan, rasa aman dari teman, rasa aman dari penopang sosial. Orang-orang semakin banyak yang bersembunyi dari peran nyata, dan lebih senang menonton film dan membaca buku yang menggambarkan pahlawan yang meraih prestasi fiktif dalam kehidupan.

 

Senang dengan cerita perjuangan bisnis orang lain hingga meraih sukses dan manikmati plisiran ke seluruh negeri atau yang menikmati saat terbenanmya matahari dari Fiji.

 

Mereka puas bila orang lain yang melakukan perjuangan dan hal-hal kehidupan yang sebenarnya mereka lakukan, tapi mereka tidak mencobanya. Satu pertanyaan yang mungkin jarang kita tanyakan  pada diri sendiri adalah ,”Mengapa bukan SAYA ?”. Coba kita bayangkan jika pertanyaan sederhana itu sering kita tanyakan pada diri kita, apa kira-kira yang terjadi? Saya pikir Anda akan sepakat jika saya menjawab bahwa akan semakin banyak orang yang mempunyai pilihan yang berbeda dalam menjalani hidup, dan tentunya akan semakin banyak yang semangat berprestasi, akan semakin banyak orang yang meraih sasaran yang ditetapkannya sendiri.

 

 

Memberi makna pada hidup berarti memberi kualitas pada rentetan hidup dengan mengukir prestasi demi prestasi. Kebahagiaan berbarengan dengan prestasi, makanya hidup bisa bahagia sepanjang waktu.

 

Nilai hidup bukan terletak pada panjangnya hari-hari, namun penggunaan kita atas hari-hari itu. Seseorang bisa saja berumur panjang, tapi hanya sedikit memeproleh nilai hidup. Tidak berlebihan jika ada pernyataan yang mengatakan, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.

cup of TeaÒ :

Gantilah kata ‘Anda’ menjadi nama Anda sendiri pada kalimat dibawah ini.

“Anda bisa menciptakan prestasi setiap saat !”.  @Lint