BFF#148 – Hakikat MEMBERI

Hakikat MEMBERI
Oleh : Lintong Simaremare | FB : Bread for Friends
Pada hari pertama pelatihan para calon pemimpin di sebuah komunitas, penyelia meminta para peserta membawa ‘bekal’ sendiri dari rumahnya masing-masing untuk digunakan sebagai makanan santap siang di saat pelatihan. Dengan semangat bangun subuh maka para peserta menyiapkan bekalnya sedemikian rupa terutama dengan gizi yang cukup dan rasa yang layak dan membawanya dengan senang hati ke tempat pelatihan.
Saat istirahat makan siang, layaknya seperta pelatihan para tentara, peserta pelatihan kepemimpinan itupun diminta berbaris sambil memegang bekal masing-masing lalu doa untuk makan siangpun dilakukan. Setelah doa selesai diucapkan, penyelia meminta seluruh peserta bertukar bekal dan memastikan tidak ada satupun diantara peserta yang akan menyantap bekal yang dibawanya sendiri.
Selanjutnya…, (Para sahabat bisa menduga apa yang terjadi di saat makan siang itu berlangsung.)
Terlepas dari apa yang para sahabat bayangkan, mari kita lihat beberapa hal dalam kasus sederhana ini:
1. Ada peserta yang tidak bisa menerima mengapa makanan enak yang telah dipersiapkan bagi dirinya sendiri harus diserahkan ke orang lain tanpa pemberitahuan lebih dulu dari penyelia.
2. Beberapa perserta dengan terpaksa melaksanakan instruksi penyelia dengan rasa dongkol dan marah terselubung.
3. Beberapa peserta ingin belajar lebih jauh tentang maksud dari tindakan yang dengan rela atau terpaksa harus mereka laksanakan dan belum menemukan maknanya.
4. Beberapa diantara mereka menganggap mendapat keuntungan dengan pertukaran makanan itu sebab mendapatkan yang lebih enak dari yang mereka bawa sendiri.
5. Beberapa peserta menganggap itu sebauh permainan yang layak dinikmati.
Intinya banyak diantara mereka yang menyesali, namun banyak yang merasa bersyukur atas pelajaran penting ini.
Demikian juga untuk hari kedua, mereka masih diminta penyelia untuk membawa makanan dari rumahnya masing-masing.
Seperti hari pertama, pada hari kedua, penyelia meminta peserta duduk berbaris untuk persiapan makan siang dan siap dengan bekal yang mereka bawa. Namun sebelumnya penyelia meminta agar peserta memilih pasangannya masing-masing untuk duduk berhadap-hadapan dan setiap bekal berada di hadapan mereka.
Lalu penyelia memimpin doa makan siang dan kemudian meminta agar seluruh peserta tidak menukarkan makanannya namun menikmati makanan yang mereka bawa masing-masing. Setiap pasangan diijinkan untuk saling berbagi dengan pasangan di hadapannya.
Sambil para peserta menikmati makan siangnya, penyelia mengamati kualitas makan siang hari kedua yang lebih buruk dari makan siang hari pertama. Menu-menu yang tidak lengkap serta lauk yang seadanya. Ternyata hanya sedikit diantara mereka yang meningkatkan kualitas makanan dari hari pertama dan mayoritas menyiapkan makanan itu seadanya. Sangat jarang pula yang kedua orang (sepasang) yang berhadapan memiliki makanan yang relatif sama kualitasnya.
Apa yang dapat kita pelajari dari ujian kepemimpinan ini?
1. Banyak orang hanya mengupayakan hal terbaik jika hasilnya untuk diri sendiri dan mengupayakan hal yang biasa saja jika dia tahu hal itu untuk diberikannya kepada orang lain.
2. Banyak orang yang mengkaitkan urusan memberi dan menerima adalah masalah untung dan rugi.
Quote:
“Sedikit orang yang memahami bahwa memberi yang terbaik adalah menyelaraskan diri dengan cara kerja alam yang selalu memberi yang terbaik bagi kehidupan.”
“Orang yang memberi hal terbaik adalah orang yang memahami hakikat manusia yang saling terhubung.”
“Orang yang terbiasa memberi, tidak akan ketakutan dalam melepaskan. Memberi adalah latihan yang berarti di saat kita harus siap untuk kehilangan nyawa kita sendiri.” 
“Tindakan memberi yang terbaik adalah ‘mengalirkan yang terbaik’ dan menjaga pipa berkat berfungsi dengan baik”.
Semoga bermanfaat.
*Lintong Simaremare saat ini sebagai karyawan TELKOM Indonesia aktif sebagai penulis bebrapa buku inspirasi. Bukunya yang menjadi best seller (book of the year 2011 – versi GalangPress) adalah Bread for Friends telah tampil dan direkomendasikan KickAndyShow.
Celotehannya dapat dibaca di:
FB : Bread for Friends
Note: Artikel ini bebas dishare tanpa ijin dari penulis.

BFF#147 – RELATIONSHIP MANAGEMENT BASED ON DALIHAN NA TOLU

RELATIONSHIP MANAGEMENT BASED ON DALIHAN NA TOLU

~ Sebuah pendekatan pengelolaan hubungan bisnis yang diangkat dari filosofi hidup Batak ~

*Oleh : Lintong Simaremare | pengamat nilai-nilai sosial

 Horas ma di hamu sude raja ni hula-hula nami, dison nunga rade be hami sude boru muna.“ (Welcome king of  hula hula, We humbly great & ready to serve you.“).

Dalam adat Batak, kira-kira seperti itulah ucapan yang dikumandangkan seorang juru bicara pihak boru yang menyambut hula-hula yang sudah berada di depan tangga si baganding tua-nya (rumahnya).

Adat  Batak,  dalam  bentuk  apapun  dan  di  daerah  manapun,  serta  dengan tujuan apapun tidak terlepas dari dalihan na tolu. Dalihan na tolu adalah sebuah falsafah  hidup  yang  membawa  suatu  pesan  yang  menginginkan  agar  suatu hubungan  dilakukan  dalam  kemitraan  yang  harmonis  -  yaitu  suatu  hubungan  yang saling memahami  antara satu  elemen  dengan elemen  lain dalam kehidupan sosial.

Salah  satu  bentuk  hubungan  harmonis  yang  didinginkan  adalah  hubungan antara  seseorang  dengan  orang  yang  mempunyai  kepentingan  dengannya, contohnya hubungan dengan  keluarga  istri,  hubungan dengan keluarga menantu serta hubungan dengan saudara-saudara semarga.

Jauh  sebelum  dikenal  istilah  triangle  marketing  yang  berbicara  tentang hubungan  antara  perusahaan  dengan  kastamer,  hubungan  perusahaan dengan karyawan  dan  hubungan  karyawan  dengan  kastamer,  telah  sejak  sekitar  400 tahun  lalu  (asumsi:  saat  ini  keturunan  marga  Batak  sudah  mencapai  20 nomor dengan  masing-masing  selisih  umur  antara  orang  tua  dan  anaknya  sekitar  20 tahun),  adat  Batak  mengenal  dalihan  na  tolu  sebagai  falsafah  hidup  sekaligus sebagai fundamen keseluruhan kegiatan adat.

APA ITU DALIHAN NA TOLU ?

Dalihan  na  tolu  adalah  suatu  filosofi  yang  diambil  dari  gambaran  tolu  dalihan (tumpuan  yang  tiga  -  tiga  batu  penyangga)  yaitu  berupa  tiga  tumpuan  yang seimbang  yang  diletakkan  di  atas  pemukaan  yang  datar  dan  ditata  sedemikian rupa  sehingga  jika  ditarik  garis  yang  menghubungkan  ketiga  titik  tersebut  akan membentuk  segitiga  sama  sisi  dengan  sudut  apit  masing-masing  120  derajat.

Ketiga  batu  tersebut  dimaksudkan  sebagai  penyangga  yang  akan  difungsikan sebagai  tungku  dengan  menggunakan  susunan  kayu  bakar  diantara  masing-masing batu.

Dalihan  na  tolu  secara  harfiah  berarti  tiga  tungku.  Hal  ini  bisa  dianalogikan dengan  tiga  tungku-masak  di  dapur  tempat  menjarangkan  periuk.  Maka  adat Batakpun  mempunyai  tiga  tiang  penopang  dalam  kehidupan,  yaitu  (1)  pihak semarga  (in  group),  (2)  pihak  yang  menerima  istri  (wife  receving  party),  (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20).

Letak  yang  ditata  sedemikian  rupa  dimaksudkan  untuk  menjaga  keseimbangan, dengan tujuan  agar wadah  memasak  berupa  kuali  atau periuk yang  disanggah  di atas tiga batu tersebut tidak akan jatuh saat proses penjerangan/memasak dilakukan.

Berdasarkan penataan dalihan (tumpuan)  di permukaan datar,  maka dalihan na tolu  dapat  diartikan  tolu  sahundulan  (tiga  elemen  duduk  bersama)  dalam ”keseimbangan‘  dan  ”kesatuan‘.  Dapat dibayangkan jika satu bangtu tidakberfungsi maka tidak akan terjadi posisi wadah yang tepat dan kokoh di atas tungku. Keseimbangan  yang  dimaksud  adalah  bahwa  fungsi  dari  ketiga  elemen  tidak  berat  sebelah,  sedangkan  kesatuan  yang  dimaksud  adalah  bahwa  ketiga  elemen  tidak  terpisahkan  dalam artian  harus  ketiganya berfungsi bersamaan.

Sedangkan  dalam  konteks  adat,  salah  satu  contoh,  jika  salah  satu elemen  tidak sepakat  dan  bekerjasama  dalam  suatu  melaksanakan  suatu  acara,  maka  sebuah perhelatan  adat  tidak  layak  dilakukan  atau  tidak  bisa  dipertanggungjawabkan atau  hasilnya  justru  akan  menjadi  pembicaraan  negatif  di  masyarakat  (family bad image).

Dalihan  na  tolu  sebagai  fundamental  keseluruhan  adat  Batak  mengajarkan bagaimana  hubungan  yang  seimbang  dalam  marhula-hula  (marga  istri,  marga ibu,  marga  ibu  dari  ibu,  marga  ibu  dari  ayah  serta  marga  mertua  laki-laki dari putra  kita),  mardongan-tubu  atau  biasa  juga  disebut  dongan  sabutuha  (marga yang sama dengan kita) dan hubungan marboru (marga menantu laki-laki).

Hal  lain  yang  tidak  kalah  menarik  dari  dalihan  na  tolu  bahwa  ketiga  elemen  –  baik hula-hula, dongan  tubu  maupun boru hanya sebuah posisi  yang sementara, dimana  seseorang  bisa  diposisikan  sebagai  hula-huladongan  tubu  atau  boru tergantung pesta adat – perhelatan yang dihadapinya.

Posisi  sementara  yang  dimaksud di atas adalah misalnya  seseorang  bisa  menjadi hula-hula  dalam satu perhelatan tetapi di acara yang  lain posisinya  bisa  menjadi boru  atau  dongan  tubu.  Seseorang  menjadi  hula-hula  jika  yang  mengadakan perhelatan  adalah  marga  dari  menantu  laki-lakinya.  Dia  akan  menjadi  boru  jika yang mengadakan perhelatan adalah marga dari ibunya.

Sedangkan  posisinya  akan  jadi  dongan  tubu  jika  yang  mengadakan  perhelatan adalah  saudara  semarga  dengan  dia.  Sehingga  dapat  diartikan,  Batak, sebagaimana dalam adatnya  tidak mengenal seseorang dengan strata yang abadi – namun menganggap setiap posisi seseorang sangat dependen terhadap situasi.

Lebih jelasnya, ketiga  posisi  dalam  dalihan  na  tolu  disebut  bukan  abadi  atau  bukan  juga  kasta karena setiap orang Batak pada gilirannya akan  mengalami ketiga posisi tersebut tergantung perhelatan yang dihadapinya dan kepentingannya sebagaimana disebut di atas.

Dalam  sebuah  acara  adat,  seorang  dirut  perusahaan  kelas  duniapun  harus  siap bekerja  di  dapur untuk  melayani  keluarga pihak  istri  yang  level posisi hula-hulanya  walaupun kebetulan  orang tersebut hanya seorang  staf  dalam  perusahaan yang kebetulan dipimpin si dirut tadi.  Itulah  realitas  kehidupan sosial  orang  Batak  yang  sesungguhnya.  Dalihan  na  tolu  adalah  falsafah  hidup yang  mengajarkan  demokrasi  dengan  mengedepankan  nilai-nilai  universal  dan sampai  saat ini  masih  satu-satunya fundamen  yang mendasari segala  adat dalam suku Batak.

Posisi  seseorang  sifat dan waktunya  sementara  – bukan kasta,  sebab  dalam dalihan na tolu mengajarkan setiap orang memahami posisinya yang sangat temporer dalam setiap  keadaan,  ada saatnya  dituntut untuk  mampu menjadi  pihak  yang dilayani, pihak  yang  melayani  dan  pihak  yang  mendukung  pelayanan  sesuai  dengan posisisinya yang tergantung pada perhelatan yang dihadapinya.

SIFAT HUBUNGAN ANTAR ELEMEN

Sifat  hubungan  yang diminta dalam  menghadapi ketiga elemen menurut  dalihan na  tolu  berpegang  pada  tiga  kaidah  yang  dipakai  tergantung  pada  elemen  yang dihadapinya.  Ketiga  sifat  itu  adalah  berupa  cara  yang  berbeda-beda  yang penggunaannya disesuaikan tergantung siapa yang dihadapi.

Jika  caranya  berbeda  beda,  maka  ada  tiga  cara  yang  harus  digunakan:  somba marhula -hula  (sifat  menghormati  hula-hula)  dengan  tujuan  mendapat doa restu atas keselamatan  dan  kesejahteraan,  elek  marboru  (sifat  mengayomi  boru)  dengan tujuan  khusus  mendapatkan  berkat atas dukungan boru,  dan  manat  mardongan  tubu  (sifat  berhati-hati dan menghargai dongan tubu) dengan tujuan menghindari perseteruan dalam sebuah kerjasama.

Filosofi untuk  menghadapi  tiga  elemen  dalam  dalihan na tolu ini  relevan  dengan bagaimana  membangun  hubungan  dengan  tiga  elemen  sebagaimana  yang dipesankan dalam ilmu dasar bisnis yang disebut triangle of marketing.

Triangle marketing (segitiga yang ditarik melalui tiga titik) : kastamer, karyawan dan manajemen mengajarkan  bagaimana  seharusnya  hubungan  antara perusahaan  dengan  kastamer, hubungan antara perusahaan dengan karyawan dan hubungan karyawan dengan kastamer dijalankan. Triangle marketing menginginkan ketiga hubungan tersebut berdampak positif terhadap pengelolaan perusahaan  yang  dimulai  dari  pengelolaan  hubungan  yang baik antar Perusahaan, Kastamer dan Karyawan.

Menurut penulis, dalam hal ini penulis juga berlatar belakang pendidikan marketing dan sebagai seorang magister dalam marketing strategik, pesan  dalam dalihan na tolu lebih luas dan lebih dalam dari pengajaran  triangle marketing.  Jika  diteliti  lebih  jauh  tentang  pesan  dalihan  na  tolu,  setiap  orang  yang  semakin  memahaminya, khususnya orang Batak akan semakin  diperkaya  oleh  adanya ilmu dalihan na  tolu  -  sebuah  ilmu  kuno  yang  mungkin  sudah  ada  sebelum  abad  ke-17  dan sangat  layak  dipertimbangkan  untuk  digunakan  dalam  mengelola  perusahaan modern  abad  21  saat  ini.

Hal  lain  yang  menarik  adalah  bahwa  dalihan  na  tolu bukan  berbicara  hubungan  searah  tetapi  hubungan  timbal  balik  antar  setiap elemen di dalamnya dengan segala tindakan antisipatif dan reaktif yang timbul dalam setiap kegiatan yang dilakukan bersama.

Relevansi dalihan na tolu dalam pengelolaan hubungan perusahaan Hubungan  dengan  hula-hula  dapat  diibaratkan  sebagai  hubungan  perusahan dengan pihak-pihak tertentu baik itu internal maupun eksternal.

IMPLEMENTASI ILMU DALIHAN NATOLU DALAM BISNIS

Bentuk  implementasi  dalihan  na  tolu  dalam  manajemen  modern  saat  ini  sangat relevan dengan cara mempersepsikan satu elemen dalam hubungan bisnis sebagai  sebagai  hula-hula  yaitu  raja,  boru,  atau  dongan  tubu.  Jika  manajemen atau  karyawan  menganggap  kastamer  adalah  hula-hula  (raja),  maka  sifat  yang muncul barang tentu adalah rasa hormat dan melayani dengan setulus hati.

Jika  manajemen  menganggap  karyawan  adalah  boru yang  dalam  konteks  adat Batak  bahwa  boru  membantu  menyukseskan  segala  misi  hula-hula,  maka  sifat yang  muncul  dari  manajemen  ke  karyawan  otomatis  adalah  menyayangi, memperhatikan  dan  mengayomi  karyawannya.  Sedangkan  jika  manajemen menganggap  karyawan  atau  karyawan  menganggap  karyawan  lain  sebagai dongan  tubu,  maka  sifat  yang  muncul  adalah  saling  menjaga  perasaan  dan menghargai mitra kerja. (RS; 2007, Milis UkkSU)

KONSEKUENSI PELANGGARAN DALIHAN NA TOLU

Dalihan  na  tolu  bukan  aturan  sekedar  aturan  yang  dibuat  oleh  raja-raja  Batak zaman  dulu tanpa konsep yang jelas dan mendasar.  Sampai  sekarang,  nyata  betul  konsekuensi  jika  falsafah tersebut  tidak  dijalankan.  Sebagai  bukti,  jika  seseorang  melakukan  kesalahan  karena  tidak  somba kepada  hula-hulanya,  maka wajib  hukumnya  boru meminta maaf  dengan  melakukan  tindakan  konsolidatif  berupa  suatu  acara  khusus.

Seseorang (pihak boru) akan menemui hula-hulanya dengan  membawa  makanan  tertentu sebagai lambang yang mempunyai  makna khusus dengan cara penyajian khusus sebagai bentuk rasa hormatnya.  (Catatan: Dulu menggunakan daging babi yang utuh pada masa Batak masih belum mengenal agama sampai masa homogenitas penganut agama Kristen. Saat ini telah disesuaikan agar tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan tertentu).

Tidak  berbeda  dengan  hula-hula  yang melakukan tindakan konsolidatif  menunjukkan  sifat  elek (mengayomi) dengan  menyuguhkan dekke (ikan) sebagai lauk untuk disuguhkan bagi boru-nya.

Demikian juga dengan seseorang yang mengalami konflik serius karena tidak manat menghadapi dongan tubunya, maka forum dongan tubu  yang terdiri  dari saudara  semarganya  akan  mendamaikannya,  atau  jika  tidak  maka  tidak  menutup kemungkinan bahwa hubungan persaudaraan tidak akan harmonis sehingga akan mengganggu segala perhelatan yang mungkin dilakukan di kemudian hari.

Tindakan  recovery  terhadap  atas  perselisihan  baik  antara  hula-hula  dengan boru,  maupun antar dongan tubu tersebut dipastikan akan menyelesaikan segala perkara  yang  pernah  ada  sekaligus  dianggap  bahwa  semua  perselisihan  sudah selesai dan diterima masing-masing pihak dengan status ‘beres‘. Secara adat maka pihak yang telah mendapatkan ‘permintaan maaf’ tadi tidak akan bisa mempersoalkan kesalahan yang telah terjadi sebab secara adat telah dilunasi.

Menurut penulis, hal ini adalah ajaran yang luar biasa tentang penyelesaian perselisihan. Adat Batak ini mencerminkan pemahaman bahwa tidak ada masalah atau perselisihan yang tidak bisa diselesaikan.

Dengan  menggunakan  falsafah  dalihan  na  tolu  dalam  mengelola  hubungan bisnis  saat ini,  maka  jika  perusahaan  mempunyai  kesalahan  terhadap  hula-hula (kastamernya),  misalnya  pada  saat  perusahaan  tidak  memenuhi  service  level agreement  yang  dijanjikannya  maka  dalam  rangka  memperbaiki  hubungan dengan  kastamernya,  sebaiknya  manajemen  atau  karyawan  mengunjungi kastamernya  untuk  meminta  maaf  sekaligus  memberikan  sesuatu  yang  sifatnya kompensatif  agar  terjadi apa yang disebut dengan winning  back  the  customer  heart  (memenangkan kembali hati kastamer).

Demikian  juga  jika  seorang  karyawan  melakukan  kesalahan  terhadap manajemen,  maka  sepantasnyalah  si  karyawan  meminta  maaf  dan  memberikan hasil pekerjaan yang  lebih  baik  lagi ke  depannya  serta manajemen  membuka diri dengan  menyambut  dan  memberikan  petunjuk  yang  bisa  jadi  acuan  perbaikan kinerja berikutnya bagi karyawannya.

Sedangkan  jika  terjadi  konflik  antar  sesama  karyawan,  maka  sepantasnya  ada keterlibatan  karyawan  lain  untuk  mendamaikan  agar  sesama  karyawan  dapat seiring sejalan.

IMPLEMENTASI TIGA SIFAT HUBUNGAN DALIHAN NA TOLU DALAM BISNIS

Tiga  sifat  hubungan  dalam  dalihan  na  tolu  sebagaimana  yang  telah  berulang- ulang dijelaskan sebelumnya  adalah somba; elek dan manat. Ketiga  kata tersebut ternyata  mempunyai  karakter  yang  sangat  dalam  dan  luas.  Ibarat  istilah teknologi  perangkat  lunak,  maka  ketiga  kata tersebut  ibarat  tiga  file  yang  masih  format  zip  dan  sesungguhnya   makna  di  dalamnya  akan  kelihatan jelas dan luas  jika  di-ekstrak (diuraikan) satu persatu.

Secara  singkat  akan  dibahas  makna  di  setiap  sifat  hubungan  tersebut  dan bagaimana  memanfaatkannya  sebagai  ilmu  dalam  mengelola  suatu  hubungan bisnis.

Pertama,  kata ‘somba‘ mengandung  makna  ‘rasa  hormat‘  yang  tinggi  yang didasari  atas  kesadaran  bahwa  seseorang  wajib  dihormati  karena  dia  adalah orang  yang  mempunyai  otoritas  ‘pemberi  restu‘  ;  ‘pemberi  ijin‘  maupun ‘pembuka pintu berkah‘ bagi orang yang menghormatinya. Implementasinya  dalam  hubungan  adat  Batak sedemikian  seriusnya  seseorang  menghadap  hula-hula  dengan  mempersembahkan  sesuatu  yang terbaik.  Mulai  dari  cara  berbicara  dengan  menggunakan  bahasa  yang  paling  sopan (Catatan: Batak mengenal tingkatan bahasa), menyiapkan tempat duduk yang lebih terhormat saat duduk bersama, dan memohon restu secara khusus atas segala sesuatu yang direncanakan.

Rasa  hormat  yang  dimaksud  juga  sangat  terlihat  bagaimana  orang  Batak  selalu mengusahakan  kunjungan ke hula-hulanya pada momen istimewa seperti halnya tahun baru atau hari keagamaan. Bahkan  pada  saat  seorang  orang  Batak  sudah  mencapai  kesejahteraan  dan  kehormatan  tertinggi  sekalipun  (telah  menikahkan  semua  anak-anaknya),  dia  akan  meminta  pengesahan  adat  berupa  hak  mendapat  ulos  dengan  derajat tertinggi  dari  hula-hulanya.    Namun  untuk  memperoleh  ulos  tersebut,  maka  wajib  hukumnya  membuat  suatu  acara  untuk  menunjukkan  rasa  hormatnya dengan  menjamu  dan  menghadiahi  sebagian  dari  kesejahteraan (hartanya) kepada  hula-hulanya.  Jika  acara  itu  belum  dilaksanakan  sampai  akhir  hayat  seseorang,  maka  keturunannya  dianggap  mempunyai  hutang  dan  keturunannya  akan melaksanakannya untuk orangtuanya.

Bentuk  implementasi  somba  tersebut  sangat baik  digunakan dalam  menghadapi kastamer.  Sebuah  perusahaan  perlu  merumuskan  bagaimana  melakukan komunikasi  yang  menempatkan  kastamer  dalam  posisi  yang  lebih  tinggi; bagaimana  membuat  customer  room  yang  nyaman;  meminta  dukungan  dan restu  kastamer  atas  suatu  program  perusahaan;  merumuskan  bentuk penghargaan ke kastamer dan bahkan mengalokasikan sebagian dari keuntungan untuk  bisa  dinikmati  oleh  kastamer.  Sedangkan  pengesahan  kesuksesan seharusnya datang dari kastamer, bukan atas pengakuan perusahaan tersebut.

Kedua,  kata ‘elek‘ mengandung  makna  persuasif  dalam  memimpin  atau mengarahkan  seseorang  untuk  ikut  membantu  mensukseskan  misi  suatu  pihak dalam  adat  Batak.  Karena  pada  prinsipnya  seorang  orang  Batak  menyadari sepenuhnya  bahwa  dia  membutuhkan  bantuan  dari  pihak  lain  (dalam  hal  ini boru) secara khusus, terutama saat pelaksanaan suatu kegiatan.

Sebagai  contoh  dalam  menghadapi  hula-hulanya,  seseorang  akan  mengajak, membujuk,  mengayomi  borunya  agar  membantu  mempersiapkan  segala sesuatunya  agar  pada  saat  menghadap  hula-hula  maka  segala-sesuatunya berjalan  lancar  dan  tidak  mengecewakan  bahkan  harus  membuat  hati  hula-hulanya senang.

Bentuk implementasi elek tersebut dalam manajemen  perusahaan adalah dengan ditunjukkannya  cara-cara  pengelolaan sumber daya  manusia  sebagai  capital  dan bukan  sekedar  aset  perusahaan.  Mulai  dari  memberikan  pengayoman  dalam melaksanakan  berbagai  hal,  mendukung  kreativitas  positif  yang  muncul  sampai menunjukkan penghargaan atas prestasi yang telah ditunjukkannya.

Selain itu  termaktub  juga bahwa manajemen yang lebih condong dilakukan tidak sekedar memberi komando tetapi dititik beratkan kepada peran pemimpin dalam mengajak  karyawannya  memberi  hasil  terbaik.  Perlakuan  itu  akan  membuat karyawan merasa memiliki tanggung jawab memberikan pelayanan yang prima.

Ketiga, kata ‘manat‘ mengandung makna berhati-hati dalam  melangkah,  hal itu terutama  dialamatkan  kepada  orang-orang  terdekat  (saudara)  kita.  Dalihan  na tolu mengisaratkan bahwa kekurang hati-hatian bisa mengakibatkan  perseteruan sehingga hubungan persaudaraan bisa hancur dan berantakan.

Implementasi kata  manat  dapat  dilihat  bagaimana kelompok  orang  Batak selalu membuat  urun  rembug  lebih  dulu  dengan  semua  saudara-saudaranya  untuk mendapat kata sepakat dalam merencanakan sesuatu yang menyangkut adat.

Sedangkan  bentuk  implementasi  manat  tersebut  dalam  manajemen  perusahaan adalah  bagaimana  menunjukkan  sikap  menghargai  sesama  karyawan  maupun sesama  manajemen.  Sikap  saling  menghargai  satu  unit  dengan  unit  lain  dalam suatu  proses  internal  sangat diharapkan  untuk mendapatkan  soliditas  kerja  saat ini.  Tentunya  setiap  unit  dimaksud  menyadari  sepenuhnya  apa  yang  menjadi tanggung jawabnya.

Dapat  dibayangkan  bagaimana  mudahnya  melaksanakan  suatu  program perusahaan  jika  masing-masing  unit  internal  dalam  suatu  perusahaan memberikan kontribusi sesuai dengan tanggung jawabnya sejak dari awal.

SIMPULAN

Dalihan  na  tolu  adalah  falsafah  hidup  orang  Batak  yang  sangat  relevan diterapkan  dalam  hubungan  bermasyarakat  bahkan  di  zaman  sekarang  ini. Dalihan  na  tolu  mengajarkan  sifat-sifat  hormat,  pengayoman  dan  saling menghargai antar beberapa elemen dalam suatu hubungan sosial.

Ketiga  sifat  hubungan  dalam  dalihan  na  tolu  dimaksudkan  bersama-sama memperoleh  kehormatan,  kesejahteraan  dukungan dan  berkat  serta  menghindari  perseteruan.

Pesan-pesan  berupa  makna  yang  terkandung  dalam  dalihan  na  tolu  tersebut dapat ditiru  untuk  dikonversikan dalam mengelola  hubungan  perusahaan  zaman modern  terutama  hubungan  perusahaan  dengan  kastamer,  hubungan manajemen dengan karyawan maupun hubungan kerja antar karyawan.

_________

*Lintong Paluhutan Simaremare, S.T.(Tel), M.M.(Mark)

Lintong bekerja sebagai praktisi di PT TELKOM INDONESIA, Tbk. Selain menjadi karyawan dan penulis buku laris bread for friends (terbitan GalangPress) dan buku pieces of keys aat work (terbitan Kanisius),  Lintong berkarya sebagai pengusaha peduli  sosial  yang  pernah  mendapat  penghargaaan  Wira  Bhakti Nugraha.  Dalam  menjalankan usahanya,  dia  banyak  mempelajari  sifat  suatu  hubungan  melalui interaksi  dalam  membangun  bisnis  di  Jakarta,  Semarang

Info/diskusi lebih lanjut hub:

Mail, blog, web dan jejaring sosial:

Personal Facebook: lintongs@gmail.com 

Bread for friends fan page Facebook : bread for friends

Twitter: bread4indonesia

Bloglink: www.bread4friends.wordpress.com

Videolink: http://www.youtube.com/user/lintongsimaremare 

BFF#146 – Hukuman Mati

HUKUMAN MATI

Sebelum saya berikan pendapat tentang topik yang hangat akhir-akhir ini tentang hukuman mati, ada baiknya kita melihat fata bahwa negara yang tidak menerapkan hukuman mati lebih banyak dari yang tidak menerapkan humuman mati (Data akuratnya dapat dirujuk ke Amnesty Internasional). Hal ini tentunya dapat menyimpulkan bahwa mayoritas manusia menolak hukuman ini sebagai pilihan.

Berbagai opini dan beberapa diantaranya menjadi perdebatan dalam forum bukan saja pertarungan antara keyakinan yang diusung oleh kitab suci berbagai agama, namun juga didasari cara pandang individu dan pengalaman seseorang atas kejadian yang dialaminya, namun juga relevansinya dengan konteks dimana hukuman mati tersebut akan diberlakukan. (Meminjam istilah seorang sahabat saya penulis – Makaarim) 

Maka agar tidak terlalu jauh dengan pengaruh bagaimana saya berpendapat, maka saya pikir saya harus merujuk kepada makna hidup sebenarnya bahwa tidak ada satu manusiapun yang punya hak melakukan putusnya terminasi kehidupan (baca: mematikan seseorang – memisahkan nafas dari seseorang) Justru di sisi lain seorang manusia dapat mendukung perpanjangan hidup sesuai kemampuannya. Hal inilah yang menjadi pola pikir dasar teknologi kedokteran sehingga membedakan mengapa dulu orang sakit lepra saja banyak yang meninggal sedangkan sekarang tidak.

Dalam konteks mengapa seseorang menuntut agar seorang yang bersalah (kasus menghilangkan nyawa dll) dihukum dengan menghilangnya nyawanya juga (hukuman mati), saya pikir didasari oleh ‘keadilan manusiawi’ yang dipahaminya.

Jika kita tarik ke ranah yang lebih dekat ke kehidupan kita sendiri, mampukah kita mengorbankan nyawa kita agar nyawa anak kita terselamatkan? Saya pikir seorang ayah akan mampu (semoga). Lantas apakah itu masuk akal jika kita bawa kepada justifikasi ‘keadilan dunia’ yang kita pahami? Tentu tidak, menurut saya.

Jadi, saya pikir mengupayakan kematian orang adalah ‘tindakan orang yang mengingkari keberadaan Tuhan – pencipta hidup’ dalam dirinya, dan hukuman mati hanyalah bentuk shortcut para ‘pemikir’ yang ‘habis pikir’ dalam mengatasinya.

Demikian, mhn maaf jika perspektif ini kurang dapat diterima.

Salam,

Lintong Simaremare | penulis buku best seller bread for friends | pengamat nilai-nilai sosial

BFF#145 – Malaikat di depan gerobak sampah

Trs terang aq sedih tatkala kehidupan dilevelkan dgn sebuah pekerjaan atau profesi. Seorang kondektur bukan berarti tdk lbh bahagia dr seorang direktur perusahaan.

Malah bisa jg dia lbh sejahtera di rmh dibanding pejabat negara. Terkadang kt mentertawai pemahaman yg dangkal dan mengambil kesimpulan yg salah bahwa profesi adalah level kehidupan. Misalnya kita sebut, “Dasar tukang parkir.” Sy menyebutnya 2X melakukan kesalahan itu namanya.

Guru spritual saya salah satunya adalah tkg sampah yg setiap minggu kami pasti bertemu pagi-pagi di depan rumah. Dia kusebut sbg org yg berhasil dalam hidup.

O yah, guru saya itu pernah berkata bhw dia sll berdoa agar Tuhan memberi kesempatan baginya utk menjadi org terkenal dan berguna bagi banyak org. Aq pikir dia dikenal oleh seluruh warga di daerah kami dan tanpa dia bisa aq pastikan selama seminggu kami akan uring-uringan karena bau tak sedap.

Doa dia jelas dan profesi yg Tuhan percayakan baginya mulia.
Saya menyebutnya, “Malaikat di depan gerobak sampah”.

*Lintong | penulis buku laris bread for friends

BFF#144 – Pengadilan hati

PENGADILAN HATI

Dalam sebuah pengadilan hati, berkatalah malaikat penuntut kepada seorang manusia bumi – seorang istri, “Apakah suamimu membahagianmu?”. Lalu dijawabnya, “TIDAK”.

Pertanyaan yang sama kemudian diberikan kepada suaminya, lalu dijawabnya lebih tegas, “Sama sekali TIDAK, malaikat penuntut !”.

Berikutnya malaikat pembela mengambil kesempatan bertanya, “Coba lupakan orang lain sejenak dari pikiranmu, atau lupakan dunia ini, Apakah engkau bahagia?”.

Lalu spontan kedua manusia itu menjawab serentak, “Ba.. ba.. bahagia”.

Sejenak hening, lalu hakim malaikat berbicara, “Memang seharusnya demikian, bahwa kebahagiaanmu bukan karena orang lain tetapi karena engkau mampu mengerti ada Tuhan dalam hatimu”.

Lalu dilanjutkannya, “Pulanglah.. Berhentilah menuntut orang lain membahagiakanmu, karena kalian diturunkan ke bumi bukan untuk mencari kebahagiaan, tetapi justru membagi-bagikan kebahagiaan yang sudah kami penuhi dari sini sebelum menurunkanmu”.

*by Lintong / Inspirator – Penulis buku laris bread for friends – cerita inspiratif untuk hidup progresif.

BFF#143 – Ketika Tuhan menciptakan wanita

Ketika Tuhan menciptakan wanita.

Malaikat datang & bertanya “ Mengapa begitu lama Tuhan?”

Tuhan menjawab, “Sudahkah kamu lht semua detil yang Aku ciptakan untuknya?” 

“Kedua tangan ini harus bisa selalu dibersihkan, setidaknya terdiri dari 200 bagian yg bisa digerakkan dan berfungsi baik agar dpt mengolah berbagai jenis makanan untuk orang-orang yang dikasihinya.”

Mampu memberikan kenyamanan bagi anak2nya…

Punya pelukan yang menyembuhkan rasa sakit hati dan keterpurukan…

Dan semuanya cukup dilakukan dengan kedua tangan ini… 

Malaikat takjub, “Hanya dengan dua tangan ini…?”

“Tetapi Tuhan, Engkau membuatnya begitu halus dan lembut”

“Ya.. Aku membuatnya begitu lembut. Tapi kamu belum bisa bayangkan kekuatan yg Aku berikan di dalam kelembutannya agar ia bisa mengatasi banyak hal yang luar biasa.”

“Apakah dia bisa berpikir?” tanya malaikat

Tuhan menjawab “Tidak hanya berpikir, dia juga mampu bernegosiasi dan mengutarakan pendapatnya.” 

Malaikat itu menyentuh dagunya..

“Tuhan, Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh, seolah banyak sekali beban untuknya.” 

“Itu bukan kerapuhan, itu air mata.”. “Aku berikan kepadanya supaya dia bisa mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan rasa bangga.”

“Engkau memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMu ini sungguh menakjubkan!” 

“Ya..Harus! Wanita ini mempunyai kekuatan utk mempesona laki-laki…”

“Dia dpt mengatasi beban hidup, mampu menyimpan kebahagiaan & pendapatnya sendiri…”

“Mampu tersenyum bahkan ketika hatinya menjerit…”

“Mampu tertawa saat hatinya menangis…”

“Dia bisa berkorban demi orang-orang yg dikasihinya…”

“Dia bisa melawan ketidakadilan…”

“Dia bersorak saat melihat kawannya bahagia…”

“Hatinya terluka saat melihat kesedihan…”

“Dia tahu sebuah ciuman&pelukan dapat menyembuhkan luka…”

“CINTANYA TANPA SYARAT!” 

Semuanya nampaknya kelebihan yang luar biasa, Malaikat sangat kagum, lalu bertanya, “Lalu apa kekurangannya Tuhan?”

Tuhan menjwb ”Hanya satu hal..”
“Dia terkadang lupa BETAPA BERHARGANYA DIA…”

By: Lintong (Bread for Friends) / diinterpretasikan tahun 2005.

Tulisan ini sdh dibaca jutaan orang di internet dan diterjemahkan bebas ke banyak bahasa.

BFF#142 – Kebaikan

~Kebaikan
Inspirasi dari penulis buku bread for friends.

Kebaikan itu tanpa rasa,
Sekaligus tanpa tendensi.
Kebaikan itu polos tanpa warna
dan tdk berbangga diri karena tanpa mahkota.

Kebaikan itu ada bukan untuk dipakai agar seseorang dianggap baik.
Kebaikan itu adalah kebaikan.
Dia selalu berdiri sendiri,
Dalam dunia yang punya hati, kebaikan akan tetap bergerak, tanpa menyetujui dan minta disetujui.

Lalu bgm sikap seorang pembaik yg tdk diterima org lain?
Kebaikan itu tetap baik dimanapun dan bagi siapapun.
Kalaupun kebaikan dipersepsi lain, masalahnya bukan kebaikannya yg perlu dipertanyakan, namun justru cara memandangnya yg perlu dikoreksi.

Menyikapi hal kebaikan tdk diterima sebagian org, maka dibutuhkan kesabaran dan pendekatan yg lbh, serta komunikasi dan saling berbagi makna spt yg kt lakukan saat ini berkampanye kebaikan.

Masih ttg kebaikan, kata teman saya, “Kebaikan adalah sesuatu yg dilakukan dgn tulus dan bukan sesuatu utk ditampilkan agar terlihat, sprti semut hitam berjalan di atas batu hitam di malam gelap”.

Saya pikir kalau ada sekelompok orang berniat dan bertindak kebaikan
berarti mereka sedang berada pada perahu dan pelayaran yang sama.
Mengarungi samudera menuju ujung yang tidak terlihat dengan kasat mata.
Hanya mata hati dan jiwa mereka yang mampu menjangkaunya.

Semoga bermanfaat
*Bergabung dgn bread for friends di FB untuk mendapatkan inspirasi lainnya.

BFF#141 – Ikan Bijak

IKAN BIJAK
-inspirasi dari penulis buku laris ‘bread for friends’-

Seekor ikan ditakdirkan memiliki sepasang mata yg letaknya di dua sisi yang berbeda.

Saat kedua mata itu melihat bersamaan, maka satu mata akan melihat pemandangan yang benar2 berbeda dgn apa yg dilihat oleh mata yg lain.

Seekor ikan yg bijak tidak akan memihak pandangan mata mana yg benar dan mata mana yg salah, namun akan membawa kedua mata itu utk diletakkan di depan bersamaan sbgm mata manusia.

Jika kita asumsikan ikan tdk berpikir spt manusia, maka ‘diletakkan bersamaan’ dlm hal ini artinya secara naluriah ikan menyamakan pandangan secepat mungkin.

Menghilangkan perbedaan pendapatnya ttg ‘memandang sesuatu’; menyamakan pendapatnya bahwa yg dilihat berbeda adalah ‘lingkungan kehidupan yg sama’.

Ikan bijak itu.., dalam istilah manusia dsebut ‘mengalami pencerahan’. Pencerahan itu pula yg sll dibutuhkan dalam bergerak maju, menghindari bahaya, dan menjalani hdp kesehariaannya.

Seperti bermeditasi, maka berlatih selalu mengalami pencerahan setiap saat akan memampukan kita mempunyai perspektif yg sama ttg hidup, yg kt butuhkan sepanjang waktu, yaitu: Kedamaian batin ttg segala sesuatu yg kt saksikan dan alami shg nyata benar bhw HIDUP INI INDAH utk dijalani.

Selamat berbahagia sobats.
*bread for friends
(Bergabung dengan bread for friends di FB utk mndptkan banyak inspirasi dari penulis buku bread for friends).

BFF#140 – Cap Go Meh, sebuah kekayaan bernilai budaya

Cap Go Meh, sebuah kekayaan bernilai budaya

Oleh : Lintong Simaremare*

Hari ke-15 tahun baru Cina disebut dengan Cap Go Meh [dialek Hokkian]. Cap Go Meh adalah salah satu perayaan budaya yang terbesar di Negara-negara yang penduduknya terdapat komunitas Tionghoa di luar Cina. Perayaan budaya ini tidak tersembunyi lagi namun telah diijinkan pemerintah  untuk memberikan ruang terhadap keaneka ragaman budaya Indonesia sejak Gus Dur sebagai presiden.

Cap Go Meh yang secara diartikan sebagai hari ke-15 bulan pertama Imlek (tahun baru Cina). Pada hari ke-15 dianggap sebagai  bulan penuh yang pertama dalam Tahun Baru tersebut. Untuk Indoensia maka Cap Go Meh akan dirayakan pada puncaknya tanggal 17 Februari 2011 malam hari (Cap Go Meh tahun 2562).

Perayaan Cap Go Meh di berbagai daerah

Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, perayaan Cap Go Meh biasanya ditandai dengan banyak kegiatan yang mengundang minat muda-mudi dan wisatawan di banyak negara. Imlek yang pada puncaknya adalah perayaan Cap Go Meh ini identik dengan lampion dan lampu-lampu berwarna merah sebagaimana yang sering kita temukan di restoran Cina di Indonesia sejak tanggal 3 Februari lalu.

Di Malaysia, perayaan Cap Go Meh dimanfaatkan sebagian besar muda-mudi Tionghoa sebagai waktu sembahyang memohon pendamping. Hal itu ditandai dengan melemparkan jeruk ke laut layaknya adegan ‘make a wish’ memohon sesuatu saat bintang jatuh.

Komunitas Tionghoa Taiwan adalah penduduk yang sangat serius dalam melakukan persiapan perayaan Cap Go Meh. Tahun ini di Taiwan dapat ditemukan pesta kembang api dan festifal lampion yang sudah dilakukan sejak hari pertama tahun 2562 Cina.

Di Indonesia – khususnya di singkawang yang dikenal dengan kota seribu kuil, perayaan Cap Goh Meh biasanya ditandai dengan arak-arakan para tatung menuju vihara atau klenteng. Tatung sendiri adalah dukun atau loya yang dipercaya bisa membersihkan kota dan membekali diri dari segala marabahaya. Pembersihan kota ini dianggap sebagai upaya mempersiapkan diri yang berarti juga merupakan harapan tahun rezeki berlimpah, urusan lancar di tahun yang baru.

Perayaan Cap Go Meh di singkawang – Kalbar, setiap tahunnya pasti dimeriahkan oleh ratusan tatung. Tatung selalu dinanti-natikan warga dan wisatawan dalam setiap perayaan Cap Go Meh.

Para Tatung akan berkumpul untuk melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan. Perjalanan para Tatung dengan menggunakan kostum warna warni ditandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang, biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga. Semakin bisa naik ke atas maka artinya semakin kuat juga ilmu tatung tersebut.

Para Tatung tidak hanya berasal dari kalangan Tionghoa, namun juga dari suku lain seperti Dayak atau Jawa, meski Cap Go Meh adalah perayaan masyarakat Tionghoa. Ini adalah pertanda kentalnya pembauran yang seharusnya menjadi contoh di seluruh daerah heterogen di Indonesia.

Sedangkan perayaan Cap go Meh di Makassar, sudah menjadi kalender rutin. Pada hari perayaan Cap Go Meh, daerah pecinaan kota Makassar akan ditutup untuk kendaraan sejak pukul 10.00 WITA pagi, namun prosesi perarakan Cap Go Meh atau yang biasa disebut Karnival Budaya Nusantara akan dimulai pukul 14.00 WITA dengan dilepaskannya puluhan ekor burung oleh Walikotamadya Makassar.  Pelepasan burung diartikan sebagai lambing upaya mengembalikan mahluk pada kebebasannya, pada habitatnya.

Setelah itu, Perarakan Cap Go Meh telah dimulai diawali dengan rombongan Bhineka Tunggal Ika yang antara lain terdiri atas berbagai tokoh agama dan masyarakat serta juga diikuti oleh para Dara dan Daeng Makassar, lalu Kelenteng Kwang Kong, masyarakat Kajang dari Bulukumba, Vihara Dharma Loka, kelompok adat Aluk Tudolo dari Tana Toraja, Kelenteng Xian Ma, kelompok adat Kabupaten Bone, Kelenteng Pan Ku Ong dari Galesong Kabupaten Takalar, Vihara Dharma Agung, Komunitas Bissu dari Segeri, Kabupaten Pangkep, Mapanbumi, Kelompok Adat Mappasili Pallawa serta Vihara Girinaga. Di barisan terakhir ditutup oleh Yayasan Budha Tzu Chi yang antara lain membersihkan sampah yang memenuhi sepanjang jalan yang dilalui rombongan prosesi tersebut.

Hampir setiap klenteng mengarak dewa dan dewi. Seperti Klenteng Kwan Kong yang mengarak Dewa Kwan Kong sebagai dewa perang dan dewi Kwan Im sebagai pembawa cinta kasih. Vihara Dharma Loka mengarak Dewa Cho Sua Kong atau dewa pengobatan, dan Klenteng Xian Ma yang membawa Dewi Xian Ma. Karnival ini berakhir sekitar pukul 16.30 WITA.

Sebagai akhir dari perayaan Tahun Baru Imlek di Makssar, pada hari yang sama pukul 19.00 diadakannya Pasar Malam yang menyediakan kurang lebih 50 stan yang menyediakan dan menjual berbagai macam makanan, minuman, hingga produk-produk-produk seperti kembang api, asuransi, dll.

Kemudian ada juga kegiatan yang dilakukan sepanjang jalan Sulawesi, mulai dari perempatan jalan Sangir hingga ke ujung Jalan Ahmad Yani, ditutup untuk kendaraan sehingga para pejalan kaki leluasa, baik untuk melakukan ibadah persembahan kepada para Dewa di Klenteng-Klenteng yang ada di sepanjang jalan tersebut (Kelenteng Locia – di perempatan Jalan Serui dan Sulawesi, Kelenteng Xian Ma – di pertigaan jalan Bali dan Sulawesi serta Kelenteng Kwang Kong) maupun sekedar untuk menikmati malam penutupan Tahun Baru Imlek tersebut. Tidak hanya itu, tetapi juga ada tiga panggung hiburan yang disiapkan yang diisi dengan aneka hiburan, baik tarian maupun aneka musik lainnya. Acara ini berakhir pukul 24.00.

Selamat Imlek 2562 bagi para saudaraku etnis Tionghoa.

Selamat merayakan Cap Go meh, semoga setiap tahun menjadi tahun berkat bagi kita semuanya.

Lintong Simaremare,

*Penulis buku Bread for Friends & pemerhati nilai-nilai sosial kemanusiaan

Sumber tulisan: berbagai liputan, referensi online dan wawancara.

BFF#139 – Pengunduran diri Husni Mubarak, lebih dari suksesi pemerintahan

Pengunduran diri Husni Mubarak, lebih dari suksesi pemerintahan

Oleh : Lintong Simaremare – Penulis buku Bread for Friends / Pengamat nilai-nilai sosial kemanusiaan.

Note: Tulisan ini telah dimuat di detikcom tanggal 17 Feb 2011.

Gerakan yang ditandai dengan demostrasi ‘sejuta’ rakyat Mesir di alun-alun Tahrir Square Cairo Mesir selama 18 hari telah berakhir. Demostrasi yang dimulai dengan seruan  reformasi hak azasi dan demokrasi atas kepemimpinan diktator presiden Husni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun penuh sejak tahun 1981 tersebut telah membuahkan hasil yang menggembirakan rakyat Mesir dengan pengunduran diri Husni Mubarak tanggal 11 Februari 2011.

Sehari sebelumnya (10/02) Husni berusaha memberikan janji baru pemerintahannya tentang sebuah komitmen perubahan di negeri berpenduduk 81 juta jiwa itu, namun rakyat Mesir nampaknya sudah tidak percaya lagi dengan presidennya yang telah mengendalikan Mesir setelah tewasnya Anwar al-Sadat 30 tahun silam.

Dalam hubungannya dengan dinamisasi sosial, ada beberapa hal menarik yang dapat kita jadikan pelajaran dari peristiwa demokrasi di negerinya Cleopatra dan berdirinya pyramid yang sangat terkenal itu. Antara lain:

Pertama, Gerakan massa saat ini sudah semakin mudah diorganisir dan mendapat pengaruh yang cepat dari belahan dunia lain seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya gerakan massa yang sebelumnya terjadi di Tunisia menggulingkan presidennya. Selain itu dapat pula kita saksikan gerakan yang mulai merembet ke Yaman dan Iran serta  ada potensi ke Negara lain terutama Negara tetangga setelah keberhasilan rakyat Mesir menggulingkan presidennya.

Boleh dikatakan bahwa masyarakat dunia yang lebih berpengaruh saat ini adalah masyarakat online. Hal itu lebih diperkuat lagi dengan kecepatan pemberitaan media audio visual. Kecenderungan manusia online lebih dinamis dibanding manusia offline. Sedangkan upaya dalam melakukan internalisasi dan ekternalisasi kegiatannyapun, manusia online jauh lebih efektif dibanding manusia offline. Itu pula yang membuat betapa mencengangkannya bagi dunia bahwa begitu banyak kesuksesan gerakan-gerakan dengan memanfaatkan jejaring sosial yang merambat kemana-mana. Hal itu telah dibuktikan Obama sejak menjadi sebagai senator sampai menduduki kursi nomor satu di Amerika Serikat.

Kedua, Rakyat Mesir yang bergerak diwakili oleh penduduk Cairo (tidak lebih dari 10 % dari penduduk Mesir) berhasil mengangkat issue penting dunia yang disebut dengan reformasi hak azasi dan demokrasi.  Para demonstran menuntut mundurnya presiden yang dianggap tidak peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan: Mementingkan kesejahteraan diri sendiri; Tidak menerima perbedaan pendapat dan selalu melemahkan serta berupaya melenyapkan oposisi.

Pergerakan yang dilakukan di alun-alun Tahrir Square di kota Cairo – kota termasyur yang ditemukan tahun 969 ini, selain adanya beberpa kepentingan dunia di mesir,  otomatis mendapat perhatian dunia dan menjadi sorotan seluruh media selama 3 pekan. Alhasil banyak pemimpin dunia bahkan presiden AS serta sekjen PBB meminta agar Husni Mubarak memperhatikan keinginan rakyatnya untuk pengunduran dirinya.

Walaupun tidak sama persis dengan latar belakang kejadian demonstrasi mahasiswa di Indonesia yang berhasil menggulingkan presiden Soeharto yang dikenal sebagai bapak pembangunan itu, namun kepemimpinan yang terlalu lama memang cenderung menciptakan status quo pemerintahan yang berimplikasi kepada gersangnya perubahan yang dilakukan kepada rakyat banyak. Dan lebih berbahayanya lagi, sangat dimungkinkan terjadi jaringan kenyamanan pemerintah berkuasa yang terlanjur berakar ke semua lini. Alhasil akan mudahlah terjadi kediktatoran dan kesewenang-wenangan pimpinan tertinggi.

Apapun namanya perjuangan mereka, namun Rakyat Mesir telah berhasil membuka mata dunia bahwa saat ini adalah era kepemimpinan berdasarkan kemauan rakyat. Dan bagi pemimpin yang tidak peka terhadap keinginan rakyatnya tentunya harus siap-siap untuk lengser dari haegomoninya atau jika tidak harus berhadapan dengan kuatnya oposisi yang selalu bergabung dengan mayoritas rakyat yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan dalam sebuah era tertentu.

Selain itu, peminpin yang secara mayoritas dipilih oleh rakyatnya pada awalnya, maka dalam perjalanannya harus membuktikan kapabilitas kepemimpinannya. Sebab rakyat semakin cerdas disebabkan semakin mudah mengakses informasi yang bermanfaat maka dengan mudah pula mengawasi kinerja pemimpin – pemimpin yang telah dipilihnya dan tidak segan-segan pula mengkritisi pemimpin dengan berbagai cara yang semakin terbuka.

Sisi lain yang perlu dijadikan pelajaran adalah bahwa sangat disayangkan segala kenyamanan dan kekuasaan selama 30 tahun akhirnya menjadi sebuah kebanggaan yang tak berarti bagi banyak orang pada akhirnya. Hal itu masih baik dibanding sebuah upaya rakyatnya yang mungkin untuk menuntut hal-hal yang lebih ekstim seperti penarikan kekayaan dari pemimpinnya yang dianggap korup selama masa kepemimpinannya.

Saat ini semakin nyata bahwa kepemimpinan itu adalah ujian. Ketika kepemimpinan itu menyejahterakan rakyat banyak, maka pemimpn akan merasakan kenikmatan di masa-masa purna baktinya, namun  ketika kepemimpinan itu dijadikan sebuah kesempatan untuk menarik manfaat pribadi, maka pengadilan rakyat-pun tidak akan terhindarkan olehnya.

Demo Tahrir Square yang menghasilkan pengunduruan diri Husni Mubarak, lebih dari sebuah suksesi pemerintahan, namun sebuah kerinduan akan perubahan.

Orang bijak berkata, “Keberhasilan kepemimpinanmu dilihat bukan dari apa yang engkau dapatkan namun dari warisan terbaik yang engkau tinggalkan.”

Demikian, semoga bermanfaat.

Lintong Simaremare

*penulis berdomisili di Semarang – Jawa tengah / e-mail/facebook : lintongs@gmail.com