BFF#105 - Holistik dan sabar ala petani

April 23, 2008 - 2 Responses

Holistik dan sabar ala petani

- Seni mengelola manusia

Editor : Lintong Simaremare  

 

Saya bekerja di Jakarta - kota yang termasuk jalan rayanya paling macet di dunia. Setiap hari pemandangan yang saya dapat adalah kemacetan dimana-mana termasuk hiruk-pikuk yang bisa saya pantau dari lantai-10 sebuah gedung dimana saya menulis tulisan singkat ini.

 

Namun berbeda dengan hari-hari akhir pekan saya. Saya senang menikmati jalur pantura : daerah Cirebon, Tegal dan Pekalongan adalah tiga kota yang biasanya saya berikan perhatian khusus melayangkan mata melihat hijaunya sawah dan pepohonan di daerah sana. Saya sempat menikmati masih ada aktivitas petani di  sawah daerah sana, walaupun tidak terlalu jelas karena saya hanya dapat mengamati mereka dengan memandang tembus kaca jendela sebuah kereta yang selalu saya naiki dalam perjalanan ke semarang.

 

 

Saya meyakini bahwa para petani itu telah menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip universal walaupun mereka dihadapkan dengan kebutuhan yang mendesak. Seakan-akan mereka mengetahui betul apa yang sedang dikerjakan dan untuk apa mereka mengerjakannya. Mereka bekerja dengan memahami prinsip dan menjadikan prinsip sebagai landasan kerja bagi mereka. Dan lebih penting lagi, mereka seakan-akan memastikan diri hidup nyata dengan prinsip itu hingga integritas muncul darinya berdasarkan prinsip mereka.

 

 

Prinsip yang mereka pahami adalah hukum panen - hukum yang mengajarkan proses melakukan sesuatu sampai mendapatkan hasilnya. Dari hukum panen ini, mungkin kita bisa belajar hal-hal yang luar biasa. Dalam hukum panen, tidak ada yang serba cepat dan mudah. Para petani harus terlibat dalam proses pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan agar  tanamannya tetap bagus serta pengawasan agar tanamannya tidak dirusak bahkan dicuri oleh burung dan tikus. Walaupun demikian, mereka mengerti bahwa seolah-olah tidak ada yang terjadi dalam periode tertentu, namun meyakini akan mendapatkan hasil panen yang bagus pada waktunya. Semua kemajuan dan pertumbuhan mereka lakukan tahap demi tahap.

 

 

Para petani itu tahu betul bahwa segala pekerjaan adalah bersifat organis, panennya adalah hasil dari sesuatu yang hidup dan berkembang, karena itu mereka membina tanamannya dan dia membutuhkan waktu dalam setiap langkahnya. Dalam kehidupan kita juga ternyata seperti itu. Berpikir dan bertindak holistik (menyeluruh) tentang sesuatu yang kita lakukan menjadi keharusan jika kita ingin menggaransi suatu keberhasilan.

 

 

Jika kita ini diibaratkan tanaman, maka kita harus harus berada pada kondisi dan iklim yang tepat bagi pertumbuhan kita sendiri, hal itu jadi syarat utama agar kita menjadi tanaman yang sehat dan berhasil panen bagus (cat: sebenarnya kita lebih mampu dari tanaman karena kita masih mempunyai kemampuan untuk memilih kondisi dan iklim yang sesuai).

 

 

Mengurus tanaman hampir sama dengan membina dan mengelola orang-orang, kita harus memilih kelompok bibit yang baik; mengolah tanah agar gembur; memilih temperatur yang tepat untuk jenis bibit dan tanaman tertentu; mengusahakan kebutuhan sinar matahari; memberikan air dan pupuk sehingga tanaman kita menjadi subur. Namun itu semua perlu waktu. Kita tidak dapat memburunya meskipun kita sudah sangat menginginkannya. Kita harus menjadi orang yang sabar hingga waktunya.

 

Hukum panen adalah hukum alam. Dan anda tidak perlu ragu bahwa hukum alam berdasarkan prinsip-prinsip universal yang siapapun tidak akan bisa menyangkalnya.

 

cup of TeaÒ :

Setelah semuanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip universal, maka segala sesuatupun akan indah pada waktunya!”.@Old wisdom & Lint

 

 

 

 

 

 

 

BFF#104 - Nugget

April 21, 2008 - No Responses

Nugget

Editor : Lintong Simaremare  

 

Sebagaimana biasanya, akhir pekan kemaren saya kembali lagi pulang ke rumah – Semarang. Kebetulan sampai saat ini saya masih melakukan laju mingguan atau dua mingguan dari Jakarta ke Semarang untuk bertemu dengan istri dan anak-anak kami sekaligus bertemu dengan orang-orang yang kami cintai disana.

 

Akhir minggu kemaren memang agak istimewa bagi saya. Kebetulan di belakang kediaman kami ada tiga kolam ikan yang di dalamnya banyak sekali lele yang besar-besar. Bahkan ada yang berbobot sampai 1 kg. Luar biasa besar untuk ukuran lele. Orang mungkin mengatakannya lele dumbo atau apalah.

 

Menikmati kebersamaan dengan Kiyosaki (anak saya yang pertama), kami lalui dengan memancing ikan lele itu, dan dalam satu jam saja memancing dengan kail tanpa umpan kami telah mendapatkan 22 ekor lele yang besar-besar.

 

Pembuatan kolam lele ini sebenarnya dilatar belakangi atas penggunaan lahan yang cukup luas di di belakang kediaman kami. Hasil kolam lele ini sudah dinikmati cukup lama oleh banyak orang disana, terutama anak-anak panti asuhan putra dimana keluarga kami diberikan kepercayaan untuk mengelola sejumlah 45 orang yang berlokasi di areal depan dekat kolam lele. Bagi anak-anak panti tersebut, selain makan pisang, mangga dan jagung hasil halaman belakang, makan lele digoreng atau dimasak woku* atau tude** sudah biasa karena mereka sudah menikmatinya sejak beberapa tahun lalu.

Dan lele itu tidak pernah kami jual, namun hanya peruntukkan untuk mereka.Terbayang nanti jika makan, melihat santapan lele yang besar-besar, walaupun sudah dipotong menjadi dua bagian rasanya memang cukup membuat sebagian orang merasa ‘eneg’ sebelum memakannya. Tidak terkecuali juga sebagian anak panti yang ada disitu.

 

Maka sehabis mancing dengan Kiyosaki dan anak-anak panti, idepun segera muncul. Saya mulai dengan memilah lele-lele yang super jumbo alias yang tergolong kelompok paling besar.

 

Setelah semua jeroan*** dipisah untuk diarsik****, daging lele dari kedua sisinya diambil dan disatukan ke dalam satu wadah untuk selanjutnya digiling menjadi lumat. Kemudian saya jadikan adonan dan dicampur dengan tepung dan bumbu. Kemudian saya bentuk bulat-bulat kecil seperti wingko babat dan disirami tepung dan kemudian digoreng. Lele yang lebih kecil digoreng seperti biasa.

 

Sedangkan kepala serta tulang lele yang dagingnya sudah diambil bisa dibuatkan sop lele yang kuah sop-nya juga akan enak untuk dinikmati bersama.  

Dalam makan siang bersama anak-anak, semua anak yang tidak menyaksikan pembuatannya terkecoh dengan lauk menú baru dan mereka makan begitu lahap. Yah… mereka harusnya tahu sedang makan ‘Nugget Lele’ dari kolam yang selalu mereka lihat setiap hari. Pagi ini kejadian itu kembali terulang.

 

Dalam sarapan dengan teman-teman kos pagi tadi, sayang sekali saya tidak membawa menú baruku - nugget lele yang banyak, karena kawan-kawan ternyata begitu menyukainya.

Anda mungkin perla mencoba sesuatu yang baru dari sesuatu yang biasa-biasa saja!

 

*woku, **tude = Cara memasak ikan yang umumnya dikenal orang Manado.

***jeroan = bagian dalam = istilah yang lazim digunakan orang Jawa

***arsik = Satu cara memasak ikan mas yang umumnya dikenal orang Batak.

cup of TeaÒ :

Hal biasa bisa istimewa jika disajikan dengan cara yang berbeda!”.@Lint

 

 

 

BFF#103 - Mengapa Bukan SAYA ?

April 21, 2008 - No Responses

Mengapa bukan SAYA ?

Editor : Lintong Simaremare  

 

“Hidup itu harus pintar-pintar”. Demikian nasihat yang sering dikatakan orang tua kita saat melepas anaknya yang akan memasuki dunia ‘nyata’. Nasihat itu sering ditafsirkan macam-macam oleh kita-kita ini jika menyangkut nasib atau sesuatu yang bisa kita peroleh atau yang ingin kita dapatkan.

 

 

Satu hal yang paling sering kita lihat adalah banyaknya orang-orang yang cenderung berlari - berlari ke rasa aman yang diciptakan program kesejahteraan dari pemerintah atau perusahaan, rasa aman dari teman, rasa aman dari penopang sosial. Orang-orang semakin banyak yang bersembunyi dari peran nyata, dan lebih senang menonton film dan membaca buku yang menggambarkan pahlawan yang meraih prestasi fiktif dalam kehidupan.

 

Senang dengan cerita perjuangan bisnis orang lain hingga meraih sukses dan manikmati plisiran ke seluruh negeri atau yang menikmati saat terbenanmya matahari dari Fiji.

 

Mereka puas bila orang lain yang melakukan perjuangan dan hal-hal kehidupan yang sebenarnya mereka lakukan, tapi mereka tidak mencobanya. Satu pertanyaan yang mungkin jarang kita tanyakan  pada diri sendiri adalah ,”Mengapa bukan SAYA ?”. Coba kita bayangkan jika pertanyaan sederhana itu sering kita tanyakan pada diri kita, apa kira-kira yang terjadi? Saya pikir Anda akan sepakat jika saya menjawab bahwa akan semakin banyak orang yang mempunyai pilihan yang berbeda dalam menjalani hidup, dan tentunya akan semakin banyak yang semangat berprestasi, akan semakin banyak orang yang meraih sasaran yang ditetapkannya sendiri.

 

 

Memberi makna pada hidup berarti memberi kualitas pada rentetan hidup dengan mengukir prestasi demi prestasi. Kebahagiaan berbarengan dengan prestasi, makanya hidup bisa bahagia sepanjang waktu.

 

Nilai hidup bukan terletak pada panjangnya hari-hari, namun penggunaan kita atas hari-hari itu. Seseorang bisa saja berumur panjang, tapi hanya sedikit memeproleh nilai hidup. Tidak berlebihan jika ada pernyataan yang mengatakan, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.

cup of TeaÒ :

Gantilah kata ‘Anda’ menjadi nama Anda sendiri pada kalimat dibawah ini.

“Anda bisa menciptakan prestasi setiap saat !”.  @Lint

 

 

BFF#102 - Membuat uang

April 21, 2008 - No Responses

Membuat uang

Editor : Lintong Simaremare  

Saya belum pernah mendengar ada orang yang tidak membutuhkan uang. Karena uang adalah alat tukar yang digunakan untuk mendapatkan banyak kemudahan-kemudahan atau kesenangan-kesenangan di dunia ini. Selain itu, dengan semakin banyak uang yang kita miliki, maka semakin banyak materi yang bisa kita berikan bagi semakin banyak orang. Makanya tidak ada batas cukup untuk masalah uang di dunia ini.

 

 

Saya pernah merasa iri dengan orang yang punya banyak uang, waktu itu memang saya tidak memiliki uang (saya merasa miskin dan sebaiknya saya masuk partai Kai Pang J saja). Kemudian suatu proses mengajari saya tentang bagaimana jika saya mempunyai banyak uang. Dalam pelajaran itu saya temukan bahwa orang yang banyak uang bukan berarti orang yang menikmati hidup. Artinya, memiliki uang saja tidak cukup, ada hal lain yang tidak bisa dilepaskan dari cara pandang tentang uang.   

 

Jika uang dikelola dengan baik, maka uang itu akan mendatangkan suka cita yang lebih besar, karena uang memampukan kita melihat dunia lain serta memampukan kita berbuat semakin banyak hal-hal yang indah di dunia ini baik bagi diri kita sendiri terutama bagi orang lain. Jalan untuk menjadi memiliki uang juga ternyata sangat banyak. Orang yang pintar atau punya ide sedikit saja bisa membuat uang atau minimal mendapat uang dari orang lain. Namun banyak orang pintar dan punya ide menjadi bodoh dan tumpul setelah memiliki uang. Sehingga tidak heran banyak orang yang jatuh miskin.

 

 

Ok, terlepas dari bagaimana nantinya Anda menggunakan uang yang mungkin Anda ciptakan, saya tertarik mengangkat hukum-hukum sederhana tentang membuat uang, khususnya jika kita mulai merintis suatu usaha.

Pertama, gunakanlah uangmu sekecil mungkin sebagai modal usaha yaitu pada batas Anda tidak susah atau merasa rugi jika uang itu hilang. Hal ini sangat penting karena sebesar apapun usaha Anda kelak, maka Anda adalah pengusaha yang tidak pernah rugi karena modal Anda adalah uang kecil yang Anda gunakan pada saat memulai usaha itu. Ingat, usaha yang besar dan kuat semuanya dimulai dengan usaha yang kecil dan modal yang sangat minim. Hanya mereka yang mengerti arti berkembang dan tidak mengalami penderitaan karena kerugian investasi.

Kedua, ketika usaha Anda berbuah, apakah itu satu rupiah pertama sebagai buah sulung* dalam usaha Anda adalah ibarat benih yang harus diperlakukan dengan  istimewa dan hati-hati karena hanya itu yang mungkin tumbuh bagus sehingga berikutnya Anda dapat memanen dua rupiah. Demikian juga seterusnya mengikuti perjalanan yang panjang untuk menjadikannya satu juta rupiah.

Ketiga, waktu yang dibutuhkan membuat satu juta rupiah dan waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskannya memang sangat berbeda, oleh sebab itu janganlah membelanjakan uang dalam laju yang tinggi karena kita merasa mampu membuat uang dalam waktu yang cepat.

Keempat, Uang harus dinikmati, bukan hanya untuk disimpan saja. Terutama hal ini harus dipahami banyak orang yang selalu mengkuatirkan masa depan tanpa pernah menikmati hari ini. Nikmatilah  bagian keberhasilan Anda dan berikan orang lain juga ikut menikmatinya.

Kelima, Jangan pernah mempunyai tujuan mengumpulkan uang agar Anda kaya. Namun berpikirlah agar Anda bisa memberikan lebih banyak sehingga Anda perlu kaya. 

 

cup of TeaÒ :

Masalah kesejahteraan saat ini sudah berubah dari berapa banyak yang kita kumpulkan menjadi berapa banyak yang kita salurkan bagi orang lain  @Lint

 

 

 

 

  

BFF#101 - Modal utama berwirausaha

April 14, 2008 - 3 Responses

Modal utama berwirausaha

Editor : Lintong Simaremare 

 

Baru-baru ini saya harus melewati suatu kegagalan (kata orang lain) dalam usaha yang saya rintis. Saya kurang sepakat dengan kata gagal dalam hal ini, karena untuk memacu adrenalin saya untuk tetap konsisten dalam perjalanan usaha, kata ‘gagal’ itu saya ganti menjadi ‘belum berhasil menemukan cara yang tepat’. Ketidak berhasilan menandatangani satu kontrak ini memang mengecewakan bagi tim dan seluruh manajemen dalam perusahaan kami.

 

 

 

Seluruh tim memahami begitu besar kerja keras dan keseriusan yang telah kami investasikan dalam beberapa bulan mempersiapkan segala sesuatu agar bisa mendapatkan proyek yang menjadi target kami, sampai tiba pada suatu titik dimana kami merasa proyek akan jatuh ke tangan kami. Tanpa kami sadari, beberapa rahasia perusahaan yang seharusnya tidak kami utarakanpun telah meluncur seperti menjadi bahan pembicaraan di dalam kelompok para sahabat.

 

 

Namun akhirnya kami merasa telah dicurangi walaupun telah digiring untuk merasa yakin akan mendapatkan proyek yang kami inginkan. Rasa jengkel terhadap pihak tertentu tidak dapat lagi dihindari dan mulai melemahkan daya juang kami untuk mengejar kontrak-kontrak lain serta berusaha meruntuhkan optimisme yang selama ini adalah modal utama yang kami miliki.  Dari pengalaman berharga ini, kami harus belajar memahami bahwa hanya sedikit orang yang bisa dipercayai. Oleh sebab itu kami harus memperlengkapi diri dengan pengalaman tentang bagaimana meletakkan kepercayaan pada orang lain.

 

 

 

Belajar mengerti orang-orang baru yang masuk dalam lingkungan kerjasama usaha yang kami bangun. Selain itu kami berpikir bahwa belajar tentang kehidupan yang membentuk orang lain, menjadi penting. Saat ini kami semakin menyadari bahwa manusia adalah orang yang dibentuk dari kebiasaannya. Jika mereka adalah orang yang terbiasa tidak mengikuti aturan main, maka dalam perjalanan mereka tentunya akan banyak orang yang mereka curangi.

 

 

 

Hal kedua yang mulai kami mengerti adalah pada dasarnya tidak ada bisnis atau kerja sama antar perusahaan, tetapi yang ada adalah kerja sama antar pribadi. Dalam hal ini yang saya maksud adalah bahwa bagi pelanggan, perusahaan hanya institusi namun setiap pelanggan melakukan kerjasama dengan kita secara pribadi dengan melihat integritas seseorang di hadapan mereka. Dari hal ini tentunya kontrak para pelanggan-pun akan jatuh kepada pribadi yang melakukan negosiasi, hubungan baik, perhatian dengan menunjukkan integritas yang tinggi, bukan kepada perusahaan.

 

 

Namun demikian, bukan berarti menjadi mengabaikan metoda operasi atau sistem perusahaan yang mendukung setiap pribadi di dalamnya. Kemudian, hal penting yang ketiga adalah bahwa dalam upaya mendapatkan setiap kontrak, kami berjanji tidak akan merusak karakter positif yang kami bangun. Dengan mengkompromikan karakter diri dan perusahaan yang didalamnya termasuk merendahkan diri dalam upaya mengejar  kontrak, rasanya sama saja dengan cara membuat tangan di atas kepala, lalu sedikit menunduk sehingga ada orang yang telah siap menendang pantat kita sehingga jatuh dari lantai yang paling tinggi.

 

 

 

Kami mulai meyakini bahwa orang-orang yang tidak memiliki integritas dalam bekerja dan berbisnis tidak akan bertahan lama, atau mungkin memang itulah pekerjaannya – yaitu memperdayakan orang, mengambil keuntungan sesaat lalu mencari mangsa lain. Dalam hal ini saya tidak merisaukan integritas orang lain, saya hanya merisaukan integritas saya sendiri.

 

 

 

Kejujuran, keterus-terangan dan ketulusan menjadi tiga hal penting yang mendukung usaha saat ini karena hal lain sudah barang tentu dimiliki oleh semua pengusaha dan orang-orang di dalam usahanya. Ketiga hal itu akan menjaga kepercayaan orang lain yang bisa menjadi pelanggan perusahaan yang kita bangun. Kami sadari apa yang dikatakan Ayub Khan bahwa kepercayaan itu ibarat benang yang sangat halus, dan begitu kami memutusnya, maka hampir tak ada lagi yang bisa menyambungnya.

 

Baiklah ketidak berhasilan meraih proyek yang kami idam-idamkan adalah suatu pengalaman berharga dalam perjalanan kami sebagai pengusaha. Dan kami sekarang benar-benar tidak merasa rugi tidak mendapatkan proyek itu, karena itu merupakan rahmat yang terselubung bagi kami. Itu juga lebih penting daripada kami bekerjasama dengan orang-orang yang tidak mempunyai integritas.

Kepercayaan itu ibarat benang yang sangat halus, dan begitu Anda memutusnya, maka hampir tak ada lagi yang bisa menyambungnya. @Ayub Khan

 

 

 

BFF#100 - Pengalaman

April 8, 2008 - One Response

Pengalaman

Editor : Lintong Simaremare  

 

Saya teringat sebuah cerita orang tua yang mengajarkan saya tentang pengalaman. Awalnya saya tidak begitu dalam memahami pesan cerita ini sampai saya mengenal dan semakin serius dalam dunia kerja. Alkisah diceritakan tentang seorang guru yang sering menunjukkan keajaiban kepada murid-muridnya.

 

Hingga suatu ketika sang guru mengangkat doa dan akhirnya mampu membangkitkan tulang orang mati.  Bagi murid-muridnya doa sang guru selalu dianggap sebuah mantera yang jika diucapkan persis oleh siapa saja, maka mantera akan mempunyai kekuatan yang sama seperti yang dilakukan oleh gurunya.

 

Di masa tua sang guru semakin renta, ada murid yang berupaya mengambil hati dan mendekati sang guru agar mantera membangkitkan tulang mati segera diturunkan kepadanya. Namun nampaknya apapun upaya muridnya, sang guru selalu dingin menanggapi dengan mengatakan para muridnya belum cukup berpengalaman melakukan mujijat dengan menggunakan mantera yang akan diberikannya.

 

Namun sang guru tidak mampu lagi menahan desakan murid tersebut dan akhirnya dia memberi urutan kata-kata doa yang disebut mantera oleh muridnya. Waktupun berlalu hingga tiba saatnya muridnya mencoba menggunakan mantera untuk menghidupkan tulang yang berserakan di semak belukar dalam perjalanan ke sebuah desa.

 

Lalu si murid menggunakan mantera itu, dan… krak…krak…krak… tulang-tulang itupun mulai bergerak seperti saling mengerti untuk saling menyambung satu sama lain membentuk rangka. Kemudian diikuti dengan mulai membalutnya daging menutupi rangka.  Tubuhnyapun mulai terbentuk dan semakin sempurna dan semakin nyata. Namun tidak ada yang menduga bahwa mahluk yang terbentuk adalah seekor serigala dengan matanya yang liar, yang dengan sekejap langsung menerkam, mengoyak-ngoyak dan menewaskan si murid. 

 

Sekilas memang agak sulit mengambil pesan dari cerita itu. Ternyata cerita itu salah satunya mengajarkan kita tentang pentingnya pengalaman, yah… pengalaman. Kepandaian dan pengetahuan ternyata memang tidak cukup, dibutuhkan pengalaman. Pengalamam membuat seseorang mempunyai ilmunya, bukan sekedar memiliki kepandaian atau pengetahuannya. Namun tidak berhenti disitu, kita juga jangan salah mengerti tentang apa yang dimaksud dengan pengalaman.

 

Banyak orang berasumsi bahwa orang yang bekerja 20 tahun lebih berpengalaman dari yang bekerja 10 tahun. Tapi apakah demikian halnya jika seorang yang bekerja 20 tahun dengan melakukan pekerjaan dan metoda yang sama lebih berpengalaman dengan seorang yang bekerja 10 tahun melakukan pekerjaan yang sama dengan memperbaharui metodanya atau menggunakan berbagai metoda dan pendekatan yang bebeda?    

 

Pengalaman bukan lamanya kita melakukan suatu hal, namun seberapa banyak pelajaran yang kita ambil dari apa yang sudah kita alami. Banyak orang yang berpengalaman, tetapi tidak banyak yang menggunakan pengalamannya untuk memperbaiki hidupnya @Lint

 

 

 

BFF#99 - Persepsi kepemimpinan

April 7, 2008 - No Responses

Persepsi kepemimpinan

Editor : Lintong Simaremare  

 

Banyak sekali teori yang kita baca tentang kepemimpinan; bagaimana menjadi pemimpin yang baik; pemimpin panutan; dan lain sebagainya. Bacaan tentang ilmu kepemimpinan itu semakin banyak untuk melengkapi diadopsinya ilmu manajemen dalam menjalankan organisasi bisnis maupun nirlaba.  

 

Kita semakin menyadari bahwa sekarang ini tuntutan kepemimpinan bukan lagi semudah masa-dekade sebelumnya. Kepemimpinan saat ini lebih menuntut efektifitas dari hanya sekedar mampu memimpin suatu organisasi sebagaimana yang sering kita dapatkan dalam seminar-seminar kepemimpinan. Artinya se-efektif apakah kita memimpin organisasi kecil atau besar dalam mencapai visi dan misi organisasi yang kita sepakati sudah mulai diukur.

 

Menurut T. Bahaudin – seorang ahli brainware management dari Indonesia, ada lima tuntutan yang merupakan satu kesatuan yang menjadikan efektifitas kepemimpinan tinggi. Kelimanya adalah Kecermatan; Amanah; Keterampilam; Komunikasi; dan Integritas. 

 

Namun pemahaman yang tidak aplikatif terhadap masing-masing unsur di atas pulalah yang menjadikan relatifnya tingkat efektifitas yang justru diinginkan dengan adanya kepemimpinan yang baik.

 

Pertama, Cermat: Check dan recheck merupakan kata kunci tingkat kecermatan seseorang, sehingga dia tidak mudah dipengaruhi orang lain. Orang ini akan sangat teliti dalam menerima informasi. Namun meskipun seorang pemimpin ditunutu untuk cermat, dia harus menghindari masuk terlalu detail terhadap segala aktivitas dalam organisasinya. Jika tidak, maka pemimpin tersebut tidak akan pernah cukup waktu dengan segala urusan yang ada. Perlu digariskan apa yang menjadi objek yang memerlukan kecermatan seorang pemimpin dan apa yang harusnya tidak.

 

Kedua, Amanah: Diberikan kepercayaan untuk mengemban/melaksanakan suatu tugas menuntut konsekuensi memberikan hasil sebaik-baiknya. Sehingga pemimpin yang menerima amanah namun menyalahgunakan kekuasaan, kepercayaan atau titipan sehingga tidak mengemban kepemimpinan sebagaimana mestinya, berarti pemimpin tersebut tidak memahami hakihat amanah sebenarnya.

 

Ketiga, Memiliki keterampilan: Hanya memanfaatkan keterampilan orang lain sering membuat seorang pemimpin tidak memahami bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar dalam organisasinya. Sinergi dengan orang lain merupakan cara yang lebih tepat bagi seorang pemimpin karena selain memahami pekerjaan dan segala aspeknya, pemimpin akan terlibat agar pekerjaan berhasil dengan baik.

 

Keempat, Mampu berkomunikasi: Banyak pemimpin bisa berbicara panjang lebar namun begitu sulit meyakinkan orang lain agar mendukung apa yang diinginkannya terwujud. Hal ini bisa terjadi jika ada kekeliruaan dalam mengkomunikasikan sesuatu (miscommunication), padahal seorang pemimpin dituntut memperoleh kepercayaan dan rasa hormat dari orang lain terutama di saat dia berbicara.

 

Kelima-terakhir, Integritas: Banyak pemimpin menampilkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sering diungkapkannya. Makanya tidak jarang ada joke yang mengatakan bahwa ada saja orang yang ’lain yang dibicarakan-lain yang dilakukan’.

 

Banyak hal yang bisa kita pelajari untuk memenuhi kelima unsur di atas. Kalau dipikir-pikir, semuanya tentang kemampuan kepemimpinan adalah belajar dari diri sendiri yaitu ilmu penguasaan tubuh, pikiran dan emosi yang selalu bisa kita lakukan dimana-mana. Selanjutnya kita baru perlu memahami seni berhubungan dengan orang lain.

Bahasa sederhana dari Integritas adalah: Menyatunya rasio, perasaan dan perbuatan dengan kosisten didasari oleh motivasi mulia dan diselimuti dengan keyakinan menjalankannya @Lint

 

 

BFF#98 - Person in charge

April 7, 2008 - No Responses

Person in Charge

Editor : Lintong Simaremare

 

Banyak orang tua yang sulit mengendalikan kehidupan keluarga. Ada saja seorang ayah yang tidak bisa mengendalikan istrinya, bahkan anak-anaknya. Namun, ada juga keluarga yang sepenuhnya dikendalikan oleh seorang ayah seolah-olah tanpa kehadiran ibu di dalamnya. Kemudian ada lagi keluarga yang awalnya semuanya berjalan dengan baik di masa seorang ayah berada di antara mereka, namun tidak demikian di kala sang ayah tidak sedang berad di tengah mereka. Saat sang ayah sebagai figur pengendali dan contoh tidak ada, semua anak-anaknya bertindak sesuka hatinya.

 

Saya pernah mengetahui sebuah kisah nyata kehidupan keluarga yang harmonis. Namun, dalam waktu satu tahun semuanya berantakan. Sang anak suka melawan dan tidak menghiraukan sang ibu dan ibu tidak bisa menunjukkan apa dan siapa yang harus dipatuhi dalam rumah tangga pasca peninggalan suaminya.

 

Kisah singkatnya adalah terjadinya perang saudara dan kekacauan di rumahnya setiap hari antara anak yang satu dengan yang lain. Hubungan antara anak dan ibu yang selalu menjurus kepada amarah yang mudah terlampiaskan satu sama lain. Tidak ada lagi komunikasi yang mesra, tidak ada lagi penghargaan satu sama lain, tidak ada lagi kerja sama. Bahkan si anak yang masih kecil menjadi terbiasa membentak dan memukul ibunya sebagai orang tuanya yang tinggal satu-satunya.

 

Si ibu yang sangat mencintai anak-anaknya ini merasa tidak mampu mengendalikan anak-anaknya lagi. Si ibu seolah-olah tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti segala kemauan sang anak dan jika kemauannya tidak dipenuhi, maka anaknya akan mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang tidak bisa diterima oleh orang tua manapun. Si ibu hanya mampu menangis dan memohon agar anaknya tidak berlaku kasar kepadanya. Dia juga selalu meminta agar tidak terjadi lagi rutinitas perkelahian antar anak-anaknya yang selalu dilihatnya setiap hari.

 

Jika hal itu bisa terjadi pada kita, maka kita harus mencegah agar hal itu tidak terjadi dalam keluarga kita. Setiap keluarga harus berupaya membangun persepsi sesuai situasi di rumahnya masing-masing, bahwa setiap orang harus menghormati orang tua dan yang disebut orang tua dalam keluarga adalah ayah dan ibu. Ayah dan ibu akan saling saling berganti memimpin anak-anak dan tergantung sedang dengan siapa mereka barada. 

Meyakinkan anak-anak bahwa orang tua hanya mendasari kepemimpinannya dengan kasih atas anak-anaknya. Kemudian sejak dari kecil, anak-anak harus diberikan contoh bagaimana hidup saling menghargai dan menghormati orang lain agar masing-masing merasakan arti kehadiran di tengah keluarga.

 

“Menjadikan kita sebagai orang yang dipatuhi bukan hal yang mudah, tapi membangun peraturan tidak bisa dihindari.@Lint
 

 

 

 
 
 

 

BFF#97 - Tuhan-pun Menangis

April 1, 2008 - One Response

Tuhan-pun menangis

Editor : Lintong Simaremare   

Dalam suatu ketika sebuah keluarga harus menghadapi duka cita yang sangat dalam. Si sulung - salah satu anggota keluarga harus pergi meninggalkan anggota keluarga lebih dulu menghadap sang pencipta. Menurut kerabat mereka, keluarga ini sangat dekat dengan Tuhan dan mempunyai kehidupan rohani yang luar biasa.  

Namun, bagaimanapun tingkat kerohanian seseorang, memang tidak mungkin menutupi rasa sedih dimiliki tatkala salah satu anggota keluarga mereka harus meninggalkan mereka, apalagi usianya masih belia. Ibu dari si gadis yang meninggal tersebut nampaknya tidak bisa mengendalikan luapan perasaan yang dimilikinya tentang dalamnya kesedihan atas perginya sang putri yang sangat dicintainya.  

Di tengah keluarga yang sedang berduka, si ibu menangisi keadaaan itu dan dia berkata-kata di tengah anak-anaknya, “Mengapa Tuhan harus mengambil kakakmu padahal dia begitu baik. Bukankah Tuhan tahu bahwa kita juga begitu dekat dengan Tuhan dengan persekutuan kita serta aktivitas kita yang peduli dan membantu orang lain, menyisihkan sebagian harta, memberikan pengharapan pada orang-orang yang lemah? Apakah Tuhan tahu begitu sedihnya tangisku atas kehilangan ini?” 

Namun mujizat-pun terjadi di tengah suasana itu. Si bungsu - anak kecil yang belum sekolah mendekati ibunya yang sedang menangis, dia mengangkat kembali pelajaran tentang salah satu arti hujan bagi kehidupan manusia seperti yang pernah diberikan ibu dan bapaknya. Dia bilang, “Mama, lihat keluar…!, itu gerimis datang…, Tuhan juga menangis seperti mama karena kakak pergi. Tuhan juga sedih ya mama.” 

Mendengar ucapan polos si bungsunya, si ibu-pun berhenti menangis dan mengusap air matanya. Seraya memalingkan pandangannya menerobos kerumuman orang-orang menembus jendela rumahnya, ibu itupun menjadi tersenyum dan berkata, “Ya Tuhan… maafkan aku, air mataMu jauh lebih besar dari airmataku untuk kepergian anakku.”

Kemudian si ibu merangkul ketiga anaknya dan mereka berdoa agar nantinya saat mereka dipanggil telah siap mengisi deretan kursi-kursi surga seperti anak sulung dan ayahnya. Selanjutnya mereka mengiringi keberangkatan si sulung dengan rasa sukacita seolah sedang menunggu giliran ikut dalam tour tamasya ke negeri yang belum pernah dikunjunginya.  

acupoftea1.jpg 

Manusia mungkin punya kesempatan untuk hidup dua kali, walaupun mati hanya sekali.” @Lint (dalam suatu permenungan)

BFF#96 - Memanfaatkan waktu

Maret 31, 2008 - No Responses

Memanfaatkan Waktu

Editor : Lintong Simaremare   

Dalam menghadapi waktu dibutuhkan strategi tersendiri agar kita tidak merasa terkonfrontasi dengnnya. Anda pernah merasa stress?, biasanya itu diakibatkan banyaknya tuntutan yang harus Anda penuhi dalam rentang waktu yang hampir habis. Bukan hanya itu, Anda juga bisa frustasi karena tidak ada cukup waktu untuk mempersiapkan/menyediakan segala sesuatu yang dipersyaratkan untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan     Untuk kedua kondisi di atas, maka strategi memanfaatkan waktu menjadi sesuatu yang sangat penting. Saat ini, persepsi tentang waktu semakin relatif.

Anda akan mengatakan bahwa sejam tidak terasa jika sedang bersama dengan orang yang Anda cintai. Sebaliknya tiga puluh menit terasa begitu lama bahkan serasa lebih dari satu jam tatkala Anda terjebak dalam kendaraan yang padat merayap dalam perjalanan pulang ke rumah. Keberhasilan seseorang dalam menikmati hidup menurut saya erat hubungannya dengan bagaimana dia mengisi waktu dan bagaimana dia mempersepsikan waktu hidup yang dimilikinya.

Banyak orang merasa waktunya berlalu begitu saja tanpa menghasilkan kenikmatan-kenikmatan yang diharapkannya, meskipun dia melakukan banyak kegiatan setiap harinya. Di lain sisi, Anda pasti pernah merasa melakukan sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain dan membahagiakan diri Anda sendiri, meskipun Anda hanya melakukannya dalam waktu yang sangat singkat.   Dari hal di atas, semakin jelaslah apa yang disebut dengan istilah ’memanfaatkan waktu’. Namun pertanyaan selanjutnya adalah, ”Mengapa Anda sering merasa waktu berlalu begitu cepat untuk suatu hal, dan berjalan lambat untuk hal lain?”. Jawabannya adalah karena Anda sering fokus pada waktunya, bukan fokus pada kegiatannya. Mau bukti? Coba lakukan meditasi, doa atau kontemplasi dengan memperhatikan waktu dan pada kesempatan lain lakukan tanpa memperhatikan waktu. Saya jamin bahwa Anda akan bisa melakukannya 2 jam untuk meditasi pertama dan hanya mampu 10 menit untuk meditasi kedua.  Aneh memang, tapi itulah uniknya waktu.

Lama atau tidaknya waktu kita lalui tergantung fokus kita, bukan tergantung berapa banyak pergeseran setiap jarum jam yang akan melewati setiap garis dan angka pada arloji di tangan kita. Intinya adalah jika Anda ingin menikmati waktu hidup ini, berencana dan fokuslah pada kegiatan-kegiatan penting dalam hidup Anda dan nikmatilah kegiatan itu ketika Anda sedang menggunakan waktu (bukan melewatkan waktu) untuknya.

 acupoftea1.jpg

Time is more then money, it’s life.” @Lint